INDONESIAONLINE – Masyarakat Kabupaten Blitar diimbau untuk mewaspadai penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak. Imbauan tersebut disampaikan Dinas peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar yang belum lama ini menemukan suspek penyakit PMK pada hewan ternak di enam kecamatan.

Kepala Disnakkan Kabupaten Blitar Toha Mashuri mengatakan, enam kecamatan tersebut masing-masing Gandusari, Garum, Binangun, Udanawu, Srengat dan Ponggok. Berdasarkan analisa yang dilakukan Disnakkan, penyebab munculnya suspek PMK tersebut bisa karena berbagai hal. Diantaranya karena mayoritas kecamatan yang ditemukan suspek berada di perbatasan. Selain itu bisa juga dari hewan ternak yang dibeli dari luar darah.

Baca Juga :
Apel di Embung Gogoniti, Bupati Blitar dan DLH Ajak Masyarakat Jaga Bumi dan Lestarikan Alam

Baca Juga  Keluar dari Penjara, Gus Idris Akan Kembali Buat Konten YouTube

‘’Bisa jadi penyebabnya adalah beberapa kecamatan tersebut berada di perbatasan. Jadi memang ada yang beli ternak dari luar dan sudah membawa PMK,” kata Toha, Kamis (2/6/2022).

Toha menambahkan, Disnakkan telah mengambil sampel darah pada ternak jenis sapi yang menjadi suspek PMK. Sampel darah itu kemudian diuji di laboratorium. Namun hingga kini hasil uji laboratorium belum keluar. Pihaknya masih menunggu kabar dari Pusvetma Surabaya.

‘’Hasil laboratoriumnya kita juga belum tahu kapan keluarnya. Semoga dalam waktu yang tidak lama hasilnya keluar,” imbuhnya.

Lebih lanjut Toha menyampaikan, munculnya kasus suspek PMK di Kabupaten Blitar tidak perlu ditanggapi masyarakat dengan kepanikan. Sebab PMK pada hewan ternak bisa disembuhkan. Kemudian, apabila hewan ternak menunjukkan gejala PMK diimbau untuk segera melapor ke petugas Disnakkan.

Baca Juga  Berantas Pemukiman Kumuh di Kota Blitar, Anggota DPR RI Sri Rahayu Resmikan Hasil Program Kotaku

Baca Juga :
Puluhan Sapi Tetap Terpapar PMK di Desa Burno, walau Ratusan Kandang Disemprot Disinfektan

“Selain itu kami juga mengimbau agar para jagal, molang atau pedagang sapi untuk tidak membeli sapi dari luar daerah. Kami dari Disnakkan juga akan membatasi distribusi sapi dari daerah terpapar PMK,” pungkasnya.