China perketat aturan drama mikro. Kisah CEO nikahi gadis miskin dilarang karena pamer kekayaan. Wajib lisensi mulai 2025 demi kontrol konten.
INDONESIAONLINE – Di dalam kereta bawah tanah yang padat di Shanghai atau di kedai kopi di Shenzhen, pemandangan jutaan pasang mata yang terpaku pada layar ponsel pintar dengan orientasi vertikal telah menjadi norma baru. Mereka tidak sedang membaca berita atau bertukar pesan, melainkan sedang terhanyut dalam episode-episode singkat berdurasi satu menit yang penuh intrik. Inilah dunia drama mikro: cepat, adiktif, dan seringkali penuh dengan fantasi liar tentang kekayaan instan.
Namun, “pesta” visual yang menawarkan pelarian dari realitas ini kini menghadapi tembok tebal. Pemerintah China, melalui Administrasi Radio dan Televisi Nasional (NRTA), telah menabuh genderang perang terhadap narasi-narasi klise yang selama ini menjadi mesin uang industri tersebut.
Kisah romansa tentang seorang CEO kaya raya yang menikahi gadis miskin—sebuah trope “Cinderella” versi modern—kini berada di ujung tanduk.
Langkah drastis yang dimulai dengan pedoman konten pada November 2024 dan diperketat dengan kewajiban lisensi pada Februari 2025 ini bukan sekadar sensor biasa. Ini adalah upaya sistematis Beijing untuk merekayasa ulang selera budaya warganya agar sejalan dengan nilai-nilai ideologis negara, sekaligus meredam potensi kecemburuan sosial di tengah ekonomi global yang menantang.
Menghapus Ilusi “Jalan Pintas” Menuju Kekayaan
Pada November 2024, NRTA merilis pedoman yang secara spesifik membidik jantung dari genre drama mikro yang paling laku: romansa beda kasta yang ekstrem. Narasi di mana seorang protagonis miskin tiba-tiba dinikahi oleh pewaris takhta bisnis atau keluarga berkuasa dinilai berbahaya.
Mengapa narasi fiksi ini dianggap ancaman serius?
Pemerintah China menilai bahwa plot semacam itu mempromosikan “cita-cita yang mengagungkan pernikahan dengan individu atau keluarga yang berkuasa dan kaya”. Dalam pandangan regulator, cerita ini menanamkan benih mentalitas jalan pintas—bahwa kesuksesan dan kemakmuran bisa didapat melalui keberuntungan romantis, bukan kerja keras.
“Para kreator harus menghindari promosi pandangan tentang mendapatkan sesuatu dengan mudah, kesuksesan instan, atau kekayaan dalam semalam,” demikian bunyi kutipan tegas dari pedoman tersebut.
Lebih jauh lagi, visualisasi kekayaan yang berlebihan—mobil sport mewah, pesta sampanye, dan rumah bak istana yang sering muncul di drama mikro—dianggap mempromosikan hedonisme dan materialisme. Di negara yang sedang gencar mengampanyekan konsep “Kemakmuran Bersama” (Common Prosperity) untuk mengurangi kesenjangan kekayaan, tontonan yang memamerkan kemewahan vulgar adalah antitesis dari tujuan nasional.
Menyelamatkan Wajah Pengusaha China
Satu poin menarik dalam regulasi baru ini adalah perlindungan terhadap citra komunitas wirausaha. Dalam banyak drama mikro, karakter CEO sering digambarkan sebagai sosok yang mendominasi, arogan, atau memiliki kekuasaan tak terbatas yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan uang.
NRTA menekankan bahwa para kreator harus mematuhi prinsip “realisme” saat menggambarkan dunia bisnis. Mereka dilarang membungkus cerita-cerita absurd dengan kedok realisme yang dapat mendistorsi persepsi publik.
Praktik penggambaran CEO yang tidak realistis dinilai dapat “merusak citra komunitas wirausaha”. Beijing ingin para kreator menceritakan kisah pengusaha China—baik masa lalu maupun masa kini—sebagai sosok yang berjuang, inovatif, dan berkontribusi pada negara, bukan sekadar objek fantasi romantis yang terlibat dalam perselisihan keluarga atau percintaan remeh-temeh.
Lisensi 2025: Matinya Era “Wild West” Konten Digital
Jika pedoman November 2024 adalah peringatan, maka aturan yang berlaku mulai Februari 2025 adalah eksekusinya. China memberlakukan sistem lisensi wajib bagi seluruh drama mikro. Ini adalah perubahan fundamental dari sistem “tayang dulu, sensor belakangan” menjadi “izin dulu, baru tayang”.
Dikutip dari Reuters, Administrasi Radio dan Televisi Nasional China menegaskan bahwa “Platform audiovisual daring tidak boleh menayangkan drama mikro pendek yang tidak memiliki izin atau nomor registrasi, dan juga tidak boleh menarik atau mengarahkan lalu lintas ke drama-drama tersebut.”
Aturan ini secara efektif mematikan ruang gerak kreator amatir atau rumah produksi nakal yang selama ini membanjiri pasar dengan konten berkualitas rendah demi mengejar viralitas. Setiap konten kini harus melewati meja kurasi birokrasi, memastikan tidak ada lagi adegan yang dianggap vulgar, kekerasan berlebihan, atau plot yang menyimpang dari nilai arus utama Partai Komunis.
Data Bicara: Raksasa Ekonomi Baru yang “Liar”
Keketatan regulasi ini bisa dipahami jika melihat betapa besarnya skala industri drama mikro di China. Industri ini bukan lagi pemain pinggiran.
Berdasarkan data pasar, nilai industri drama mikro di China diperkirakan mencapai 5 miliar dolar AS per tahun (sekitar Rp 78 triliun). Angka ini sangat fantastis untuk format video yang hanya berdurasi menitan. Beberapa ahli industri bahkan menyebutkan bahwa dominasi format video pendek ini menjadi pesaing terberat bagi industri film konvensional China, bahkan hanya kalah dari skala industri Hollywood dalam hal keterlibatan penonton.
Episode yang dirancang dengan cliffhanger (akhir menggantung) di setiap menitnya memaksa jutaan penonton untuk terus menonton, seringkali dengan membayar biaya mikro (micro-payment) untuk membuka episode selanjutnya. Model bisnis ini sangat menguntungkan namun rentan eksploitasi.
Sebelum aturan ketat ini diberlakukan, pemerintah China sebenarnya sudah melakukan “bersih-bersih”. Antara akhir tahun 2022 hingga awal 2023, regulator telah melakukan kampanye perbaikan khusus. Hasilnya mencengangkan: sebanyak 25.300 judul drama mikro dan hampir 1,4 juta episode dihapus dari peredaran internet. Alasan utamanya adalah konten yang mengandung pornografi, kekerasan berdarah, kualitas murahan, dan vulgar.
Analisis: Antara Kontrol Sosial dan Kreativitas
Langkah China ini memicu perdebatan diam-diam di kalangan pengamat budaya. Di satu sisi, regulasi ini dilihat sebagai upaya perlindungan konsumen dari konten sampah (trashy content) yang tidak mendidik. Banyak orang tua dan pendidik di China yang khawatir akan dampak kecanduan drama mikro terhadap moralitas generasi muda.
Namun di sisi lain, aturan yang mewajibkan tema protagonis “tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai arus utama” dikhawatirkan akan mematikan kreativitas. Drama mikro disukai justru karena sifatnya yang absurd, melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras, dan memberikan kepuasan instan. Dengan memaksa drama ini menjadi “realistis” dan “mendidik”, ada risiko industri ini akan kehilangan daya tariknya yang paling dasar: eskapisme.
Kewajiban lisensi juga berpotensi mematikan rumah produksi kecil yang tidak memiliki sumber daya untuk mengurus birokrasi perizinan yang rumit dan mungkin mahal. Pasar kemungkinan akan terkonsolidasi hanya pada pemain-pemain besar yang memiliki kedekatan dengan regulator.
Masa Depan Layar Vertikal
Mulai Februari 2025, lanskap hiburan digital China akan berubah total. Tidak ada lagi kisah gadis desa yang tiba-tiba dilamar miliarder tampan di episode pertama. Tidak ada lagi adegan pamer tumpukan uang atau mobil sport tanpa konteks kerja keras.
Para kreator kini dipaksa memutar otak: bagaimana membuat penonton tetap terpaku pada layar ponsel tanpa menjual mimpi kosong? Tantangan ini mungkin berat, namun bagi Beijing, ini adalah harga yang pantas dibayar untuk menjaga “kesehatan mental” dan stabilitas ideologi warganya.
Drama mikro di China sedang berevolusi dari hiburan “sampah” yang menguntungkan menjadi alat propaganda lunak yang terkurasi. Bagi penonton setia drama CEO dan Upik Abu, saatnya bersiap untuk tontonan yang mungkin kurang “greget”, namun lebih “patriotik” dan “realistis” sesuai standar negara. Layar ponsel mereka mungkin masih menyala, namun mimpi yang ditawarkan di dalamnya kini telah disensor.













