Polisi Cape Town selidiki kematian gelandang timnas Afrika Selatan Jayden Adams (25). SAFPU konfirmasi, keluarga & dunia sepak bola berduka.
INDONESIAONLINE – Kepolisian Cape Town kini berada di bawah sorotan publik internasional terkait investigasi kematian mendadak Jayden Adams. Gelandang berusia 25 tahun tersebut ditemukan tidak bernyawa di kediamannya kawasan Schotsche Kloof, tak lama setelah ia kembali ke tanah air usai memperkuat Bafana Bafana di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara.
Hingga Selasa (14/7), otoritas setempat masih menutup rapat mulut mengenai penyebab pasti kematian maupun kronologi kejadian. Asosiasi Pemain Sepak Bola Afrika Selatan (SAFPU) sendiri telah memastikan kabar duka tersebut pada Sabtu (11/7).
Belum adanya keterangan resmi memicu spekulasi liar di media sosial, namun polisi menegaskan tidak ada bukti yang mengarah pada dugaan tertentu. Masyarakat diimbau menunggu hasil investigasi yang komprehensif.
Dalam catatan sepak bola terkini, Adams merupakan salah satu aset berharga Mamelodi Sundowns—klub dengan raihan gelar liga domestik terbanyak—yang diproyeksikan menjadi tulang punggung timnas di dekade mendatang.
Dedikasi di Tengah Bara Duka
Kepergian Adams meninggalkan lubang besar bagi skuad Bafana Bafana. Pada Piala Dunia 2026, ia mencatatkan tiga penampilan yang menunjukkan mentalitas baja. Sehari sebelum laga fase grup kontra Republik Ceko, neneknya, Marianna, meninggal dunia.
Adams memilih tetap turun sejak menit awal, membantu Afrika Selatan menahan imbang 1-1. Ia kembali starter saat kalah 0-2 dari Meksiko dan masuk sebagai pengganti saat menang 1-0 atas Korea Selatan. Langkah timnas terhenti di babak gugur usai kalah dari Kanada pada 28 Juni, di mana Adams hanya duduk di bangku cadangan.
Ayah mendiang, Juanito Adams, mengungkapkan kehancuran keluarganya melalui eNCA. “Keluarga kami sangat kesulitan untuk memproses kejadian ini. Tidak akan mudah bagi kami untuk melanjutkan hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Orang-orang mengatakan seiring berjalannya waktu semuanya akan menjadi lebih mudah, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Kami hanya harus belajar hidup dengan rasa kehilangan ini. Seluruh dunia memberikan penghormatan kepada Jayden. Kami melihat sendiri betapa besar cinta masyarakat terhadap dirinya dan bakat sepak bolanya.”
Penghormatan global pun diberikan menjelang perempat final antara Inggris vs Norwegia di Stadion Miami, di mana seluruh stadion mengheningkan cipta. Menteri Olahraga, Seni, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie, menilai Adams adalah sosok rendah hati.
“Saya akan selalu mengingat kerendahan hati dan rasa syukurnya setiap kali kami berbincang,” kata McKenzie.
“Keputusannya untuk tetap mengenakan jersey tim nasional dan memberikan segalanya untuk negara di tengah suasana duka mendalam menunjukkan karakter dan profesionalisme yang melampaui usianya. Hal itu mencerminkan kualitas luar biasa dari seorang pemuda yang kini telah tiada.”
Data dari federasi sepak bola Afrika Selatan (SAFA) mencatat Adams memiliki tingkat konversi umpan sukses di atas 85% selama kualifikasi Piala Dunia, menjadikannya regista modern yang jarang dimiliki benua Afrika. Kehilangan ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang hilangnya inspirasi bagi generasi muda di Cape Flats, wilayah asal Adams yang dikenal sebagai penyuplai bakat keras untuk sepak bola nasional.
Dunia sepak bola kini menantikan hasil forensik dari kepolisian Cape Town. Di usia 25 tahun, Adams seharusnya masih memiliki dekade emas di lapangan hijau. Hingga berita ini diturunkan, keluarga dan klubnya masih menunggu jawaban ilmiah atas tragedi yang merenggut salah satu bintang paling cerah Afrika Selatan tersebut (ina/dnv).
