Pelukis Lamongan Wildan Solihin raup omzet dari lukisan Messi-Ronaldo saat Piala Dunia 2026. Ekonomi kreatif bangkit.
INDONESIAONLINE – Hiruk pikuk Piala Dunia 2026 tak hanya terasa di stadion atau layar televisi. Di sebuah sudut Kabupaten Lamongan, gegap gempita pesta sepak bola terbesar di dunia itu justru menghidupkan roda ekonomi seorang pelukis.
Beberapa pekan terakhir, tangan Wildan Solihin nyaris tak berhenti menggoreskan kuas di atas kanvas. Wajah dua megabintang sepak bola dunia, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, menjadi pesanan yang paling banyak diminta pelanggan.
“Iya mas, sejak awal Piala Dunia dimulai memang banyak pesanan lukisan pemain-pemain sepak bola. Yang paling banyak dipesan Messi, Ronaldo sampai Mbappe.” Kata Wildan, Senin (13/7/2026).
Data Kementerian Parekraf RI (2025) mencatat subsektor kriya dan seni rupa menyumbang 14,2% dari total PDB ekonomi kreatif nasional. Fenomena Wildan membuktikan bahwa event olahraga global yang tidak dilaksanakan di Indonesia sekalipun mampu menciptakan efek penetasan (spillover) bagi pelaku mikro di daerah.
Di tengah lesunya daya beli seni rupa pasca-pandemi, momentum empat tahunan ini menjadi oksigen baru bagi studio kecil di pedesaan Jawa Timur.
Dari Guru SD ke Perajut Mimpi Fanatik Bola
Momentum empat tahunan itu membawa berkah tersendiri bagi pria kelahiran Ponorogo tersebut. Menurut Wildan, pesanan lukisan meningkat dibanding hari-hari biasa. Tak hanya datang dari masyarakat Lamongan, pesanan juga mengalir dari berbagai daerah yang ingin memiliki lukisan bertema sepak bola sebagai koleksi maupun hiasan ruang.
Wildan mengaku sangat bersyukur dengan adanya event dunia tersebut. Menurutnya, meskipun eventnya tidak dilaksanakan di Indonesia, tapi ia turut merasakan dampak nyata dari pagelaran tersebut.
“Sebagai pelaku usaha kreatif saya sangat bersyukur mas dengan adanya event-event semacam ini. Alhamdulillah ada kenaikan omzet dibanding biasanya.” ungkapnya.
Pria yang dulu sempat berkarier sebagai guru sekolah dasar di Ponorogo tersebut mengatakan, di balik setiap lukisan yang dikerjakan, terdapat proses yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari membuat sketsa wajah, menentukan komposisi warna, hingga menyelesaikan detail ekspresi para pemain agar tampak hidup di atas kanvas.
Semakin rumit obyek yang dipesan, semakin lama pula waktu pengerjaannya. “Iya tergantung tingkat kerumitan dan besaran kanvas juga mas. Kalau ukuran 30 x 40 cm, biasanya bisa selesai 2 hari. Kalau 60 x 80 hingga 80 x 100 cm biasanya satu minggu selesainya.” ujarnya.
Untuk setiap lukisan yang dikerjakan, Wildan mematok harga mulai dari Rp 500 ribu untuk ukuran standar. Adapun lukisan dengan ukuran besar dan butuh tingkat detail yang tinggi dibanderol hingga Rp 3,5 Juta.
Jika dirata-rata ia mengerjakan 10 kanvas per bulan dengan harga tengah Rp 1,5 juta, omzetnya bisa menembus Rp 15 juta; angka yang jauh melampaui UMK Lamongan 2026 yang berada di kisaran Rp 2,9 juta.
Bagi Wildan, sepak bola bukan hanya tentang pertandingan 2×45 menit di lapangan. Melalui kuas dan ketelitiannya, Piala Dunia mampu menciptakan sebuah karya seni yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan kenangan abadi bagi para penggemarnya.
Keberhasilan ini juga sejalan dengan program Pemprov Jatim “Seni Kreatif Desa” yang menargetkan 500 pelukis desa terdigitalisasi pemasarannya pada 2027. Wildan yang aktif di marketplace lokal memastikan bahwa euforia bola ini tidak hanya sekadar hura-hura, tetapi fondasi ekonomi nyata bagi keluarganya di Lamongan.
