Beranda

Martha Tilaar Tutup Usia, Kisah dari Salon Kecil hingga Membawa Kosmetik Indonesia ke Dunia

Martha Tilaar mengembuskan napas terakhir dalam usia 89 tahun. (amartha)

INDONESIAONLINE  – Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Martha Tilaar di kawasan Patra Kuningan Utara, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Sejumlah kerabat dan pelayat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa atas kepergian pengusaha kecantikan tersebut yang meninggal dunia pada usia 89 tahun itu.

Martha Tilaar mengembuskan napas terakhir di RS Medistra, Jakarta, pada Rabu pukul 06.22 WIB. Sosok yang dikenal sebagai pelopor bisnis kecantikan Indonesia itu juga menjadi mentor sekaligus sumber inspirasi bagi banyak orang.

Pada Rabu siang, rumah duka mulai didatangi para pelayat. Sejumlah karangan bunga ucapan belasungkawa tampak menghiasi bagian depan rumah. Karangan bunga tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari dunia usaha, kecantikan, hingga hiburan. Beberapa tokoh yang turut menyampaikan ungkapan duka cita di antaranya Kris Dayanti, Agum Gumelar, Akbar Tandjung, serta keluarga Habibie.

Di bagian teras, sejumlah pelayat tampak berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Bryan Tilaar, putra sulung Martha dari pernikahannya dengan Henry Alex Tilaar. Suasana di rumah duka berlangsung tenang dan penuh haru.

Bryan mengungkapkan, ibunya meninggal dunia setelah mengalami serangan asma. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Martha diketahui menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar delapan hingga sembilan hari.
“Kurang lebih sudah 8-9 hari berada di rumah sakit. Jadi penyakitnya asma. Asmanya sudah selesai tapi ada pendarahan seperti itu. Itu memang sudah terjadi 1,5 tahun yang lalu. Jadi memang sudah waktunya,” kata Bryan.

Jenazah Martha Tilaar disemayamkan di kediaman keluarga sesuai dengan permintaan mendiang. Sementara itu, pihak keluarga menyampaikan bahwa pemakaman dijadwalkan berlangsung pada Jumat 16 Oktober 2026.

Dari Salon Kecil hingga Membawa Kosmetik Indonesia ke Dunia

Perempuan kelahiran Gombong, Kebumen, Jateng, 4 September 1937 tersebut meninggalkan warisan berupa filosofi Local Wisdom Go Global. Sepanjang perjalanan hidupnya, Martha tidak hanya mengembangkan bisnis kosmetik berbasis kekayaan alam dan budaya Indonesia, tetapi juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui berbagai program sosial.

Perjalanan Martha menuju kesuksesan tidak terlepas dari perjuangan sejak kecil. Ia pernah menghadapi keraguan terhadap kemampuannya. Namun, sang ibu, Herna Liem, terus menanamkan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Dalam buku Dari Gombong Desaku Berkumandang di United Nations, New York, Martha mengabadikan pesan ibunya yang menjadi pegangan hidup. “Engkau masih mempunyai tangan, kaki, mata, dan mempunyai hati. Gunakanlah apa yang kau miliki itu untuk hidupmu,” demikian pesan Herna Liem yang ditulis Martha dalam bukunya.

Selain nasihat sang ibu, Martha juga berpegang pada prinsip JITU yang diwariskan ayahnya, Jacob Handana. Prinsip tersebut mencakup Jujur, Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Inovatif, Tekun, dan Ulet.

Memulai dari Salon Berukuran 3 x 4 Meter

Perjalanan Martha membangun bisnis kecantikan dimulai pada pertengahan 1969, setelah kembali dari Amerika Serikat bersama suaminya, Alex Tilaar. Ia memanfaatkan ruang depan rumah sang ayah di Jalan Tosari 47, Jakarta, sebagai salon sederhana berukuran 3 x 4 meter.

Dari tempat kecil tersebut, Martha mulai mengembangkan usaha dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kecantikan, kesehatan, dan bahan aromatik.

Usahanya kemudian berkembang hingga ia mendirikan PT Martina Berto dengan produk kosmetik Sariayu. Sebelumnya, Martha juga dikenal melalui kiprahnya dalam memopulerkan Mustika Ratu.

Bagi Martha, bisnis kosmetik bukan sekadar kegiatan komersial. Ia ingin memperkenalkan kekayaan alam dan tradisi perawatan kecantikan Nusantara kepada masyarakat internasional melalui pengembangan produk secara ilmiah.

Dalam bukunya, Martha menjelaskan filosofi yang menjadi landasan pengembangan Sariayu.
“Produk kosmetik yang kudirikan, produk Sari Ayu bukan hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Logo dari kosmetik Sari Ayu ialah: Mempercantik Perempuan Indonesia dan Dunia,” tulisnya.

Ia juga menegaskan pentingnya mengolah kekayaan budaya Indonesia menjadi produk yang mampu bersaing di pasar global melalui konsep Local Wisdom Go Global.

Kisah Keluarga dan Racikan Herbal

Selain perjalanan bisnis, pengalaman pribadi Martha juga diwarnai kisah tentang pemanfaatan ramuan herbal tradisional. Dalam penuturannya, ia pernah menghadapi diagnosis medis yang menyebut dirinya tidak dapat memiliki keturunan akibat penggunaan pil KB.

Martha kemudian mengonsumsi ramuan jamu herbal yang dibuat oleh sang eyang selama tiga tahun. Ia selanjutnya dikaruniai anak-anak, dan racikan herbal tersebut dikenal masyarakat sebagai kaplet Wulandari.

Dari pernikahannya dengan Alex Tilaar, Martha memiliki empat anak, yakni Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Tilaar, dan Dr. Kilala Tilaar. Ia juga memiliki sembilan cucu.
Anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi, termasuk di sejumlah universitas ternama dunia seperti Harvard, sebagaimana disebutkan dalam kisah perjalanan keluarga Martha.

Memberdayakan Perempuan hingga Mendapat Perhatian PBB

Kepedulian Martha terhadap pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Pengalaman mendengar kisah seorang mantan tenaga kerja wanita Indonesia di Hong Kong yang mengalami eksploitasi mendorongnya untuk mengambil langkah nyata.

Setelah peristiwa bom Bali, Martha menyewa sebuah hotel di Kuta selama 15 tahun untuk mendirikan pusat pelatihan terapis spa secara gratis. Program tersebut ditujukan bagi perempuan dari desa yang belum memiliki keterampilan profesional.

Melalui pelatihan itu, ribuan perempuan memperoleh keterampilan sebagai terapis spa dan kemudian bekerja di berbagai negara.

Upaya tersebut turut membawa nama Martha ke forum internasional. Pada 2000, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan mengundangnya ke New York. Di sana, Martha menjadi salah satu pendiri Global Compact Network.

Dalam forum tersebut, ia menyampaikan pengalaman dan perjuangan perempuan Indonesia melalui buku From Zero to Hero of the Family. Martha juga dipercaya menyampaikan pidato penutupan di hadapan para pemimpin dunia.

Pengalaman itu menjadi momen berharga bagi Martha, yang mengawali perjalanan hidupnya dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. “Sesudah aku tampil di podium dan selesai tugasku, aku merasa lega dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memberikan kesempatan bagiku seorang perempuan dari desa Gombong bisa tampil di arena internasional di tengah-tengah perusahaan raksasa di dunia,” tulis Martha dalam bukunya.

Kepergian Martha Tilaar meninggalkan jejak panjang dalam industri kosmetik Indonesia, pengembangan produk berbasis kearifan lokal, serta pemberdayaan perempuan. Perjalanannya menunjukkan bagaimana usaha yang dirintis dari salon kecil dapat berkembang menjadi bisnis yang dikenal di tingkat internasional. Salah satu prinsip yang menggambarkan perjalanan hidupnya adalah “Dream big, start small, act fast”. (rds/hel)

Exit mobile version