Menggali Jejak Raden Ayu Lasminingrat, Pionir Literasi Perempuan Indonesia

Raden Ayu Lasminingrat (tengah) sosok inspiratif dan merupakan ibu literasi pertama di Indonesia (Ist/IO)

INDONESIAONLINE – Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April, bangsa Indonesia seringkali hanya memusatkan perhatian pada sosok Raden Ajeng Kartini sebagai ikon emansipasi perempuan. Namun, di balik kemegahan perayaan tersebut, ada sosok perempuan dari tanah Sunda yang kontribusinya terhadap literasi dan pendidikan perempuan jauh mendahului Kartini.

Dia adalah Raden Ayu Lasminingrat, seorang pionir yang layak diakui sebagai pelopor intelektual perempuan pertama di Indonesia.

Raden Ayu Lasminingrat lahir pada 29 Maret 1854 di Garut, Jawa Barat. Dia adalah putri dari Raden Haji Moehammad Moesa, perintis kesusastraan cetak Sunda dan tokoh terkemuka pada abad ke-19. Sejak kecil, Lasminingrat sudah terpapar dunia literasi melalui karya-karya sang ayah yang menjadi pionir penerbitan literatur berbahasa Sunda.

Meski berasal dari keluarga terpandang, perjalanan pendidikan Lasminingrat tidaklah mudah. Pada usia muda, ia pindah ke Sumedang untuk melanjutkan pendidikan. Di sana, ia belajar membaca, menulis, dan mempelajari bahasa Belanda—sebuah langkah yang tidak biasa bagi perempuan pada masa itu. Ketekunan dan semangat belajarnya yang tinggi menjadi fondasi perjalanan intelektualnya.

Menyadur Cerita Grimm untuk Perempuan Sunda

Lasminingrat memiliki visi membawa wawasan dan kebijaksanaan dari cerita klasik Eropa kepada masyarakat Sunda. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah saduran dari cerita Grimm yang populer di Eropa pada abad ke-19. Melalui proses sadur yang teliti, ia mentransformasikan kisah-kisah ini agar relevan dan dinikmati perempuan Sunda.

Kumpulan cerita hasil sadurannya diterbitkan pertama kali pada 1875 dengan judul “Tjarita Erman” saat Lasminingrat berusia 21 tahun. Buku ini diterbitkan oleh Landsdrukkerij, percetakan milik pemerintah. Dengan penerbitan ini, Lasminingrat berhasil membawa dunia Eropa lebih dekat kepada masyarakat Sunda, memungkinkan mereka belajar dan mengambil hikmah dari cerita yang memiliki nilai universal.

Semangat Lasminingrat memperkaya literatur Sunda tidak berhenti pada satu karya. Pada 1876, ia menerbitkan karya kedua berjudul “Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng”.

Buku ini juga diterbitkan oleh Landsdrukkerij dan berisi beragam cerita sarat dengan nilai-nilai dan pelajaran moral.

Dalam “Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng,” Lasminingrat kembali menunjukkan keahliannya menyadur dan menyajikan cerita dengan cara yang menarik bagi pembaca lokal. Dengan memasukkan unsur-unsur budaya Sunda dan pesan-pesan moral yang relevan, ia memastikan karyanya bukan hanya hiburan tetapi juga sarana pendidikan yang berharga.

Mendirikan Sekolah untuk Perempuan

Pada 1907, Lasminingrat mendirikan Sekolah Kautamaan Isteri di Garut, sebuah sekolah yang didedikasikan untuk memberikan pendidikan kepada perempuan. Inisiatif ini sangat revolusioner pada masanya karena membuka kesempatan bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan formal yang sebelumnya hanya terbatas bagi laki-laki. Sekolah ini, yang masih berdiri hingga hari ini, telah diakui sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sebagai istri dari Bupati Garut, Raden Adipati Aria Wiratanudatar VIII, Lasminingrat menggunakan pengaruhnya memperluas akses pendidikan bagi perempuan. Sekolah Kautamaan Isteri berkembang pesat, dengan jumlah siswa mencapai 200 orang, memaksa dibangunnya lima ruang kelas tambahan dan cabang-cabang sekolah di Bayongbong dan Cikajang.

Lasminingrat juga memiliki hubungan erat dengan Raden Dewi Sartika, tokoh pendidikan perempuan lainnya dari Sunda. Dukungan Lasminingrat terhadap Sartika menunjukkan solidaritas dan semangat kebersamaan di antara para pelopor pendidikan perempuan pada masa itu.

Lasminingrat membantu Sartika memperoleh izin mendirikan sekolahnya, sebuah bentuk dukungan yang sangat berarti dalam perjuangan pendidikan perempuan di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Tokoh: Ibu Literasi Pertama Indonesia

Warisan Lasminingrat dalam literasi dan pendidikan perempuan sungguh luar biasa. Ia dikenang sebagai tokoh intelektual perempuan pertama di Indonesia dan sering disebut sebagai “Ibu Literasi Pertama Indonesia“. Namun, ironisnya, pengakuan resmi sebagai pahlawan nasional masih belum dianugerahkan kepadanya meskipun kontribusinya sangat signifikan dalam memajukan perempuan di tanah air.

Lasminingrat wafat pada usia 94 tahun, tepatnya pada 10 April 1948. Selama hampir satu abad hidupnya, ia mendedikasikan diri untuk memajukan pendidikan dan literasi bagi perempuan. Keberaniannya menembus batasan sosial dan budaya menjadikannya pionir sejati dalam dunia pendidikan perempuan di Indonesia.

Meskipun telah banyak berkontribusi, nama Lasminingrat belum sepenuhnya mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah nasional. Ketika Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember, seharusnya ini menjadi momen untuk mengingat dan menghargai jasa-jasa perempuan seperti Lasminingrat.

Kontribusinya sebagai pelopor pendidikan dan literasi perempuan seharusnya mendapatkan pengakuan setara dengan tokoh-tokoh perempuan lainnya seperti Kartini dan Dewi Sartika.

Saat kita merayakan Hari Kartini, mungkin kita perlu meluangkan waktu sejenak mengenang dan mengapresiasi Lasminingrat. Perjuangannya dalam memajukan pendidikan perempuan jauh mendahului Kartini dan Dewi Sartika, menunjukkan bahwa perempuan Sunda memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan dan literasi di Indonesia.

Mengembalikan Nama Lasminingrat ke Panggung Sejarah

Kini, dengan semakin terbukanya akses informasi dan sejarah, saatnya kita memberikan pengakuan layak bagi Raden Ayu Lasminingrat. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama menggali kembali kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh perempuan yang terlupakan ini.

Mengangkat nama Lasminingrat sebagai pahlawan nasional adalah langkah awal untuk menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam sejarah pendidikan dan literasi.

Pengakuan ini bukan hanya bentuk penghormatan bagi Lasminingrat, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang. Perempuan Indonesia, di manapun mereka berada, memiliki potensi besar memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat dan bangsa. Dan bahwa sejarah perempuan Indonesia tidak dimulai dan berakhir dengan satu tokoh saja, tetapi merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan dan dedikasi dari banyak perempuan hebat seperti Raden Ayu Lasminingrat (ar/dnv).