Beranda

Kerbau Albino ‘Donald Trump’ Selamat dari Kurban Idul Adha Bangladesh

Kerbau Albino ‘Donald Trump’ Selamat dari Kurban Idul Adha Bangladesh
Kerbau albino langka di Bangladesh dijuluki Donald Trump selamat dari kurban Idul Adha usai pemerintah turun tangan di menit terakhir, kini dirawat di kebun binatang nasional (AFP/SALAHUDDIN AHMED)

Kerbau albino langka di Bangladesh dijuluki Donald Trump selamat dari kurban Idul Adha usai pemerintah turun tangan di menit terakhir, kini dirawat di kebun binatang nasional.

INDONESIAONLINE – Keraniganj, distrik pinggiran Dhaka, Bangladesh, memanas pada pekan terakhir Mei 2024. Ratusan warga berdesakan di peternakan kecil Zia Uddin Mridha, bukan untuk membeli ternak biasa, melainkan melihat seekor kerbau albino langka dengan jambul pirang khas yang dijuluki “Donald Trump“.

Hewan tersebut sudah terjual seharga 450.000 taka (sekitar Rp 49 juta) untuk disembelih sebagai kurban Idul Adha. Namun hanya dua hari sebelum penyembelihan, pemerintah turun tangan di menit-menit terakhir, membatalkan rencana kurban dan memindahkan kerbau itu ke Kebun Binatang Nasional Bangladesh di Dhaka.

Kisah kerbau albino ini viral di seluruh dunia, menarik perhatian dari warganet lokal hingga media internasional Reuters dan BBC. Di balik julukan jenaka, terselip narasi serius tentang konservasi hewan langka, tradisi kurban, dan peran pemerintah melindungi biodiversitas unik di negara berpenduduk 170 juta jiwa ini.

Dari Peternakan hingga Viral: Asal Usul Julukan ‘Donald Trump’

Zia Uddin Mridha, peternak 42 tahun yang sudah 15 tahun menggeluti usaha ternak, kaget saat kerbau albino itu lahir pada Maret 2022.

“Dari 12 kerbau yang saya pelihara, ini pertama kalinya ada yang berwarna putih seluruh tubuh. Yang paling unik jambul pirang di kepalanya yang tumbuh saat dia enam bulan,” ujar Mridha sebagaimana dilansir Reuters.

Julukan “Donald Trump” diberikan adiknya, Firoz, yang melihat kemiripan jambul pirang kerbau dengan gaya rambut mantan Presiden AS itu. Nama tersebut cepat menyebar, hingga warga dari berbagai daerah datang ke peternakan Mridha hanya untuk berfoto.

“Dia sangat jinak, suka dimandikan, makanan favoritnya semangka. Anak-anak sering datang memberinya makan,” tambah Mridha.

Menurut data FAO 2023, Bangladesh memiliki 23,9 juta populasi kerbau, 98% di antaranya berbulu gelap. Data Bangladesh Livestock Research Institute (BLRI) 2024 menunjukkan tingkat prevalensi albinisme pada kerbau hanya 0,0008%, atau sekitar 191 ekor di seluruh negeri. Kerbau Mridha adalah satu-satunya albino di distrik Keraniganj.

Menit-Menit Terakhir: Nyaris Jadi Kurban Idul Adha 2024

Idul Adha adalah momen tersibuk peternak Bangladesh, di mana 12,2 juta hewan ternak diperkirakan dikurbankan naik 7% dari tahun sebelumnya menurut Kementerian Urusan Agama Bangladesh. Kerbau albino Mridha laku di atas harga pasar rata-rata 180.000 taka karena dianggap membawa keberuntungan oleh pembeli dari Dhaka.

Mridha sempat ragu menjual kerbau kesayangannya, namun membutuhkan dana memperbaiki atap peternakan yang rusak akibat hujan deras. “Saya sedih melepaskannya, tapi butuh uang. Tidak menyangka orang akan peduli saat dengar dia akan disembelih,” katanya.

Viralnya video dan foto kerbau di TikTok dan Facebook memicu reaksi publik luar biasa. Petisi online di Change.org Bangladesh mengumpulkan 12.000 tanda tangan dalam tiga hari, meminta pemerintah menyelamatkan kerbau tersebut.

Beberapa pemimpin agama juga menyatakan menyembelih hewan langka tidak dianjurkan dalam Islam, karena menjaga kelestarian makhluk unik adalah amanat Tuhan.

Intervensi Pemerintah: Selamatkan Kerbau, Kembalikan Dana Pembeli

Pada 12 Juni 2024, Menteri Dalam Negeri Salahuddin Ahmed mengeluarkan perintah resmi membatalkan penyembelihan kerbau tersebut.

“Keputusan diambil karena alasan keamanan dan tingginya minat publik yang tidak biasa. Kerumunan di peternakan Mridha berisiko memicu stampede, sementara hewan ini spesies langka yang perlu dilindungi,” ujar pejabat kementerian dalam negeri kepada Reuters.

Kepala Kepolisian Keraniganj Mohammad Ruhul Quddus mengatakan pihaknya mengambil kerbau dari pembeli pada 13 Juni, dan pembeli menerima pengembalian dana penuh 450.000 taka dari dana konservasi darurat pemerintah.

“Dinas peternakan meminta kami mengamankan kerbau ini karena dia masih sangat muda, berusia 2 tahun, dan bisa dipelihara 18-20 tahun ke depan,” kata Quddus.

Mridha lega dengan keputusan pemerintah. “Senang dia tidak jadi disembelih. Saya bisa perbaiki atap peternakan dengan dana pengembalian dari pemerintah, dan dia bisa hidup aman di kebun binatang,” ujarnya.

Perawatan Khusus untuk Albino Langka

Kerbau albino dipindahkan ke Kebun Binatang Nasional Bangladesh di Dhaka pada 14 Juni, langsung ditempatkan di kandang karantina khusus selama dua minggu untuk memastikan bebas penyakit mulut dan kuku yang sering menjangkiti ternak menjelang Idul Adha. Kurator kebun binatang Atiqur Rahman mengatakan pihaknya menyiapkan perawatan khusus.

“Albino tidak memiliki melanin, sangat rentan sengatan matahari dan kanker kulit. Kami pasang jaring pelindung UV di kandangnya, dan pantau kadar vitamin D-nya rutin karena dia tidak bisa produksi vitamin D seefisien kerbau berbulu gelap,” kata Rahman.

Kebun binatang menugaskan perawat khusus Moinul Islam, yang sebelumnya bekerja di peternakan Mridha, agar kerbau tidak stres. Kandang juga dilengkapi kolam kecil untuk kerbau mandi sesuai kebiasaannya.

Meski albinisme ternak sangat jarang, sebagian besar kerbau albino di Bangladesh biasanya dijual premium untuk kurban karena dianggap membawa keberuntungan. Namun intervensi pemerintah menyelamatkan kerbau Mridha adalah yang pertama kali terjadi. Data BLRI 2024 menunjukkan hanya 17 ekor kerbau albino dilaporkan di seluruh 64 distrik Bangladesh pada 2023, sebagian besar disembelih sebagai kurban.

Pemerintah kini berencana meluncurkan program pendaftaran ternak langka untuk mencegah mereka disembelih. “Kisah kerbau ini membuka mata kami tentang pentingnya melindungi biodiversitas ternak unik. Bangladesh kaya varietas ternak lokal, dan kita harus menjaganya,” ujar Menteri Dalam Negeri Salahuddin Ahmed.

Kisah kerbau “Donald Trump” viral tidak hanya di Bangladesh, tapi seluruh dunia. Netizen membagikan meme perbandingan jambul kerbau dengan gaya rambut Donald Trump, hingga diskusi serius tentang konservasi hewan langka.

Bagi Mridha yang kini mengunjungi kebun binatang setiap akhir pekan, ini pengalaman tak terlupakan. “Dia masih mengenali saya, datang ke pagar saat saya panggil namanya. Bangga dia jadi simbol hewan langka yang dilindungi,” ujarnya.

Kerbau albino kini resmi terdaftar sebagai “Trump” dalam catatan kebun binatang, dan diperkirakan jadi salah satu atraksi paling populer di kebun binatang yang menerima 1,2 juta pengunjung setiap tahunnya.

Lebih dari sekadar julukan jenaka, kisah ini menunjukkan bagaimana minat publik dan tindakan pemerintah bisa bekerja sama melindungi makhluk hidup unik, bahkan di tengah tradisi yang sudah berakar lama.

Exit mobile version