Herdman rombak mental Timnas Indonesia pasca-gagal 2026. Filosofi ‘pionir’ jadi kunci tembus Olimpiade & Piala Dunia, bukan sekadar urusan taktik.
INDONESIAONLINE – Sepak bola modern sering kali terjebak dalam angka-angka statistik: persentase penguasaan bola, angka xG (expected goals), atau formasi taktis yang rumit. Namun, bagi John Herdman, arsitek baru yang menakhodai Timnas Indonesia, angka-angka tersebut hanyalah kerangka kosong tanpa nyawa jika tidak digerakkan oleh satu hal fundamental: mentalitas.
Pasca-kegagalan pahit Timnas Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2026, Herdman datang tidak dengan janji perombakan formasi instan, melainkan dengan sebuah diagnosis psikologis yang tajam. Pelatih kelahiran Consett, Inggris, 19 Juli 1975 ini menegaskan bahwa untuk mengubah hasil di papan skor, Indonesia harus terlebih dahulu mengubah apa yang terjadi di dalam kepala para pemainnya. Ia menyebutnya sebagai “Mindset Pionir” atau mentalitas perintis.
Membangun Ulang Ruang Ganti
Dalam wawancara mendalam yang dilansir kanal YouTube Timnas Indonesia, Herdman menggarisbawahi bahwa pendekatan taktik di lapangan hijau adalah langkah sekunder. Langkah primernya adalah pembenahan “ruang ganti”—sebuah metafora untuk kohesi tim, kepercayaan diri, dan visi kolektif.
“Saya pikir, sebagai titik awal, itu adalah mindset pionir. Saya pikir kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi yang pertama dalam sesuatu,” ujar Herdman.
Filosofi ini bukan retorika kosong. Herdman memiliki rekam jejak valid dalam mengubah tim “biasa” menjadi “pionir”. Data sejarah mencatat, sebelum Herdman mengambil alih Timnas Pria Kanada pada 2018, negara tersebut hanyalah tim pelengkap di zona CONCACAF.
Namun, dengan pendekatan psikologis yang sama, ia berhasil membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar—mengakhiri penantian panjang selama 36 tahun sejak 1986. Sebelumnya, di sektor putri, ia membawa Timnas Wanita Kanada meraih medali perunggu Olimpiade dua kali berturut-turut (2012 dan 2016).
Herdman ingin menyuntikkan DNA keberhasilan tersebut ke dalam tubuh Skuad Garuda. Ia melihat adanya trauma kolektif atau rasa rendah diri yang kerap menghantui tim-tim Asia Tenggara saat berhadapan dengan raksasa Asia atau Eropa.
Melawan Arus: Dari Trauma Menjadi Motivasi
Kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Indonesia sempat berjuang di ronde keempat melawan tim-tim kuat seperti Arab Saudi, meninggalkan bekas luka. Namun, Herdman melihat ini sebagai tanah subur untuk menanamkan doktrin barunya.
Menurut Herdman, manusia secara naluriah memiliki dorongan evolusioner untuk menjadi yang pertama. Masalahnya, banyak pemain terjebak dalam zona nyaman atau fixed mindset—melakukan hal yang sama berulang kali namun mengharapkan hasil berbeda.
“Pola pikir pionir ini dalam menembus batas baru telah sangat membantu saya karena secara alami manusia ingin menjadi yang pertama dalam hal-hal tertentu. Mereka ingin menjadi pionir, tetapi terjebak dalam pola pikir melakukan hal-hal yang sama berulang kali,” jelasnya.
Herdman menantang Rizky Ridho dan kawan-kawan untuk melihat sejarah bukan sebagai beban, tetapi sebagai kanvas kosong. Ia ingin pemain menanamkan ambisi personal yang spesifik: “Menjadi yang pertama di keluarga Anda yang meraih Piala Dunia. Atau lolos ke Olimpiade.”
Narasi “nama keluarga” ini adalah teknik psikologi olahraga untuk mengikat motivasi intrinsik pemain dengan identitas pribadi mereka, yang jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi pelatih.
Visi Jangka Panjang: Olimpiade dan Raksasa Dunia
Visi Herdman melampaui sekadar memenangkan Piala AFF atau bersaing di level Asia Tenggara. Ia secara eksplisit menyebut target-target yang terdengar ambisius, bahkan mungkin mustahil bagi sebagian orang skeptis: Olimpiade dan mengalahkan tim sekelas Jepang atau Amerika Serikat.
“Menjadi orang pertama yang meraih medali berturut-turut di Olimpiade. Menjadi orang pertama yang mengalahkan Amerika Serikat, menjadi orang pertama di Indonesia yang mengalahkan Jepang, mengalahkan lawan Eropa, dan lolos ke Piala Dunia,” tegas Herdman.
Pernyataan ini mengubah paradigma target Timnas Indonesia. Jika sebelumnya target seringkali bersifat abstrak seperti “bermain bagus”, Herdman menetapkan tonggak sejarah (milestone) yang konkret. Mengalahkan Jepang—raksasa Asia yang selama ini menjadi momok—bukan lagi sekadar impian, melainkan target kerja.
Namun, Herdman juga seorang realis. Ia menyadari bahwa transformasi mental tidak terjadi dalam semalam. Di tengah budaya sepak bola Indonesia yang seringkali menuntut hasil instan dan tidak sabaran, Herdman meminta waktu untuk proses re-engineering mental ini.
“Kemudian saya proyeksikan hal itu kepada orang-orang yang saya bawa bersama, baik itu pemain maupun staf,” ujarnya, menekankan bahwa visi ini harus dihidupi oleh seluruh ekosistem tim, bukan hanya 11 pemain di lapangan.
Analisis dari media Inggris yang menyoroti perbedaan karier Herdman dengan pelatih selebritas lainnya menunjukkan bahwa kekuatan Herdman adalah pada manajemen manusia (man-management). Ia bukan tipe pelatih yang hanya datang saat pertandingan, tetapi tipe manajer yang membangun sistem.
Bagi Timnas Indonesia, kedatangan Herdman membawa angin segar sekaligus tantangan berat. Para pemain dituntut untuk tidak hanya meningkatkan skill teknis, tetapi juga memperluas kapasitas mental mereka. Mereka tidak lagi diminta sekadar bermain bola, tetapi diminta menjadi perintis sejarah.
Jika Herdman berhasil menularkan “virus” pionir ini, kegagalan menembus Piala Dunia 2026 mungkin kelak akan dikenang bukan sebagai akhir, melainkan sebagai titik balik di mana Garuda mulai belajar cara terbang tinggi yang sesungguhnya. Transformasi ini adalah tentang mengubah mentalitas “kita belum pernah melakukannya” menjadi “kita akan menjadi yang pertama melakukannya.”
