Empat influencer diteror usai kritik penanganan banjir Sumatera. Molotov hingga bangkai ayam jadi pesan pembungkaman.
INDONESIAONLINE – Penghujung tahun 2025 seharusnya menjadi momen refleksi dan solidaritas nasional, terutama saat sebagian wilayah Sumatera tengah berjibaku dengan bencana hidrometeorologi parah. Namun, atmosfer demokrasi justru diselimuti awan kelam.
Gelombang teror fisik dan digital secara sistematis menghantam empat figur publik—influencer, aktivis, hingga seniman—yang berani menyuarakan kritik tajam atas lambannya penanganan banjir dan longsor di Pulau Andalas tersebut.
Rentetan peristiwa yang terjadi pada pekan terakhir Desember 2025 ini bukan sekadar insiden kriminal biasa. Pola serangan yang terkoordinasi, mulai dari kiriman bangkai hewan, vandalisme, hingga pelemparan bom molotov, mengindikasikan adanya upaya pembungkaman terstruktur terhadap suara-suara sumbang di ruang publik.
Empat nama yang menjadi target operasi “teror senyap” ini adalah DJ Donny (Ramond Dony Adam), Iqbal Damanik (Greenpeace Indonesia), konten kreator Sherly Annavita, dan aktor Yama Carlos. Benang merah yang menghubungkan keempatnya adalah satu: mereka vokal mempertanyakan kinerja pemerintah dalam mitigasi bencana.
Eskalasi Mematikan: Dari Surat Kaleng hingga Bom Molotov
Kasus paling mengkhawatirkan menimpa Ramond Dony Adam atau DJ Donny. Eskalasi teror yang dialaminya meningkat drastis hanya dalam tempo 48 jam. Bermula pada Senin (29/12/2025), sebuah paket mengerikan tiba di kediamannya.
Paket itu berisi bangkai ayam dengan kepala terpotong, disertai surat ancaman bernada mafia: “Jaga mulutmu! Terutama di medsos, jangan pecah belah bangsa! atau kamu akan jadi seperti ayam ini!!!”
Pesan simbolis tersebut berubah menjadi ancaman nyawa pada Rabu (31/12/2025) dini hari. Rekaman CCTV di kediaman DJ Donny menangkap detik-detik mencekam ketika dua orang tak dikenal bermasker melemparkan bom molotov ke arah properti miliknya. Botol berisi bahan bakar dan sumbu api itu menghantam kap mobil, meninggalkan bekas hangus yang nyata.
“Ini bukan lagi sekadar cyber-bullying atau serangan buzzer. Ini adalah percobaan penyerangan fisik yang membahayakan nyawa. Pola ini menunjukkan bahwa kritik di media sosial kini dibalas dengan teror jalanan,” ungkap seorang pengamat keamanan sipil yang enggan disebutkan namanya.
DJ Donny telah melaporkan insiden ini ke Polda Metro Jaya, membawa serta barang bukti berupa sisa bom molotov dan rekaman CCTV. Publik kini menanti apakah aparat kepolisian mampu mengungkap dalang di balik aksi premanisme ini atau kasus ini akan menguap seperti kasus-kasus teror aktivis sebelumnya.
Greenpeace dan Pola “Bungkam Mulut”
Sehari setelah teror pertama ke DJ Donny, giliran Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, yang menjadi sasaran. Pada Selasa (30/12/2025) pagi, ia menemukan bungkusan bangkai ayam di teras rumahnya. Modusnya serupa: intimidasi psikologis.
Pesan yang terikat pada kaki bangkai ayam tersebut berbunyi, “Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu, mulutmu harimaumu”. Ancaman yang menyasar keluarga adalah taktik klasik untuk meruntuhkan mental aktivis.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, dalam pernyataan resminya di Instagram @greenpeaceid, menyebut insiden ini memiliki pola yang sistematis.
“Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini,” tegas Leonard.
Greenpeace menduga kuat serangan ini berkaitan langsung dengan advokasi mereka terhadap bencana ekologis di Sumatera, yang disinyalir diperparah oleh deforestasi dan tata kelola lahan yang buruk. Data dari Walhi dan Greenpeace sebelumnya kerap menyoroti bagaimana bencana hidrometeorologi di Sumatera berkorelasi erat dengan izin konsesi tambang dan perkebunan sawit, sebuah isu sensitif yang seringkali membuat gerah pihak-pihak tertentu.
Sherly Annavita: Vandalisme dan Narasi “Cuan”
Di hari yang sama, Selasa (30/12/2025), konten kreator asal Aceh, Sherly Annavita, mengalami serangan ganda. Mobil pribadinya menjadi sasaran vandalisme dan pelemparan telur busuk. Selain serangan fisik terhadap properti, Sherly juga menerima surat kaleng yang mencoba mendegradasi kredibilitasnya.
Surat tersebut menuduh Sherly memanfaatkan bencana untuk keuntungan pribadi: “Sherly!!! jangan kau manfaatkan bencana di Aceh untuk mencari popularitas murahan dan untuk menambah cuan buat kamu pribadi jgn kamu menggiring opini sesat”.
Sherly, yang memiliki ikatan emosional kuat dengan tanah kelahirannya di Sumatera, merasa teror ini muncul setelah ia tampil di beberapa stasiun televisi nasional. Ia membahas lambatnya distribusi logistik dan bantuan ke daerah terisolir di Aceh dan Sumatera Utara.
“Teror-teror ini terasa sekali setelah Sherly yang memang berasal dari Aceh/Sumatera, ikut memberikan pandangan di beberapa acara TV,” tulis Sherly di akun Instagramnya.
Serangan ini menggunakan narasi klasik untuk membunuh karakter (character assassination): menuduh pengkritik sebagai pencari panggung demi uang, sebuah narasi yang sering digunakan untuk membelokkan substansi kritik.
Satir Yama Carlos Berujung Ancaman Digital
Bentuk teror berbeda dialami aktor Yama Carlos. Tidak ada bangkai ayam atau pecahan kaca, namun ancaman digital yang datang ke ponsel pribadinya cukup untuk mengganggu rasa aman.
Setelah mengunggah video satir di TikTok dan Instagram yang menyindir “pemerintah seolah-olah bekerja” dalam penanganan bencana, Yama dibombardir pesan WhatsApp dari nomor asing. Pesan tersebut singkat namun menekan: “Segera hapus konten tiktokmu selama 1 minggu terakhir”, “mana cepet”.
Yama Carlos mengaku terkejut karena konten satirnya bersifat umum dan tidak menyebut nama pejabat atau instansi spesifik. “Sangat singkat, padat, tapi membuat saya gimana gitu,” ujarnya.
Kasus Yama menunjukkan bahwa ruang ekspresi seni dan satir pun kini diawasi dengan ketat oleh “polisi moral” tak kasat mata yang siap melakukan doxing dan intimidasi kapan saja.
Mundurnya Indeks Demokrasi dan Pola Berulang
Fenomena teror terhadap empat figur publik ini menambah panjang daftar kelam kebebasan sipil di Indonesia. Mengutip data tren dari Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) pada tahun-tahun sebelumnya, serangan terhadap aktivis dan warga yang kritis memang menunjukkan grafik yang fluktuatif namun cenderung meningkat di momen-momen krisis nasional.
Pola yang terjadi di akhir 2025 ini mengonfirmasi adanya metode pembungkaman hibrida: perpaduan antara serangan siber (doxing, ancaman via pesan instan) dan teror fisik (vandalisme, benda berbahaya).
Penggunaan simbol kematian (bangkai ayam, telur busuk) dan alat perusak (molotov) adalah pesan teror kuno yang dikemas dalam konteks modern. Tujuannya adalah menciptakan chilling effect atau efek ketakutan, agar masyarakat lain berpikir dua kali sebelum melontarkan kritik terhadap kebijakan publik atau penanganan bencana.
Bencana banjir dan longsor di Sumatera seharusnya direspons dengan evaluasi kebijakan tata ruang dan percepatan bantuan kemanusiaan. Namun, ketika respons yang muncul justru berupa teror terhadap para pengkritik, hal ini menandakan adanya “alergi kritik” yang akut di kalangan oknum-oknum tertentu yang merasa terganggu kepentingannya.
Publik kini mendesak aparat penegak hukum untuk tidak tebang pilih. Pengusutan tuntas terhadap pelaku pelemparan bom molotov di rumah DJ Donny serta pengirim teror ke Iqbal, Sherly, dan Yama akan menjadi ujian nyata: apakah negara hadir melindungi kebebasan berpendapat warganya, atau justru membiarkan hukum rimba berlaku di era demokrasi digital ini.
