JATIMTIMES – Peningkatan ketrampilan instruktur atau pengajar untuk diklat kepelautan menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Sehingga, Sekolah Pelayaran Bhakti Samudera Surabaya bersama Pusat Pengembangan Sumber daya manusia Perhubungan Laut melaksanakan Training of Trainer (ToT) IMO Model Course 6.09 Training Course for Instructors. 

Pelaksanaan TOT. 6.09 sudah diikuti lebih dari 4 kelompok dan masing-masing Training ini diikuti 30 instruktur atau pengajar dari PT PMLI, Politeknik Sulawesi Utara, SMKN 7 Kupang, Kesyahbandaran Brondong Lamongan, dan lain-lain.

Kelompok terakhir pelatihan periode Desember ini dilaksanakan selama delapan hari mulai 13 hingga 21 Desember 2021. Pendidikan model pelatihan ini dilaksanakan dengan cara online, karena pemerintah belum mengizinkan untuk pengajaran dengan cara tatap muka. Meski demikian, proses pengajaran tetap diusahakan secara efektif dan efisien.

”Tujuan pelatihan ini supaya instruktur memiliki wawasan yang luas,” kata kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perhubungan Laut, Capt.Sahattua P. Simatupang, M.H., M.M yang diwakili Plt Kepala Bidang pelatihan, Capt. Dedy Kurniadi, MM.

Baca Juga  Masuki Purna-Bakti, Pesan Kabiro AUPK UIN Malang untuk Pegawai: Bekerja seperi Slogan Kemenag

Training  ini, lanjutnya, meliputi  pengetahuan dan ketrampilan, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta bersikap terbuka dalam menerima pendapat orang lain. Dalam pelatihan ini, lanjut dia, diisi oleh pengajar-pengajar yang memiliki kompetensi dan profesional di bidang masing-masing. 

”Mereka (pengajar) sangat berpengalaman di bidang pendidikan dan pelatihan kepelautan,” ujarnya.

Kepala Sekolah Pelayaran Bhakti Samudera Surabaya, Edy Sukiswo mengatakan, untuk mendapatkan ketrampilan mengajar yang benar-benar dibutuhkan di bidangnya, sebaiknya peserta pelatihan ini mengikuti semua tahapan dengan sempurna. Dengan cara itu, maka peserta bisa mendapatkan keilmuan yang bermanfaat.

”Saya berharap peserta pelatihan mengikuti prosesi pelatihan dengan baik. Saya yakin peserta bisa mengambil manfaat dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Pelatihan ini, ujarnya, diberikan kepada calon pengajar atau instruktur pada diklat kepelautan, baik kompetensi maupun ketrampilan untuk memenuhi standard training, certification and watchkeeping (STCW) 1978 dan amandemennya, STCW convention regulation I/6 training and assessment, STCW code section A-I/6 training and assessment.

Baca Juga  Rektor UIN Maliki Malang Lantik Ketua Omik: Pegang Amanah dan Sumpah

Perubahan di semua sektor, ungkap Edy telah berjalan dengan sangat cepat. Untuk itu diperlukan kemampuan menyikapi persoalan dengan cepat pula. Jika terlambat akan menjadi korban dari perubahan itu sendiri. ”Terlambat menyikapi perubahan, kita tidak hanya kalah tetapi menjadi korban perubahan itu sendiri,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut dia, sekolahnya yang memiliki akreditasi A memiliki kapasitas untuk mengembangkan ketrampilan pengajaran. 

“Kami telah menyelenggaran pelatihan mulai Juni 2021 dan akan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya untuk kelompok kelas lain,” imbuh Kepala Sekolah yg memiliki akreditasi A dan perijinan dari Perhubungan Laut serta menggunakan dua bahasa pengantar baik pembelajaran di sekolah maupun di asrama ini.



M. Bahrul Marzuki