Dubes AS Marshall Green menolak ajakan Soekarno ke Pelabuhan Ratu karena takut mitos Nyi Roro Kidul. Simak ironi sejarah dan sains di baliknya.
INDONESIAONLINE – Pada dekade 1960-an, Jakarta adalah pusaran panas Perang Dingin. Di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia sedang memainkan tarik ulur geopolitik tingkat tinggi antara Blok Barat dan Blok Timur. Di tengah iklim politik yang sewaktu-waktu bisa meledak itu, Washington mengirimkan salah satu diplomat terbaiknya: Marshall Green.
Dikenal sebagai diplomat kawakan berjuluk “Coupmaster” karena rekam jejaknya di berbagai negara bergejolak, Green ditugaskan sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia pada tahun 1965. Di atas kertas, tugas utamanya adalah menjaga kepentingan AS dan membendung pengaruh komunisme. Ia terbiasa menghadapi ancaman revolusi, unjuk rasa anti-imperialis, hingga intrik intelijen.
Namun, sejarah mencatat sebuah anomali yang menggelitik. Sosok yang mewakili kedigdayaan negara adidaya itu ternyata pernah dibuat gemetar dan berkali-kali menolak ajakan Presiden Soekarno. Bukan karena ia takut diracun atau disergap oleh lawan politiknya, melainkan karena sebuah entitas tak kasatmata yang bertahta di Samudra Hindia: Nyi Roro Kidul.
Diplomasi di Tepi Kematian Hijau
Kisah tak biasa ini bermula dari kebiasaan Bung Karno. Sang Proklamator dikenal memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat dengan wilayah pesisir selatan Jawa, khususnya Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Pada awal 1960-an, menggunakan dana pampasan perang dari Jepang, Soekarno memerintahkan pembangunan Samudra Beach Hotel di Pelabuhan Ratu—sebuah resor mewah yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan presiden sekaligus simbol kebangkitan pariwisata modern Indonesia.
Sebagai bentuk keakraban diplomasi, Soekarno kerap mengundang tamu-tamu kenegaraan, termasuk Marshall Green, untuk melepas penat di resor yang langsung menghadap ke gulungan ombak ganas Samudra Hindia tersebut. Bagi Soekarno, itu adalah tawaran relaksasi. Namun bagi Green, itu adalah undangan menuju zona bahaya.
Ketakutan Green dipicu oleh sebuah insiden tragis yang menjadi perbincangan hangat di kalangan korps diplomatik di Jakarta saat itu. Sebuah kabar burung—yang kebenarannya diyakini oleh banyak pihak—menyebutkan bahwa seorang diplomat asing tewas terseret ombak mematikan di Pelabuhan Ratu.
Narasi yang berkembang tidak berhenti pada kematian itu sendiri, tetapi pada detail pakaian yang dikenakan sang korban: ia memakai baju berwarna hijau.
Insiden ini direkam dengan apik oleh pelukis maestro Indonesia, Basoeki Abdullah, dalam buku Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan (2023). Tragedi tersebut langsung dikaitkan dengan mitos kuno yang melarang siapa pun mengenakan pakaian berwarna hijau di pesisir selatan Jawa, karena warna tersebut diyakini sebagai warna kebesaran Nyi Roro Kidul.
Memakai warna hijau dianggap sebagai bentuk “penyerahan diri” untuk dijadikan prajurit atau pelayan di keraton bawah laut sang ratu.
Di sinilah letak ironinya. Marshall Green, seorang pria rasional didikan Barat, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan linguistik yang menakutkan: nama belakangnya adalah “Green”, yang secara harfiah berarti “Hijau”.
Sumber-sumber sejarah dan kesaksian menyebutkan bahwa sang Duta Besar merasa nama keluarganya adalah sebuah kutukan jika ia menginjakkan kaki di domain Ratu Pantai Selatan. Ia merasa dirinya sudah otomatis “ditandai” oleh sang penguasa gaib. Hasilnya, dengan berbagai diplomasi bahasa yang halus, Green berkali-kali menolak ajakan Soekarno. Sebuah ketakutan irasional berhasil mengalahkan protokol diplomasi tingkat tinggi.
Konstruksi Politik di Balik Sang Ratu Laut
Apa yang tidak diketahui oleh Marshall Green adalah bahwa sosok Nyi Roro Kidul yang membuatnya ketakutan sejatinya bermula dari sebuah mahakarya propaganda politik dan rekayasa budaya masa lalu.
Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Sastra, Sensor, dan Negara (1995), membedah mitos ini dengan pisau analisis sejarah materialisme. Pramoedya menjelaskan bahwa narasi Ratu Laut Selatan bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah konstruksi politik yang diciptakan pada era Kerajaan Mataram Islam, khususnya pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung pada abad ke-16 dan ke-17.
Kala itu, Mataram adalah kerajaan agraris yang berpusat di pedalaman Jawa. Mereka kehilangan dominasi politik dan ekonomi di pesisir utara Jawa (pantura) yang dikuasai oleh kekuatan niaga Islam pesisiran dan mulai diintervensi oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Karena tidak memiliki angkatan laut yang kuat dan akses pelabuhan utara yang memadai, raja-raja Mataram memutar orientasi geopolitik mereka ke selatan.
Untuk melegitimasi kekuasaan absolut mereka atas wilayah selatan yang buas dan tak tertembus, diciptakanlah mitos perkawinan mistis antara Raja Mataram dan Nyi Roro Kidul. Hal ini tertuang jelas dalam naskah kuno Babad Tanah Jawi. Mitos ini adalah cara cerdas keraton untuk menyebarkan teror psikologis dan penundukan tanpa harus mengirimkan tentara.
Larangan memakai baju hijau, konon, juga merupakan bentuk monopoli simbolik. Hijau (atau gadung melati) adalah warna eksklusif keraton yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata di area sakral sang raja. Berabad-abad kemudian, rekayasa politik ini mengakar menjadi dogma supranatural yang bahkan mampu membuat seorang Duta Besar Amerika Serikat menolak perintah presiden.
Maut di Balik Ombak: Penjelasan Oseanografi
Jika Nyi Roro Kidul adalah mitos, lalu apa yang membunuh sang diplomat asing dan ratusan korban lainnya yang terus berjatuhan setiap tahun di pesisir selatan Jawa? Jawabannya tidak terletak pada dimensi gaib, melainkan pada dinamika oseanografi ekstrem di Samudra Hindia.
Penelitian ilmiah modern telah mematahkan kutukan baju hijau dengan penjelasan fisika dan topografi laut. Studi bertajuk “Studi Rip Current di Pantai Selatan Yogyakarta” (2015) dari Universitas Diponegoro, serta berbagai jurnal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyimpulkan bahwa pembunuh sebenarnya di pesisir selatan adalah Rip Current atau arus susur pantai.
Pesisir selatan Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia, menghasilkan dasar laut yang curam (palung) tanpa penghalang karang (barrier reef). Gelombang laut yang datang dari Samudra Hindia menghantam pantai dengan energi masif. Ketika gelombang besar pecah di pantai, air dalam volume raksasa itu harus segera kembali ke laut. Air tersebut akan mencari cekungan atau jalur terdalam di dasar pasir untuk kembali.
Aliran balik inilah yang disebut rip current. Arus ini menyerupai “sungai di bawah laut” yang sangat sempit namun memiliki kecepatan tarikan hingga 2 meter per detik—lebih cepat dari rekor perenang Olimpiade mana pun. Siapa pun yang terjebak di jalur ini, tak peduli seberapa mahir ia berenang, akan terseret dengan cepat ke laut lepas. Kepanikan dan kelelahan akibat melawan arus inilah yang menyebabkan kematian.
Lalu, bagaimana dengan pantangan warna hijau? Dari perspektif Search and Rescue (SAR), larangan ini memiliki landasan logis yang tak terbantahkan. Air laut di pesisir selatan, yang sering bercampur dengan pasir dan pantulan langit, umumnya membiaskan spektrum warna biru kehijauan.
Jika seorang korban terseret arus sambil mengenakan pakaian berwarna hijau atau biru, tubuhnya akan mengalami kamuflase visual (blend in) dengan warna air laut. Hal ini membuat proses pencarian dan penyelamatan oleh tim SAR dari tepi pantai maupun dari udara (helikopter) menjadi sangat sulit. Sebaliknya, pakaian berwarna kontras seperti oranye, merah terang, atau kuning sangat dianjurkan karena mudah diidentifikasi di tengah gulungan ombak.
Kisah Duta Besar Marshall Green dan Pelabuhan Ratu adalah sebuah monumen ironi yang indah dalam sejarah diplomasi. Di satu sisi, ia merepresentasikan bagaimana kebudayaan lokal memiliki daya tawar dan “kekuatan penangkal” yang tak terduga terhadap hegemoni bangsa asing. Di sisi lain, hal ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara realitas geopolitik yang rasional dan ketakutan manusiawi terhadap hal-hal yang tidak dapat dipahami.
Mitos Nyi Roro Kidul mungkin diciptakan oleh raja-raja Jawa ratusan tahun yang lalu, tetapi gaungnya terbukti mampu merintangi langkah perwakilan salah satu negara terkuat di dunia. Dan bagi Marshall Green, nama “Hijau” yang disandangnya, secara tak sengaja, telah menjadi perisai sekaligus penjara yang memisahkannya dari deburan ombak mematikan di selatan Jawa.













