INDONESIAONLINE – Sebanyak 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berhasil masuk dalam daftar 100 kampus terbaik di Indonesia versi Webometrics edisi Juli 2026. Capaian ini dinilai menjadi bukti meningkatnya daya saing perguruan tinggi Islam melalui penguatan tata kelola, kualitas akademik, riset, dan internasionalisasi.
Salah satu PTKIN yang masuk daftar top 100 itu adalah Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. UIN Malang berada di posisi empat dari 11 PTKIN yang masuk 100 kampus terbaik di Indonesia versi Webometrics edisi Juli 2026.
UIN Maliki Malang menempati posisi 48 untuk ranking Indonesia. Sedangkan di peringkat dunia, UIN Malang ada di posisi 1.471.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Prof Sahiron mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil transformasi pendidikan tinggi Islam yang terus dilakukan Kementerian Agama. Menurut dia, masuknya 11 PTKIN ke jajaran 100 besar perguruan tinggi nasional menunjukkan bahwa kampus keagamaan Islam kini semakin kompetitif dan mampu bersaing dengan kampus-kampus terbaik di Indonesia.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga para mitra yang terus berkolaborasi membangun mutu pendidikan tinggi Islam,” ujar Prof Sahiron di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan pemeringkatan Webometrics, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi PTKIN dengan posisi tertinggi, yakni peringkat ke-22 nasional sekaligus peringkat 1.115 dunia. Posisi berikutnya ditempati UIN Sunan Gunung Djati Bandung di peringkat ke-24 nasional. Disusul UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat ke-41 nasional dan UIN Maliki Malang di posisi 48 nasiomal.
Selain itu, tujuh PTKIN lain yang masuk dalam Top 100 nasional adalah UIN Raden Intan Lampung, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Walisongo Semarang.
Webometrics menyusun pemeringkatan berdasarkan empat indikator utama, yakni visibility, openness, wxcellence, dan impact. Prof Sahiron menegaskan, hasil pemeringkatan tersebut tidak hanya menjadi ukuran prestasi, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kontribusi PTKIN dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta penyebarluasan hasil riset kepada masyarakat.
Ia juga mengingatkan seluruh PTKIN agar tidak cepat berpuas diri. Menurut dia, tantangan pendidikan tinggi ke depan menuntut peningkatan kualitas riset, publikasi internasional bereputasi, kolaborasi global, penguatan tata kelola digital, dan layanan akademik yang semakin unggul.
“Kami optimistis semakin banyak PTKIN yang mampu masuk jajaran perguruan tinggi terbaik, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Sementara, Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Hj Ilfi Nur Diana MSi mengaku bangga dengan pencapaian kampusnya. Apalagi, UIN Malang tercatat sebagai kampus muda dibandingkan PTKIN lainnya.
“UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan kampus termuda dibandingkan tiga UIN lainnya, yakni di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Jumlah program studi yang lebih sedikit tentu berimplikasi pada jumlah mahasiswa dan dosen yang juga lebih sedikit,” ungkapnya.
Meski menduduki empat besar PTKIN terbaik, hal tersebut tidak membuat UIN Maliki surut langkah. Prof Ilfi bahkan bertekad terus membawa UIN Malang menjadi yang lebih baik daripada yang lainnya. “Justru capaian ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan serta keberdampakan di tingkat nasional maupun internasional,” tandas rektor wanita pertama di UIN Malang tersebut. (ars/hel)







