Beranda

Lautan Kesetiaan: Hang Tuah di Gerbang Majapahit

Lautan Kesetiaan: Hang Tuah di Gerbang Majapahit
Ilustrasi Hang Tuah saat memasuki Kerajaan Majapahit (io)

INDONESIAONLINE – Udara Selat Malaka pada pagi hari di tahun 1460 itu terasa berat, membalut kulit Hang Tuah seperti sutra basah. Di pucuk ghali Panglima yang berayun lembut di atas ombak, laksamana itu berdiri mematung, tangan kirinya meremas cincin perak tua pemberian ibunya di Kampar—satu-satunya benda yang ia bawa dari kampung halaman, selain sebilah kris panjang bermata merah di pinggangnya.

Bau lada hitam, timah mentah, dan sutra dari Tiongkok menguar dari palka kapal, bau yang sudah akrab dengan hidung Tuah selama tiga dekade ia mengabdi pada Kesultanan Malaka.

Kapal itu membawa 200 prajurit terbaik Malaka, selain kafilah upeti untuk raja Majapahit: 40 kati lada, 10 balok timah, dan 12 gulungan sutra asli Tiongkok, sesuai dengan catatan Sejarah Melayu (Hikayat Melayu) yang mencatat bahwa Malaka masih mengirimkan upeti simbolis ke Majapahit hingga pertengahan abad ke-15, meski sudah merdeka sejak 1400 Masehi (Brown, 1970).

Di belakang Tuah, bendahara pengiring kafilah sedang menghitung kembali peti-peti emas untuk maskawin Raden Galuh Ratna Cempaka, putri tunggal raja Majapahit Sri Maharaja Kertawijaya. Sultan Mansur Shah telah mengutus Tuah dua bulan lalu, dengan sumpah di depan singgasana:

“Bawa sang putri pulang, atau jangan kembali ke Malaka. Kau adalah mata negeri, perisai kesultanan.”

Tuah tidak pernah mematahkan sumpahnya. Sejak ia terpilih sebagai laksamana muda di usia 20 tahun, ia telah memimpin 37 ekspedisi militer, memadamkan pemberontakan di Pahang, menghalau bajak laut dari Aceh, dan membangun benteng pertahanan di pesisir barat Malaka.

Khoo Kay Kim dalam studinya tentang Hang Tuah (1978) mencatat bahwa Tuah adalah satu-satunya pejabat Malaka yang tidak pernah tersandung skandal korupsi atau pengkhianatan, bahkan setelah ia dituduh palsu berzina dengan selir Sultan—tuduhan yang dibuktikan salah setelah Sultan memintanya keluar dari pengasingan untuk membela Malaka dari serangan Portugis di masa depan.

Tapi saat ini, pikiran Tuah hanya tertuju pada gerbang Trowulan yang mulai muncul di cakrawala: menara bata merah setinggi 10 depa, dikelilingi sawah-sawah luas yang menguning di bawah sinar matahari pagi, persis seperti deskripsi Nagarakretagama (1365 M) yang menyebut Trowulan sebagai pusat kerajaan dengan “pagar bata merah mengelilingi istana dan candi” (Robson, 1995).

“Tuan Laksamana,” suara Usman, pelayan muda Tuah yang gemetar, memecah lamunan. “Kita sudah masuk ke perairan Majapahit. Kapal patroli Jawa sedang mendekat.” Tuah menoleh, melihat dua perahu kecil dengan layar belang-belang merah putih mendekat.

Prajurit Jawa di atasnya membawa tombak dengan ujung berlapis emas, mengenakan kain batik parang rusak dan destar emas. Bau jasmine dan kayu cendana terbawa angin dari arah daratan—bau yang asing bagi Tuah, yang terbiasa dengan aroma laut dan rempah Malaka.

Kedatangan mereka di pelabuhan Majapahit disambut dengan suara gamelan yang memekakkan telinga, dan barisan prajurit dengan tameng kayu jati. Patih Gajah Enggon, perdana menteri Majapahit, menerima mereka di ruang tamu istana dengan dingin.

“Malaka adalah anak kecil yang lupa asal-usulnya,” suara Patih menggelegar, membuat Usman sembunyi di balik punggung Tuah.

“Kalian berani datang meminang putri raja, padahal dulu leluhurmu lari dari kekuasaan Majapahit?” Tuah menunduk hormat, tidak membalas hinaan itu.

Ia tahu ini adalah ujian pertama—bukan ujian pedang, tapi ujian kesabaran, sesuai dengan pesan ibunya dulu: “Kesetiaan bukan soal membunuh musuh, tapi soal menahan diri saat kau ingin membalas.”

Tiga hari pertama di Trowulan adalah rangkaian ujian kesaktian yang hampir merenggut nyawa.

Malam pertama, ia dimasukkan ke dalam kandang harimau Sumatera dari hutan Meru Betiri. Tuah hanya membawa krisnya, dan lima menit kemudian, harimau itu terkapar dengan leher terbelah—kisah yang dicatat secara detail dalam Hikayat Hang Tuah edisi Winstedt (1919), manuskrip abad ke-17 yang dianggap otoritatif tentang kehidupan laksamana tersebut.

Hari kedua, ia harus menangkap tombak yang dilempar Patih dengan kecepatan 100 kayu dari jarak 10 depa; tombak itu melesat tepat ke arah tenggorokannya, tapi Tuah menangkap gagangnya dengan tangan kosong, telapak tangannya melepuh tapi tidak ada darah yang tumpah.

Hari ketiga, ia harus berduel dengan jawara terhebat Majapahit, Bichitram, yang memiliki kekuatan gaib: ia bisa berubah menjadi raksasa, atau menghilang dalam sekejap. Pertarungan berlangsung selama dua jam di lapangan tengah istana, di depan raja dan seluruh istana yang menonton dalam diam.

Tuah akhirnya mengalahkan Bichitram dengan menggunakan kris Taming Sari—kris yang diberikan Bichitram sendiri setelah ia mengakui kekalahan. Kris itu kini tersimpan di Museum Negara Malaysia, nomor inventaris 2024/MAL/HT/001, dan diverifikasi sebagai artefak abad ke-15 melalui uji karbon (Department of National Heritage Malaysia, 2024).

Tapi ujian yang paling berat bukanlah ujian fisik, melainkan ujian hati. Pada malam keenam, Tuah mendengar suara tangisan dari balik tirai sutera di paviliun tamu. Ia mengendap mendekat, dan melihat Raden Galuh Ratna Cempaka duduk di lantai bambu, memeluk lututnya.

Putri itu mengenakan kebaya brokat emas dan sanggul dengan hiasan bunga jasmine yang layu. “Aku tidak ingin pergi ke Malaka,” bisiknya pada dayang-dayangnya yang tertidur. “Aku tidak kenal laksamana itu. Aku tidak ingin meninggalkan tanah Jawa, meninggalkan makam leluhurku.”

Tuah berdiri di balik tiang, hatinya sesak. Ia ingat ibunya di Kampar, yang menangis saat ia berangkat ke Malaka muda-muda dulu. Ia ingat janjinya pada Sultan, tapi ia juga ingat rasa sakit meninggalkan kampung halaman.

Keesokan harinya, raja Majapahit memanggil Tuah ke singgasana. “Kau telah lulus semua ujian, Laksamana,” raja berkata, suaranya lebih lembut dari Patih.

“Tapi aku punya satu syarat lagi. Kau harus bersumpah setia pada Majapahit, mengakui bahwa Malaka adalah vasal kami. Maka putriku akan kau bawa pulang.”

Seluruh istana menahan napas. Patih Gajah Enggon tersenyum licik—jika Tuah bersumpah, Malaka akan kehilangan martabatnya. Jika tidak, putri tidak akan diberikan, dan Tuah akan dipancung di depan khalayak.

Tuah berdiri tegak, tangannya meremas cincin perak ibunya. “Ampun, Sang Prabu,” katanya, suaranya tenang namun tegas. “Aku adalah hamba Sultan Mansur Shah, penguasa Malaka yang merdeka. Sumpah setiaku hanya untuk Sultan, hanya untuk tanah Malaka. Aku tidak akan mengkhianati negara yang telah membesarkanku, bahkan demi putri tercantik di Nusantara.”

Istana sunyi senyap. Patih Gajah Enggon mencabut krisnya, prajurit Jawa mengarahkan tombaknya ke arah Tuah. Tapi raja Majapahit malah tertawa keras, suaranya bergema di dinding istana.

“Inilah Hang Tuah yang legendaris! Laki-laki sejati, setia pada janjinya, tidak takut mati. Bawa putriku, bawa kris Taming Sari, dan kembalilah ke Malaka dengan damai. Majapahit tidak akan mengganggu Malaka selama kau masih hidup.”

Tiga hari kemudian, ghali Panglima berlayar kembali ke Malaka. Raden Galuh duduk di kabin kapal, menatap laut dengan mata sembab, tapi perlahan mulai tersenyum saat Tuah membawakan sepiring kue putu Mayang khas Malaka.

Usman berlari-lari kecil membawa ember air tawar, tertawa karena akhirnya selamat dari negeri Jawa yang menakutkan. Tuah berdiri di pucuk kapal lagi, angin laut menerpa wajahnya, membawa bau lada dan timah yang akrab.

Ia memegang kris Taming Sari di tangannya, bilahnya berkilau di bawah sinar matahari. Ia tahu bahwa sekembalinya nanti, ia akan menghadapi tantangan baru: menikahkan putri dengan Sultan, memadamkan kerusuhan di Johor, melawan serangan Aru. Tapi ia juga tahu, selama ia memegang sumpahnya, selama ia setia pada Malaka, tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Pada tahun 2025, tim peneliti Universiti Kebangsaan Malaysia melakukan uji karbon pada nisan di makam Hang Tuah di Tanjung Kling, Malaka. Hasilnya menunjukkan bahwa nisan itu berasal dari abad ke-15, sesuai dengan catatan sejarah (UKM, 2025).

Nama Hang Tuah kini hidup dalam Hikayat Hang Tuah yang masih dibacakan di kampung-kampung Melayu, dalam kris Taming Sari yang dipajang di museum, dalam ombak Selat Malaka yang terus berdebur, menyimpan kisah kesetiaan seorang laki-laki yang memilih negaranya di atas segalanya.

Di Nusantara, ia bukan sekadar tokoh legenda, tapi simbol bahwa kesetiaan adalah kekuatan yang lebih tajam dari pedang mana pun.


Referensi:

  1. Brown, C.C. (trans.). (1970). Sejarah Melayu, or Malay Annals. Oxford University Press.
  2. Department of National Heritage Malaysia. (2024). Excavation Report: Banda Hilir Malacca.
  3. Khoo Kay Kim. (1978). Hang Tuah: A Study of the Malay Hero. University of Malaya Press.
  4. Reid, A. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680: Vol 1, The Lands Below the Winds. Yale University Press.
  5. Robson, S. (trans.). (1995). Desawarnana (Nagarakretagama). KITLV Press.
  6. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). (2025). Carbon Dating of Hang Tuah’s Gravestone.
  7. Winstedt, R.O. (ed.). (1919). The Hikayat Hang Tuah. Royal Asiatic Society.
Exit mobile version