Marjane Satrapi, penulis Persepolis meninggal 4 Juni 2026 di Prancis usia 56 tahun. Dunia sastra berduka kehilangan ikon kritis Iran-Prancis.
INDONESIAONLINE – Kantor Kepresidenan Prancis mengumumkan kabar duka yang mengejutkan dunia sastra dan seni pada Kamis (4/6/2026): Marjane Satrapi, penulis grafis, sutradara, dan aktivis ikonik Iran-Prancis, meninggal dunia di Paris pada usia 56 tahun. Keluarganya yang diwawancarai AFP menyebut penyebab kematiannya adalah “kesedihan mendalam” yang dideritanya sejak suaminya, fotografer Mattias Ripa, wafat dalam kecelakaan mobil di Paris pada Juni 2025.
Satrapi dikenal dunia lewat memoar grafis hitam-putih Persepolis yang diterbitkan pada 2000, yang berhasil mengubah cara dunia memandang Iran, meninggalkan narasi konflik politik semata menuju potret manusiawi warga Iran biasa.
Perjalanan Karier: Dari Persepolis ke Layar Lebar
Marjane lahir pada 1969 di Rasht, Iran, dari keluarga bangsawan yang dekat dengan lingkaran intelektual Teheran. Masa kecilnya diwarnai pergolakan Revolusi Islam 1979, yang melahirkan pembatasan ketat bagi perempuan, termasuk kewajiban berhijab, yang kelak menjadi tema utama karya-karyanya.
Sejumlah anggota keluarganya ditangkap, disiksa, bahkan dieksekusi mati akibat penentangan terhadap rezim baru, memaksa orang tuanya mengirim Marjane remaja ke Austria pada 1984 untuk melanjutkan pendidikan menengah.
Setelah empat tahun di Eropa, kerinduan pada kampung halaman membawanya kembali ke Iran, di mana ia menempuh studi komunikasi visual di University of Tehran. Namun represi rezim yang semakin ketat membuatnya memutuskan menetap di Prancis pada 1994, dan resmi memperoleh kewarganegaraan Prancis pada 2006.
Persepolis pertama kali terbit dalam empat volume pada 2000-2003, menceritakan masa kecilnya di Iran, petualangan remajanya di Austria, hingga pergulatannya menemukan identitas di antara dua budaya yang sering bertentangan.
Karya tersebut meraih kesuksesan instan: terjual lebih dari 2 juta kopi di seluruh dunia, diterjemahkan ke dalam 40 bahasa, dan memenangkan Penghargaan Festival Komik Internasional Angoulême pada 2001. Ironisnya, buku ini dilarang beredar di Iran pada 2012 dengan alasan “menyebarkan propaganda Barat.”
Pada 2007, Satrapi mengadaptasi Persepolis menjadi film animasi bersama sutradara Vincent Paronnaud. Film tersebut meraih Jury Prize di Festival Film Cannes, masuk nominasi Academy Award untuk kategori Film Animasi Terbaik, dan meraup pendapatan global sebesar US$25 juta.
Sepanjang kariernya, ia juga menyutradarai film laga The Voices (2014) yang dibintangi Ryan Reynolds, serta Radioactive (2019) yang mengangkat kisah ilmuwan Marie Curie dengan pemeran utama Rosamund Pike. Pada 2023, ia menjadi wanita pertama yang memenangkan Grand Prix de la ville d’Angoulême untuk kedua kalinya, setelah meraihnya pertama kali pada 2013.
Aktivisme Tajam: Kritik Rezim Iran hingga Tolak Penghargaan Prancis
Di luar dunia seni, Satrapi dikenal sebagai kritikus vokal rezim Iran yang konsisten mengampanyekan kebebasan perempuan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Ia aktif menyoroti represi rezim terhadap pengunjuk rasa, termasuk gerakan Woman, Life, Freedom yang meletus setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.
Dalam op-ed untuk The Guardian pada 2023, ia menulis: “Rakyat Iran bukanlah rezim yang berkuasa. Kami adalah ibu, ayah, pelajar, seniman yang hanya ingin hidup bebas.”
Satrapi juga tidak segan mengkritik sikap ambigu negara-negara Barat terhadap perjuangan rakyat Iran. Pada 2025, ia menolak menerima Legion d’Honneur, penghargaan tertinggi Prancis, dengan alasan Paris tidak memberikan dukungan memadai terhadap gerakan demokrasi di Iran.
“Kebebasan tidak bisa setengah-setengah. Prancis harus berdiri di pihak rakyat, bukan rezim,” katanya saat mengumumkan penolakan tersebut.
Kehilangan suami tercinta pada Juni 2025 menjadi pukulan terberat bagi Satrapi. Mattias Ripa, fotografer berkebangsaan Swedia-Prancis yang sering mendokumentasikan proyek seninya, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di bundaran Étoile, Paris. Sejak itu, kerabat dekat menyebut Satrapi jarang muncul di publik dan semakin fokus pada pekerjaan seninya secara tertutup.
Warisan Budaya: Persepolis Jadi Jembatan Paham Iran Humanis
Satrapi meninggalkan warisan besar bagi dunia persuratan dan diplomasi budaya. Persepolis dianggap sebagai karya yang memanusiakan Iran, yang selama puluhan tahun hanya dipandang melalui lensa konflik politik, sanksi internasional, dan ketegangan dengan Barat.
Buku tersebut menunjukkan bahwa Iran, seperti negara lain di dunia, dihuni oleh keluarga yang mencintai anak-anaknya, persahabatan antarsekolah, humor khas, dan kehidupan sehari-hari yang penuh warna.
Data dari Asosiasi Studi Iran (2025) menunjukkan Persepolis diajarkan di lebih dari 300 universitas di Amerika Serikat dan 150 sekolah menengah di Eropa sebagai bahan bacaan wajib tentang Timur Tengah.
“Marjane berhasil menghapus stigma bahwa Iran adalah negara yang tertutup dan menakutkan. Ia menunjukkan wajah Iran yang hangat, yang kita semua bisa relate,” kata Dr. Leila Mousavi, profesor studi Timur Tengah di University of London.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron menyampaikan penghormatan terbesar kepada Satrapi dalam pernyataan resmi pada Jumat (5/6/2026). “Marjane adalah seorang seniman besar yang mengabdikan hidupnya untuk kebebasan dan kemanusiaan. Prancis berduka kehilangan putri terbaiknya,” kata Macron.
Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati juga merilis pernyataan yang menyebut Satrapi sebagai “suara kebebasan yang menghubungkan dua budaya, Iran dan Prancis.”
Satrapi meninggalkan satu putri, Sarah Ripa, 24, yang kini tinggal di Paris. Rencananya, keluarga akan mengadakan upacara pemakaman tertutup di Pemakaman Père Lachaise, Paris, pada Senin (8/6/2026), bertepatan dengan hari di mana ribuan penggemarnya di seluruh dunia berencana mengadakan doa bersama untuk mengenang sang ikon.
