Lakon Sarip Tambak Oso: Upaya Jombang Menyelamatkan Warisan Ludruk Besutan

Lakon Sarip Tambak Oso: Upaya Jombang Menyelamatkan Warisan Ludruk Besutan
Pementasan Ludruk berjudul Sarip Tambak Oso yang akan digelar di Kabupaten Jombang, 8 Mei 2026 mendatang, dengan melibatkan 11 grup ludruk Jombang (Ist)

Simak upaya 11 grup ludruk Jombang melestarikan budaya melalui lakon Sarip Tambak Oso di Gedung Kesenian Jombang demi menjaga eksistensi seni Besutan.

INDONESIAONLINE –  Di bawah temaram lampu panggung Gedung Kesenian Kabupaten Jombang, sebuah narasi besar sedang disiapkan. Bukan sekadar hiburan pelepas penat, namun sebuah pernyataan sikap terhadap arus modernisasi yang kian deras.

Pada 8 Mei 2026 mendatang, Jombang—yang selama ini karib dijuluki sebagai Kota Santri—akan bertransformasi menjadi panggung raksasa bagi 11 grup ludruk lokal yang masih setia menjaga nafas kesenian rakyat.

Pementasan kolaboratif ini bukan sekadar panggung reuni. Dengan mengusung lakon legendaris “Sarip Tambak Oso“, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang berupaya membangkitkan memori kolektif masyarakat sekaligus melakukan dekonstruksi terhadap citra ludruk yang sering dianggap kuno.

Sarip Tambak Oso: Simbol Perlawanan dan Kritik Sosial

Pemilihan lakon “Sarip Tambak Oso” bukanlah tanpa alasan. Dalam khazanah kebudayaan Jawa Timur, Sarip bukan sekadar tokoh fiktif, melainkan representasi dari semangat perlawanan rakyat jelata terhadap ketidakadilan.

Sarip digambarkan sebagai sosok dari Desa Tambak Oso yang memiliki ilmu “pancasona”—ia tak bisa mati selama jasadnya masih menyentuh tanah atau selama sang ibu masih memanggil namanya.

Menurut Anom Antono, Kabid Kebudayaan Disdikbud Jombang, pemilihan lakon ini adalah upaya untuk menarik benang merah antara sejarah masa lalu dengan realitas sosial saat ini.

“Sarip adalah simbol kritik sosial. Di dalam ludruk, kritik tidak disampaikan dengan urat tegang, melainkan melalui parikan (puisi rakyat) dan banyolan yang menggigit. Kami ingin nilai-nilai perjuangan ini sampai ke telinga generasi muda,” ungkapnya.

Secara historis, berdasarkan catatan peneliti budaya James R. Peacock dalam bukunya Rites of Modernization, ludruk selalu menjadi instrumen komunikasi politik dan sosial bagi masyarakat kelas bawah di Jawa Timur. Dengan menampilkan kembali Sarip, Jombang sedang mencoba menghidupkan kembali fungsi ludruk sebagai media penyalur aspirasi warga yang dibalut dalam estetika pertunjukan.

Jombang: Rahim bagi Cikal Bakal Ludruk

Publik sering kali mengasosiasikan ludruk dengan Surabaya. Namun, sejarah mencatat fakta yang berbeda. Jombang memiliki posisi istimewa sebagai “rahim” lahirnya kesenian ini melalui bentuk awal yang disebut Besutan.

Nama Besut sendiri berasal dari akronim bahasa Jawa “mbeto maksud” (membawa pesan/maksud). Tokoh Besut, dengan ciri khas topi merah (kopyok) dan kain putih, adalah prototipe dari seniman ludruk modern. Ia digambarkan sebagai sosok warga negara imajiner yang cerdas, mampu menyindir penguasa tanpa harus kehilangan selera humor.

“Besutan adalah cikal bakal ludruk yang kemudian berkembang pesat di Surabaya pada era 1930-an. Tanpa Besutan di Jombang, mungkin kita tidak akan mengenal ludruk seperti sekarang,” tambah Anom.

Berdasarkan data dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ludruk telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2013, dan Jombang memegang peranan krusial dalam pelestarian akarnya.

Kolaborasi 11 Grup: Menyatukan Ego demi Eksistensi

Menyatukan 11 grup ludruk dalam satu panggung bukanlah perkara mudah. Setiap grup memiliki gaya, pakem lawakan, dan musikalitas yang berbeda. Namun, urgensi untuk bertahan hidup di tengah gempuran konten digital seperti TikTok dan YouTube membuat para seniman ini sepakat untuk berkolaborasi.

Salah satu grup yang akan ambil bagian adalah Ludruk Budhi Wijaya dari Kecamatan Ngusikan. Didirikan sejak 1985 oleh maestro ludruk Sahid, grup ini kini dipimpin oleh putranya, Didik Purwanto. Budhi Wijaya adalah potret ketangguhan. Di saat banyak grup ludruk bertumbangan pasca-pandemi dan akibat minimnya regenerasi, mereka tetap eksis dengan jadwal panggung yang stabil, meski frekuensinya tak sepadat era 90-an.

Data dari Dewan Kesenian Jawa Timur menunjukkan bahwa pada era 1980-an, terdapat lebih dari 100 grup ludruk yang aktif di Jawa Timur. Saat ini, jumlah grup yang benar-benar aktif secara profesional menyusut drastis hingga tersisa kurang dari 30 grup di seluruh provinsi. Fenomena “mati segan hidup tak mau” inilah yang coba dilawan oleh Pemkab Jombang.

Menyasar Gen Z melalui “Njombangan” yang Segar

Tantangan terbesar ludruk saat ini adalah usia penonton. Mayoritas penikmat ludruk adalah generasi berusia 50 tahun ke atas. Untuk itu, pementasan pada 8 Mei nanti akan dikemas dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan orisinalitasnya.

Lawakan khas “Njombangan”—yang dikenal lebih lugas, egaliter, dan spontan dibandingkan gaya Surabaya yang cenderung cepat—akan menjadi senjata utama. Penggunaan teknologi tata cahaya (lighting) dan sistem suara yang mumpuni diharapkan mampu memberikan pengalaman visual yang berbeda bagi anak muda.

“Kami tidak ingin ludruk hanya menjadi museum yang statis. Ia harus menjadi organisme yang hidup. Maka, kemasannya harus segar. Anak muda harus melihat bahwa menonton ludruk itu keren, sama kerennya dengan menonton stand-up comedy,” tegas Anom.

Pementasan yang digelar secara gratis ini merupakan bagian dari “Agenda Strategis Pemkab Jombang” untuk meningkatkan indeks pembangunan kebudayaan. Pemerintah daerah menyadari bahwa investasi pada sektor kebudayaan akan berdampak pada penguatan karakter masyarakat dan potensi pariwisata berbasis tradisi.

Ludruk sebagai Identitas dan Ketahanan Budaya

Secara sosiologis, eksistensi ludruk di Jombang menunjukkan adanya ketahanan budaya yang luar biasa. Di tengah label Jombang sebagai pusat pendidikan Islam tradisional (pesantren), kesenian rakyat seperti ludruk tetap mendapatkan ruang. Ini membuktikan bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

Tokoh Besut, Rusmini (istri Besut), dan Man Jamik (paman Besut) adalah trinitas karakter yang mencerminkan realitas sosial masyarakat Jombang: religius namun tetap kritis dan jenaka. Melalui lakon “Sarip Tambak Oso” nanti, penonton akan diajak kembali melihat bagaimana keadilan ditegakkan dan bagaimana solidaritas sosial dibangun di atas panggung kayu.

Pementasan kolaborasi 11 grup ludruk ini diharapkan menjadi pemicu bagi munculnya festival-festival serupa di masa mendatang. Keberlanjutan adalah kunci. Tanpa adanya panggung rutin, talenta-talenta muda—mulai dari pemain kendang, sinden, hingga pelawak—akan kehilangan wadah untuk mengasah kemampuan.

Ketika layar panggung Gedung Kesenian Jombang dibuka pada 8 Mei 2026, bukan hanya Sarip yang akan bangkit dari kematiannya setelah dipanggil sang ibu. Kita berharap, roh kesenian Besutan dan Ludruk juga akan bangkit kembali di hati masyarakat Jombang.

Nostalgia mungkin menjadi pintu masuk, namun keberlanjutan adalah tujuan akhir. Jombang telah memberikan teladan bahwa merawat tradisi bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memberikan fondasi yang kuat bagi masa depan.

Kota Santri kini bersiap membuktikan bahwa di sela-sela lantunan doa, selalu ada ruang untuk tawa yang mencerdaskan dan kritik yang membangun di atas panggung ludruk.

Bagi warga Jombang dan sekitarnya, pementasan 11 grup ini adalah undangan untuk merayakan identitas. Sebab, sebuah bangsa tidak hanya dikenal dari gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi dari sejauh mana mereka menghargai akar budaya yang membentuk jati dirinya.

Ludruk Jombang, dengan segala kesederhanaan dan kedalamannya, adalah mutiara yang sedang diasah kembali untuk bersinar di panggung modernitas.