Beranda

Jemari Sima: Fragmen Keadilan di Tanah Ho-ling

Jemari Sima: Fragmen Keadilan di Tanah Ho-ling
Ilustrasi Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Ho-Ling (io)

Menelusuri jejak Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga. Sebuah potret tentang ketegasan hukum, spiritualitas Buddha di Jawa abad ke-7, dan bagaimana seorang perempuan mengukir martabat bangsa di mata dunia.

INDONESIAONLINE – Di sebuah persimpangan jalan di Jawa bagian tengah, matahari abad ketujuh menggantung rendah, menyepuh debu-debu yang beterbangan dengan warna tembaga. Di sana, sebuah pundi-pundi berisi emas tergeletak begitu saja. Ia bukan sekadar benda yang tertinggal; ia adalah sebuah umpan, sebuah ujian, sekaligus sebuah monumen kesunyian.

Berbulan-bulan, bahkan hingga tiga kali musim berganti, kantong itu tetap di sana. Tak ada tangan yang menjamah. Tak ada jemari yang gatal oleh godaan kilau logam. Rakyat melintas dengan pandangan lurus, seolah-olah menyentuh kantong itu berarti menyentuh maut itu sendiri.

Keamanan di Kerajaan Ho-ling bukan dibangun oleh pagar besi, melainkan oleh bayang-bayang seorang perempuan yang namanya diucapkan dengan nada getar antara takzim dan ngeri: Ratu Sima.

Sima bukanlah penguasa yang hanya duduk di atas balai-balai gading. Ia adalah hukum yang bernapas.

Ujian dari Negeri Jauh

Jauh di seberang lautan, di negeri antah berantah yang disebut Da-zi dalam catatan kuno, seorang raja merasa sangsi. Baginya, kejujuran adalah dongeng, dan ketegasan adalah mitos yang dilebih-lebihkan.

Maka, ia mengirimkan tas uang itu ke perbatasan Ho-ling sebagai provokasi sunyi. Namun, waktu membuktikan bahwa di bawah langit Sima, moralitas bukan sekadar imbauan moral, melainkan struktur tulang punggung negara.

Tragedi—atau mungkin pemurnian—justru datang dari dalam istana. Pangeran Mahkota, sang pewaris darah Sima, dalam satu langkah ceroboh yang tak sengaja, menyentuh kantong itu dengan ujung kakinya. Kabar itu sampai ke telinga sang Ratu bukan sebagai laporan keluarga, melainkan sebagai dakwaan hukum.

“Kesalahanmu terletak di kakimu,” ucap Sima, suaranya mungkin sedingin air gua garam di wilayah kekuasaannya.

Ia menuntut nyawa putranya sendiri sebagai tebusan atas hukum yang dilanggar. Namun, sejarah mencatat sebuah kompromi yang pedih. Para menteri bersujud, memohon agar cinta seorang ibu mengalahkan kekakuan sang hakim.

Akhirnya, sang Ratu memilih jalan tengah yang tetap menyisakan luka: ia memotong ibu jari kaki sang pangeran. Sebuah peringatan fisik bahwa di Ho-ling, tak ada daging yang terlalu suci untuk dipangkas jika ia berkhianat pada kebenaran.

Ho-ling: Antara Garam dan Gading

Siapakah sebenarnya Sima? Catatan dari Dinasti Tang (618-907 M) menggambarkan Ho-ling sebagai negeri yang eksotis sekaligus teratur. Namanya sering kali bertukar dengan She-po atau Jawa.

W.P. Groeneveldt, dalam studinya Nusantara dalam Catatan Tionghoa, membedah dua versi narasi Dinasti Tang yang menempatkan Ho-ling di sebuah pulau di samudra selatan, diapit oleh Sumatra di barat dan Bali di timur.

Di sana, di jantung Jawa Tengah yang lembap dan subur, penduduknya membangun peradaban dari kayu dan daun palem. Mereka makan dengan jari-jari tangan, namun otak mereka telah memetakan bintang-bintang di langit melalui ilmu astronomi yang mumpuni.

Sang Raja—atau dalam hal ini, sang Ratu—bertahta di kota bernama Java (Ja-pa), dikelilingi oleh 32 menteri tinggi dan membawahi 28 negara kecil.

Arkeolog Agus Aris Munandar dalam bukunya Kaladesa: Awal Sejarah Nusantara, mengingatkan kita bahwa pada periode ini, sejarah kita adalah sejarah yang “dititipkan” pada catatan asing. Para duta dari kepulauan selatan membawa upeti ke Tiongkok, membawa serta kisah-kisah tentang sebuah kerajaan yang kaya akan emas, perak, dan penyu.

Namun, kekayaan terbesar Ho-ling bukanlah komoditasnya, melainkan tatanan sosialnya yang kukuh.

Denyut Buddha di Tanah Jawa

Sima bukan sekadar simbol hukum yang kaku. Di masa pemerintahannya, Ho-ling adalah oase spiritualitas. Jauh sebelum Borobudur berdiri, gema sutra-sutra Buddha sudah terdengar di antara rimbun pohon-pohon tropis.

Catatan Tripittaka menyebutkan keberadaan Gunawarman, biksu dari Kashmir yang sempat singgah di Jawa pada abad ke-5. Namun, puncaknya terjadi di abad ke-7, masa di mana Sima mungkin tengah berkuasa.

Seorang pendeta Tiongkok bernama Hui-ning datang jauh-jauh dari negerinya untuk belajar di Ho-ling selama tiga tahun (664-667 M). Ia berguru pada Jnanabhadra, seorang biksu Jawa yang kecerdasannya diakui hingga ke daratan Tiongkok.

I-Tsing, pengelana agung dari Tiongkok, juga mencatat Ho-ling sebagai pusat pendidikan agama Buddha Hinayana yang disegani. Ini menunjukkan bahwa di bawah kepemimpinan seorang perempuan, intelektualitas dan spiritualitas tumbuh beriringan dengan ketegasan hukum.

Setelah abad ke-9, nama Ho-ling perlahan memudar dari catatan sejarah. Seperti asap kemenyan yang tertiup angin laut, keberadaannya menyublim ke dalam entitas baru.

Agus Aris Munandar menduga bahwa keluarga Kerajaan Ho-ling mungkin bersatu dengan Wangsa Sailendra, atau bahkan mungkin merupakan leluhur langsung dari mereka yang kemudian membangun monumen-monumen megah di tanah Jawa.

Namun, sosok Sima tetap berdiri tegak sebagai figur sentral. Ia adalah anomali yang indah dalam sejarah yang kerap didominasi maskulinitas. Sima adalah bukti bahwa otoritas tidak selalu berarti kekerasan, melainkan konsistensi.

Kini, jika kita membayangkan kembali sosoknya, kita mungkin melihat seorang perempuan yang berdiri di pegunungan Distrik Lang-bi-ya, memandang lautan luas dengan mata yang tenang. Ia tidak hanya memerintah rakyatnya; ia mendidik moralitas mereka melalui tindakan.

Seperti kata Groeneveldt, berkat Sima, Jawa mendapatkan reputasinya yang pertama di panggung dunia: sebagai negeri yang kuat, terorganisasi, dan memiliki kebudayaan yang luhur. Sima telah mengubah sepotong ibu jari menjadi sebuah legenda abadi tentang apa artinya menjadi adil.

Referensi:

  1. Munandar, Agus Aris. (2017). Kaladesa: Awal Sejarah Nusantara. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. (Menjelaskan transisi sejarah awal Nusantara dan sumber-sumber Tiongkok).
  2. Groeneveldt, W.P. (2009). Nusantara dalam Catatan Tionghoa (Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources). Jakarta: Komunitas Bambu. (Sumber utama mengenai Catatan Dinasti Tang terkait Ho-ling).
  3. Coedes, George. (1968). The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press. (Konteks regional kerajaan-kerajaan awal di Asia Tenggara).
  4. I-Tsing. (691 M). A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago. (Catatan primer mengenai kondisi keagamaan di Nusantara abad ke-7).
  5. Hsin T’ang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang). Kitab sejarah Tiongkok klasik yang mencatat detail kehidupan sosial dan politik di Ho-ling/She-po.
Exit mobile version