Beranda

Ketegangan Pecah di Demo DPR, Empat Massa Diklaim Dibawa Polisi

Ketegangan terjadi dalam demo di DPR, Jakarta, setelah massa melempar air mineral ke polisi. Empat peserta aksi disebut dibawa ke dalam kompleks parlemen (io)

Ketegangan terjadi dalam demo di DPR, Jakarta, setelah massa melempar air mineral ke polisi. Empat peserta aksi disebut dibawa ke dalam kompleks parlemen.

INDONESIAONLINE – Suasana aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026) sore, mendadak memanas. Ketegangan muncul di sisi kiri kompleks parlemen, tak jauh dari Stasiun Palmerah, ketika sebagian massa melempar gelas air minum kemasan ke arah barisan polisi.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 17.15 WIB. Pemicu ketegangan disebut bermula ketika sejumlah peserta aksi ditarik dari barisan oleh petugas kepolisian berpakaian sipil. Mereka kemudian dibawa masuk ke halaman kompleks Gedung DPR RI.

Situasi yang semula terkendali berubah menjadi saling tegang. Massa mempertanyakan tindakan petugas tersebut, sementara polisi tetap berjaga di sekitar area yang menjadi titik konsentrasi demonstran.

Beberapa warga yang berada di lokasi kemudian berupaya meredakan keadaan. Mereka meminta demonstran menghentikan pelemparan benda ke arah polisi agar situasi tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka.

Peristiwa itu menjadi bagian dari rangkaian aksi 27 Agustus yang sejak pagi telah mendapat pengamanan ketat. Polda Metro Jaya sebelumnya memperkirakan sekitar 500 orang akan mengikuti aksi berdasarkan pemberitahuan yang diterima kepolisian dari sejumlah elemen masyarakat.

Empat Peserta Disebut Dibawa Masuk ke Kompleks DPR

Setelah ketegangan mereda, sejumlah warga dan peserta aksi berusaha berkomunikasi dengan petugas. Mereka meminta orang-orang yang sebelumnya dibawa masuk ke halaman DPR dikembalikan kepada massa.

Petugas kemudian mengizinkan peserta aksi yang berada di dalam halaman kompleks parlemen untuk dibawa keluar. Namun, hanya satu orang yang terlihat dikeluarkan oleh polisi.

Situasi kembali menjadi tanda tanya ketika massa menyatakan masih terdapat empat orang yang disebut telah dibawa petugas.

Perbedaan informasi itu kemudian memunculkan perundingan antara demonstran dan aparat. Sejumlah saksi turut dihadirkan untuk membantu memastikan keberadaan orang-orang yang disebut dibawa masuk ke halaman Gedung DPR.

Hingga laporan ini disusun, proses pembicaraan masih berlangsung. Belum terdapat keterangan resmi yang memastikan identitas keempat orang tersebut, alasan mereka dibawa, maupun status mereka.

Karena itu, informasi mengenai empat peserta tersebut masih sebatas klaim massa di lapangan dan perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada kepolisian.

Ketegangan di Palmerah terjadi ketika pengamanan aksi memang diperketat di sejumlah titik. Kepolisian sejak pagi melakukan pemeriksaan secara acak terhadap orang-orang yang menuju kawasan parlemen. Langkah tersebut disebut untuk mencegah masuknya benda yang berpotensi mengganggu keamanan selama aksi berlangsung.

Polisi juga membagi kawasan pengamanan di sekitar DPR menjadi beberapa zona. Menurut keterangan Polres Metro Jakarta Pusat, kawasan Stasiun Palmerah, Pos Polisi Palmerah, Masjid DPR, hingga area sekitar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masuk dalam Zona 5 pelayanan pengamanan. Pendekatan yang dikedepankan disebut humanis dan komunikatif.

Aksi Membawa Banyak Agenda

Demonstrasi di DPR pada Kamis ini tidak digerakkan satu kelompok saja. Sejumlah elemen masyarakat datang dengan tuntutan berbeda.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), misalnya, membawa tuntutan terkait pengesahan RUU Perampasan Aset dan pemberantasan korupsi. Kelompok lain seperti Aliansi Masyarakat Depok Bersatu, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat, serta Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo juga menyampaikan agenda masing-masing.

Keragaman kelompok membuat konsentrasi massa di sekitar parlemen berlangsung dalam beberapa gelombang. Sebagian massa datang sejak pagi, sementara kelompok mahasiswa dan elemen lainnya melanjutkan aksi pada siang hingga sore.

Sebelum aksi berlangsung, pemerintah juga telah meminta aparat melakukan pengamanan secara tegas namun persuasif. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago meminta Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, serta unsur masyarakat bersama-sama memastikan penyampaian aspirasi berlangsung tertib. Ia juga mengingatkan agar tidak ada kelompok lain yang memanfaatkan demonstrasi untuk memicu gangguan.

Polisi sebelumnya juga menyampaikan bahwa hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tetap dikawal. Pada saat yang sama, aparat meminta peserta aksi tidak mudah terprovokasi dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Dalam konteks tersebut, insiden pelemparan air minum di sisi kiri Gedung DPR menjadi ujian tersendiri bagi pengamanan aksi. Benda yang dilempar memang bukan ancaman serius, tetapi tindakan tersebut dapat menjadi pemantik apabila dibalas dengan tindakan represif atau diikuti aksi massa yang lebih luas.

Di sisi lain, ketidakjelasan mengenai peserta aksi yang dibawa masuk ke kompleks parlemen berpotensi memperbesar kecurigaan di antara demonstran dan aparat. Karena itu, transparansi mengenai siapa yang dibawa, atas dasar apa, serta apakah mereka akhirnya dipulangkan menjadi penting untuk mencegah munculnya informasi simpang siur.

Hingga sore hari, persoalan tersebut masih menjadi bahan perundingan di lokasi. Massa dan petugas sama-sama berada dalam posisi menunggu kepastian.

Aksi demonstrasi pada akhirnya bukan hanya soal seberapa keras tuntutan disuarakan. Cara aparat merespons massa dan cara demonstran mengendalikan barisan juga menentukan apakah ruang demokrasi tetap terbuka tanpa berubah menjadi konflik di jalanan.

Exit mobile version