Beranda

Wajah Baru Pasar Batu: Ribuan Tangan Lawan Sampah di HPSN 2026

Wajah Baru Pasar Batu: Ribuan Tangan Lawan Sampah di HPSN 2026
Ilustrasi Gerakan Pungut Sampah di Pasar Induk Among Tani Kota Batu yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan aparat keamanan (io)

Ribuan relawan bersihkan Pasar Induk Among Tani Batu saat HPSN 2026. Aksi kolosal ini menjawab tantangan 2,5 ton sampah harian demi wajah kota wisata.

INDONESIAONLINE – Pagi itu, Jumat (13/2/2026), kemegahan arsitektur Pasar Induk Among Tani tidak berdiri sunyi. Bangunan yang digadang-gadang sebagai ikon baru perekonomian Kota Batu tersebut justru riuh rendah bukan oleh transaksi jual beli, melainkan oleh derap langkah ribuan orang yang membawa misi ekologis.

Dari pelajar berseragam, pegawai swasta, hingga aparat bersenjata lengkap, semuanya melebur dalam satu barisan dengan musuh yang sama: sampah.

Aksi yang bertajuk “Greenation Goes to Pasar Induk” ini bukan sekadar seremoni sapu-sapu cantik. Ini adalah sebuah operasi massal terukur yang menjadi puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Kota Batu. Di balik aksi ini, tersimpan sebuah urgensi besar mengenai tata kelola lingkungan di kawasan yang kini ditetapkan sebagai objek vital strategis.

Strategi Militer Melawan Limbah

Pemerintah Kota Batu tidak main-main dalam aksi kali ini. Pola pembersihan dirancang layaknya strategi militer. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan, membagi ribuan personel gabungan tersebut ke dalam sembilan zona tempur kebersihan. Zona ini mencakup seluruh anatomi pasar, mulai dari lantai dasar yang lembab, area parkir, hingga lantai tiga yang menjadi pusat kuliner dan aktivitas kering.

“Pemilihan lokasi ini didasari atas perhatian publik yang intens terhadap kondisi tata kelola sampah di pasar beberapa waktu lalu. Ini adalah respons taktis. HPSN menjadi momentum pembuktian bahwa menjaga pasar bukan hanya tugas petugas kebersihan yang jumlahnya terbatas,” tegas Dian Fachroni di sela-sela instruksinya.

Keseriusan ini terlihat dari pelibatan unit-unit taktis. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak sekadar hadir. Mereka diterjunkan khusus untuk menyisir ‘nadi’ pasar, yakni saluran air dan drainase. Titik-titik ini seringkali luput dari mata pengunjung, namun menjadi bom waktu jika tersumbat oleh limbah sisa perdagangan, yang bisa memicu bau tak sedap hingga genangan banjir saat hujan deras.

Tak hanya itu, unsur TNI dan Polri ditempatkan secara strategis di area parkir pasar sayur dan pasar pagi, memastikan keamanan sekaligus ketertiban selama mobilisasi ribuan relawan berlangsung.

Anatomi Sampah Pasar: Tantangan 2,5 Ton Per Hari

Mengapa Pasar Induk Among Tani menjadi fokus utama? Jawabannya terletak pada data timbulan sampah yang mencengangkan. Dian Fachroni, yang saat ini juga menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag), membeberkan fakta lapangan yang menantang.

“Volume timbulan sampah harian di sini cukup tinggi, fluktuasinya di kisaran 1,5 hingga 2,5 ton per hari. Ini angka yang masif untuk satu titik lokasi,” ungkapnya.

Data ini selaras dengan tren nasional. Merujuk pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun-tahun sebelumnya, pasar tradisional memang konsisten menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar kedua setelah rumah tangga di Indonesia, dengan kontribusi rata-rata di atas 16%.

Lebih spesifik lagi, Dian menyoroti komposisi sampah tersebut. “Sekitar 70 persen dari total sampah di Pasar Induk Among Tani adalah sampah organik. Ini sisa sayuran, buah busuk, dan sisa makanan dari aktivitas pedagang maupun pengunjung,” jelasnya.

Dominasi sampah organik ini bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, jika tidak dikelola, ia menjadi sumber bau busuk, gas metana, dan penyakit. Namun di sisi lain, dengan persentase setinggi itu, potensi pengolahan menjadi kompos atau pakan maggot sangatlah besar jika pemilahan dilakukan dengan disiplin sejak dari lapak pedagang.

Kolaborasi Menuju Indonesia ASRI

Tema besar HPSN 2026 adalah “Kolaborasi Untuk Indonesia ASRI”. Aksi di Batu ini adalah manifestasi nyata dari tema tersebut. Pemerintah menyadari bahwa paradigma pengelolaan sampah “kumpul-angkut-buang” ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Tlekung sudah usang dan berbahaya. Kota Batu yang luas wilayahnya terbatas tidak bisa terus-menerus menumpuk sampah.

“Tata kelola sampah di Kota Batu, utamanya di objek vital strategis seperti Pasar Induk, semua harus ikut berpartisipasi. Kita ingin menciptakan lingkungan pasar yang Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI),” tambah Dian.

Pelibatan sektor swasta dan pelajar menjadi kunci diferensiasi dalam aksi ini. Kehadiran siswa sekolah dalam program “Greenation Goes to School” yang ditarik ke pasar bertujuan untuk menanamkan habituasi atau pembiasaan ramah lingkungan sejak dini. Generasi Z dan Alpha ini diajak melihat langsung realitas sampah yang dihasilkan oleh konsumsi masyarakat, diharapkan memicu kesadaran untuk mengurangi produksi sampah (reduce) dalam gaya hidup mereka.

Bagi Kota Batu, kebersihan Pasar Induk Among Tani bukan sekadar isu lingkungan, melainkan isu ekonomi dan pariwisata. Pasar ini dirancang sebagai destinasi wisata belanja. Wisatawan yang datang ke Batu tidak hanya mencari apel atau wahana permainan, tetapi juga pengalaman berbelanja di pasar yang modern dan higienis.

Jika pasar ini kotor dan berbau, citra Kota Batu sebagai “Kota Wisata” akan tercoreng. Oleh karena itu, kolaborasi masif ini diharapkan mampu merestorasi kenyamanan transaksi bagi warga lokal maupun turis domestik dan mancanegara.

“Kondisi pasar yang bersih dapat meningkatkan kenyamanan transaksi dan menjadi wajah ekonomi Kota Batu yang membanggakan,” pungkas Dian.

Aksi pungut sampah massal ini hanyalah satu babak dari perjuangan panjang. Tantangan sesungguhnya adalah hari esok dan seterusnya: mampukah pedagang, pengunjung, dan pengelola mempertahankan kebersihan ini saat ribuan relawan telah pulang? Dengan volume 2,5 ton per hari, konsistensi sistem pengelolaan dan kesadaran kolektif adalah benteng pertahanan terakhir agar Pasar Induk Among Tani tidak kembali dikepung masalah klasik sampah (pl/dnv).

Exit mobile version