Layar Terkembang di Kota Santri: Era Baru Sinema dan Kreativitas Situbondo

Layar Terkembang di Kota Santri: Era Baru Sinema dan Kreativitas Situbondo
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo bersama owner Kota Cinema Mall (KCM) di Roxy Situbondo, Fany Facely saat meninjau proses finishing Bioskop, Rabu (28/1/2026) (jtn/io)

Penantian puluhan tahun berakhir. KCM Situbondo hadir dengan 3 studio. Bupati Mas Rio gagas festival film lokal demi lahirkan sineas dari Kota Santri.

INDONESIAONLINE – Setelah puluhan tahun lamanya masyarakat Kabupaten Situbondo mengalami “kemarau” hiburan layar lebar, angin segar perubahan akhirnya berembus di awal tahun 2026 ini. Selama beberapa dekade terakhir, warga di kawasan Tapal Kuda ini harus menempuh perjalanan jauh ke kota tetangga seperti Jember atau bahkan Surabaya hanya untuk menikmati sensasi menonton film di bioskop.

Namun, narasi itu kini berubah. Situbondo akhirnya memiliki bioskop pertamanya kembali, sebuah monumen baru yang tidak hanya berdiri sebagai pusat hiburan, tetapi juga sebagai inkubator mimpi bagi talenta-talenta muda daerah.

Gedung bioskop yang diberi nama Kota Cinema Mall (KCM) Situbondo ini menjadi simbol transformasi budaya urban di kota yang dikenal religius tersebut. Kehadirannya menyita perhatian publik, bukan hanya karena fungsinya sebagai tempat pemutaran film, melainkan karena visi besar yang diletakkan di balik layar peraknya oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.

Realisasi Janji di Atas Tanah Kelahiran

Bagi Bupati muda yang akrab disapa Mas Rio ini, berdirinya KCM Situbondo adalah pelunasan utang janji politik yang ia ucapkan saat masa kampanye. Namun, lebih dari sekadar politik, ini adalah tentang kolaborasi putra daerah untuk membangun kampung halaman.

Mas Rio tidak bergerak sendiri; ia menggandeng pengusaha asli Situbondo, Fany Facely, untuk memulangkan modal dan berkontribusi secara nyata. Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi bioskop pada Rabu (28/1/2026), Mas Rio tampak antusias menyusuri lorong-lorong studio yang masih beraroma cat baru tersebut.

“Ini bioskop pertama yang dibangun di Situbondo setelah sekian lama vakum. Ini sebenarnya wujud nyata dari janji kampanye saya. Saya meminta secara khusus kepada Mas Fany, sebagai putra daerah, untuk membangun bioskop di tanah kelahirannya. Alhamdulillah, hari ini kita lihat buktinya,” ujar Mas Rio dengan nada optimistis.

Langkah Mas Rio menggandeng investor lokal ini sejalan dengan tren ekonomi daerah di Indonesia pasca-pandemi, di mana Local Direct Investment (Investasi Langsung Domestik) menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi di tingkat kabupaten/kota.

Kehadiran bioskop ini diproyeksikan akan menciptakan multiplier effect (efek berganda), mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, pendapatan pajak hiburan daerah, hingga hidupnya ekosistem UMKM di sekitar lokasi bioskop.

Transformasi Bioskop: Dari Hiburan Menjadi Ruang Edukasi

Tantangan terbesar mendirikan bioskop di daerah yang kental dengan kultur santri adalah stigma. Mas Rio menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, ia mereposisi fungsi bioskop bukan sekadar tempat bersenang-senang, melainkan sebagai ruang edukasi dan apresiasi seni. Narasi ini penting untuk menyelaraskan kemajuan infrastruktur hiburan dengan kearifan lokal setempat.

“Sekarang paradigma bioskop itu sudah berubah, sudah sangat edukatif. Ini bisa menjadi sarana edukasi visual bagi masyarakat, terutama anak muda. Kita bisa belajar sejarah, budaya, dan teknologi melalui film,” tegas Mas Rio.

Visi edukatif ini bukan sekadar lip service. Pemerintah Kabupaten Situbondo tengah menyiapkan cetak biru (blueprint) program yang mengintegrasikan bioskop dengan kurikulum kreatif sekolah. Salah satu gagasan revolusioner yang dilontarkan adalah menjadikan bioskop sebagai etalase karya pelajar dan mahasiswa Situbondo.

Bagian paling menarik dari kedatangan bioskop ini adalah rencana Mas Rio untuk menggelar festival film lokal. Selama ini, banyak kreator muda di daerah yang memiliki bakat luar biasa dalam sinematografi, namun karya mereka berakhir mengendap di penyimpanan digital atau hanya beredar di lingkup terbatas media sosial tanpa apresiasi yang layak.

Mas Rio ingin mematahkan batasan tersebut. Dalam konsep yang sedang dimatangkan, film-film pendek berdurasi lima hingga tujuh menit karya anak muda Situbondo—baik itu fiksi, dokumenter, maupun animasi—akan mendapatkan slot tayang di layar lebar KCM.

“Bayangkan kebanggaan mereka. Biar mereka merasakan karyanya ditonton di bioskop sungguhan, dengan kualitas suara dan gambar standar industri. Itu bisa menumbuhkan semangat kreativitas yang luar biasa,” jelas Mas Rio.

Skema ini rencananya akan menggunakan sistem tiket berbayar, yang hasilnya bisa kembali kepada para kreator sebagai bentuk royalti atau pendanaan karya selanjutnya. Jika model ini berhasil, Situbondo bisa menjadi salah satu dari sedikit kabupaten di Jawa Timur yang memiliki ekosistem perfilman mandiri.

“Siapa tahu ada sineas andal lahir dari Situbondo. Siapa tahu ada bintang film besar di masa depan yang ternyata asalnya dari sini, dan memulainya dari layar bioskop ini,” imbuhnya penuh harap.

Hal ini berkaca pada fenomena film-film berbahasa daerah seperti Yowis Ben atau Ngeri-Ngeri Sedap yang sukses secara nasional, membuktikan bahwa cerita dari daerah memiliki tempat di hati penonton Indonesia.

Fasilitas Modern dan Aksesibilitas Digital

Dari sisi infrastruktur, KCM Situbondo tidak main-main. Pengelola bioskop, Fany Facely, menjelaskan detail fasilitas yang siap memanjakan warga. Bioskop ini dilengkapi dengan tiga studio modern yang memiliki total kapasitas sekitar 460 kursi.

“Kami menyiapkan tiga studio. Kualitas layar dan sistem tata suaranya (sound system) setara dengan bioskop-bioskop di kota besar. Total kapasitas sekitar 460 penonton, cukup untuk mengakomodasi antusiasme warga,” terang Fany.

Menariknya, meskipun berada di kota tingkat dua (second-tier city), manajemen KCM menerapkan sistem yang sepenuhnya modern. Tidak ada lagi antrean konvensional yang semrawut. Pembelian tiket sudah terintegrasi secara digital.

“Tiket bisa dibeli secara online melalui laman resmi kami di bioskopkcm.com. Jadi warga tidak perlu takut kehabisan tiket saat sampai di lokasi. Namun, bagi yang belum terbiasa, kami tetap membuka loket pembelian langsung (on the spot),” tambah Fany.

Digitalisasi layanan ini menunjukkan bahwa Situbondo siap beradaptasi dengan gaya hidup modern yang efisien. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet di daerah terus meningkat, sehingga sistem tiket daring ini diprediksi akan diadopsi dengan cepat oleh kaum milenial dan Gen-Z Situbondo.

Jadwal pembukaan bioskop telah disusun dengan rapi, memadukan unsur seremonial, sosial, dan komersial, yakni:

  1. 12 Februari 2026: Peresmian (Grand Launching) yang akan dilakukan langsung oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Momen ini akan menjadi penanda sejarah baru industri hiburan di Situbondo.
  2. 13 Februari 2026: Satu hari sebelum dibuka untuk umum, manajemen KCM mendedikasikan waktu khusus untuk kegiatan sosial. Ratusan anak yatim piatu di Situbondo akan diundang untuk nonton bareng (nobar) secara gratis. Langkah ini merupakan bentuk syukur sekaligus Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan agar keberadaan bioskop membawa berkah bagi sesama.
  3. 14 Februari 2026: Bioskop resmi dibuka untuk umum (komersial). Tanggal ini dipilih bertepatan dengan momen akhir pekan dan hari kasih sayang, strategi yang jitu untuk menarik segmen anak muda dan keluarga.

Dampak Ekonomi dan Budaya

Kehadiran bioskop di sebuah kabupaten memiliki dampak yang seringkali tidak disadari. Secara ekonomi, data industri perfilman nasional mencatat bahwa ekspansi layar bioskop ke daerah-daerah (Tier 2 dan Tier 3) meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.

Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mencatat tren positif di mana penonton daerah menjadi penyumbang signifikan bagi box office film-film Indonesia.

Bagi Situbondo, ini berarti perputaran uang akan tertahan di dalam kota. Warga yang biasanya membelanjakan uangnya untuk bensin, makan, dan tiket bioskop di Jember atau Surabaya, kini akan membelanjakannya di Situbondo sendiri. Ini akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hiburan.

Di sisi lain, secara budaya, bioskop adalah ruang interaksi sosial yang egaliter. Di dalam studio yang gelap, semua orang dari berbagai latar belakang duduk setara menikmati karya seni yang sama. Ini adalah ruang publik baru yang sehat bagi masyarakat Situbondo untuk melepas penat dan mencari inspirasi.

Dengan segala persiapan matang, dukungan penuh pemerintah daerah, dan visi pemberdayaan talenta lokal, KCM Situbondo bukan sekadar gedung pemutar film. Ia adalah mercusuar baru harapan, kreativitas, dan kemajuan ekonomi bagi “Bumi Shalawat Nariyah”. Masyarakat kini menanti, film apa yang akan menjadi pembuka tirai sejarah baru di Situbondo pada Februari mendatang (wbs/dnv).