Beranda

Keracunan MBG Jayapura: 527 Korban Jadi Alarm Pengawasan Dapur Gizi

Ilustrasi Ompreng MBG (io)

Kasus keracunan MBG di Jayapura menimpa 527 orang. Dugaan bakteri E. coli, dapur disuspensi, polisi menyelidiki, pengawasan program dievaluasi.

INDONESIAONLINE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak justru menghadapi ujian serius di Kabupaten Jayapura, Papua. Dalam kurun waktu tiga hari, jumlah warga yang mengalami dugaan keracunan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut melonjak menjadi 527 orang, menjadikannya salah satu insiden terbesar sejak MBG dijalankan secara nasional.

Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai balita, siswa PAUD, SD, SMP hingga orang dewasa. Sebagian besar mengalami gejala serupa berupa sakit perut, mual, muntah, diare, demam, dan tubuh lemas setelah menyantap makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua di Distrik Depapre.

Meski kondisi mayoritas pasien mulai berangsur membaik, kasus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kualitas pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan salah satu program prioritas nasional tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Berii Wopari, menyebut jumlah korban merupakan akumulasi kasus yang tercatat sejak 4 hingga 6 Agustus 2026. “Ini terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP dan sejumlah orang tua,” ucapnya.

Seluruh pasien, baik yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan, mendapatkan penanganan di sejumlah puskesmas dan rumah sakit. “Ini adalah akumulasi, baik yang rawat jalan dan rawat inap. Semuanya kita berikan penanganan medis secara maksimal di sejumlah puskesmas dan rumah sakit,” lanjutnya.

Menurut Berii, situasi mulai terkendali karena sejak Rabu malam tidak lagi terjadi lonjakan pasien baru. Kendati demikian, pasien yang masih dirawat tetap menjalani observasi untuk memastikan tidak terjadi kekambuhan akibat sisa kontaminasi di dalam tubuh.

Dugaan Kontaminasi E. coli dan Lemahnya Standar Higienitas

Perkembangan penyelidikan mengarah pada dugaan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam beberapa menu MBG. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri tersebut pada sejumlah sampel makanan.

“Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada, jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya, bukan hanya semangka tapi ada beberapa makanan lain.”

Temuan itu diperkuat hasil evaluasi Badan Gizi Nasional (BGN) yang langsung melakukan inspeksi ke dapur penyedia makanan. Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono mengatakan sejumlah pelanggaran terhadap standar operasional ditemukan saat pemeriksaan berlangsung.

“Sesuai dengan SOP kita, kalau ada siswa yang keracunan maka kita suspend, apalagi jumlahnya besar seperti ini,” tegasnya.

BGN menemukan dapur tidak memenuhi standar kebersihan, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai tidak layak. “Kita temukan kalau memang dapur tidak sesuai SOP, tidak higienis, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak memenuhi ketentuan. Tadi kami juga memberikan teguran kepada SPPG nya karena tidak menyiapkan makanan yang baik. Dengan temuan-temuan ini maka bisa kami suspend permanen atau ditutup,” terang Trenggono.

Akibat temuan tersebut, operasional dapur MBG milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi lanjutan. BGN juga membuka kemungkinan pencabutan izin secara permanen apabila terbukti terjadi pelanggaran berat terhadap standar keamanan pangan.

Selain persoalan higienitas, Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan dugaan lain yang turut berkontribusi terhadap insiden tersebut, yakni proses memasak yang dilakukan terlalu jauh sebelum jadwal distribusi.

“Kalau di Papua, kita lihat dari log dapurnya, kan kita ada sistem log-nya, kapan persiapan, kapan masak. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau enggak salah jam tujuh atau setengah delapan di hari sebelumnya untuk dikirimkan di hari berikutnya di jam 11.”

Dalam prinsip keamanan pangan, makanan siap saji yang disimpan terlalu lama pada suhu yang tidak sesuai berisiko menjadi media berkembangnya bakteri, termasuk E. coli, yang dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan hingga dehidrasi berat, terutama pada anak-anak.

Di sisi lain, Polres Jayapura terus mendalami penyebab pasti insiden tersebut. Penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara di dapur MBG dan rumah koordinator program, sekaligus mengamankan enam jenis sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Forensik Polda Papua.

Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Markus Axel Panggabean menjelaskan langkah penyelidikan dilakukan segera setelah laporan masyarakat diterima. “Begitu menerima laporan masyarakat, personel langsung mendatangi lokasi, melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik Polda Papua untuk pemeriksaan sampel makanan.”

Penyidik juga telah memeriksa sekitar 30 orang yang terdiri atas saksi, pengelola dapur, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam distribusi MBG guna mengungkap kemungkinan adanya kelalaian atau unsur pidana.

Kasus ini menjadi evaluasi penting karena Kabupaten Jayapura memiliki sekitar 15 yayasan yang mengelola dapur MBG. Bupati Jayapura Yunus Wonda meminta seluruh penyelenggara tidak menjadikan program ini semata-mata sebagai peluang bisnis.

“Jangan hanya mengejar uang lalu mengesampingkan kesehatan anak-anak. Makanan yang diberikan harus benar-benar steril, bersih, dan sehat,” tegasnya.

Ia juga menilai kualitas pengawasan terhadap dapur MBG mulai menurun dibanding masa awal pelaksanaan program. “Awal MBG berjalan, saya lihat cukup rapi, bersih, dan memerhatikan nilai gizinya. Tetapi sekarang saya lihat hanya mementingkan anak-anak bisa makan tanpa mempertimbangkan faktor kebersihan maupun kesehatan makanan. Pengawasan terhadap SPPG ini sepertinya mulai berkurang,” ujarnya.

Kasus di Jayapura menambah daftar insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG yang belakangan terjadi di sejumlah daerah. BGN menyatakan evaluasi nasional terhadap standar operasional dapur, sanitasi, rantai distribusi, hingga pengawasan waktu pengolahan makanan akan diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga oleh jaminan bahwa setiap menu yang disajikan aman, higienis, dan benar-benar menyehatkan bagi para penerimanya.

Exit mobile version