Mush’ab bin Umair: Dari Parfum Mewah Mekkah Menjadi Perisai Nabi

Mush’ab bin Umair: Dari Parfum Mewah Mekkah Menjadi Perisai Nabi
Ilustrasi Mush'ab bin Umair, "bunga" Quraisy yang rela miskin demi Islam. Mush'ab juga dijuluki Perisai Nabi Muhammad SAW (io)

Kisah epik Mush’ab bin Umair, “bunga” Quraisy yang rela miskin demi Islam. Duta pertama di Madinah hingga syahid memilukan di Uhud.

INDONESIAONLINE – Di hamparan padang pasir yang panas di kaki Gunung Uhud, sebuah tragedi sekaligus epik kepahlawanan terukir pada tahun ke-3 Hijriah (625 M). Di antara jasad para syuhada yang gugur membela panji Islam, terdapat satu tubuh yang membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata pilu.

Tubuh itu milik seorang pria yang dulunya dikenal sebagai pemuda paling wangi, paling rapi, dan paling dimanjakan di seantero Mekkah.

Dia adalah Mush’ab bin Umair. Sosok yang perjalanan hidupnya menjadi antitesis dari materialisme duniawi. Kisahnya bukan sekadar tentang perpindahan keyakinan, melainkan sebuah revolusi total dari kemewahan menuju asketisme, dari status sosial elit menuju pengabdian tanpa syarat.

Dalam sejarah peradaban Islam, nama mush’ab bin umair tercatat dengan tinta emas bukan karena harta warisannya, melainkan karena peran kuncinya sebagai “Duta Islam Pertama” dan syahidnya yang mengguncang hati kaum Muslimin.

Si “Bunga” Quraisy yang Wangi

Untuk memahami besarnya pengorbanan Mush’ab, kita harus memutar waktu ke belakang, ke masa jahiliyah di Mekkah. Lahir dari pasangan Umair bin Hasyim dan Khunas binti Malik, Mush’ab tumbuh dalam “sangkar emas”.

Sejarawan Islam menggambarkan masa muda Mush’ab dengan detail yang mencengangkan. Ibunya, Khunas, adalah wanita kaya raya yang posesif dan sangat memanjakan putranya. Dikatakan dalam Sirah Nabawiyah, Mush’ab tidak pernah meminum air kecuali dari gelas-gelas terbaik, dan tidak mengenakan pakaian kecuali kain sutra impor yang paling halus.

Data sejarah mencatat, Mush’ab adalah trendsetter pada zamannya. Ia mengenakan sandal Hadhramaut—barang mewah kala itu—dan tubuhnya selalu menebarkan aroma parfum termahal. Saking harumnya, penduduk Mekkah bisa mengetahui jika Mush’ab baru saja melewati sebuah lorong hanya dari jejak aroma yang tertinggal di udara.

Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda mengenangnya: “Aku tidak pernah melihat di Mekkah seorang pun yang lebih rapi rambutnya, lebih bagus pakaiannya, dan lebih banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.”

Namun, di balik gelimang harta Bani Abdu Dar itu, jiwa Mush’ab merasakan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh kemewahan.

Pertaruhan di Darul Arqam

Tahun 614 Masehi menjadi titik balik. Kabar tentang ajaran Muhammad SAW yang menyerukan tauhid mulai bergaung. Mush’ab, dengan kecerdasan dan rasa ingin tahunya, mendatangi Darul Arqam—pusat dakwah rahasia Nabi di dekat Bukit Shafa.

Di sana, ayat-ayat Al-Qur’an menembus relung hatinya. Logika bangsawan Quraisy-nya runtuh di hadapan kebenaran wahyu. Ia bersyahadat. Namun, masuk islam bukan perkara mudah bagi seorang Mush’ab. Tantangan terbesarnya bukanlah siksaan fisik dari orang asing, melainkan perang psikologis dari ibunya sendiri.

Ketika rahasia keislamannya terbongkar oleh Utsman bin Thalhah, Mush’ab dihadapkan pada sidang keluarga. Ibunya, Khunas, yang terkenal keras, menggunakan segala cara. Mulai dari cambukan fisik, pengurungan di ruang sempit, hingga ancaman mogok makan.

“Aku tidak akan makan dan minum sampai kau tinggalkan agamamu atau aku mati, dan kau akan dikenal sebagai pembunuh ibumu selamanya,” ancam sang ibu.

Namun, iman yang telah tertanam itu ternyata lebih kokoh dari dinding penjara. Mush’ab bergeming. Ia memilih melepaskan seluruh fasilitas, kekayaan, dan kasih sayang ibunya demi mempertahankan akidah.

Pemuda yang dulunya necis itu pun terusir, pergi hanya dengan pakaian yang melekat di badan, bergabung dengan rombongan hijrah ke Habasyah (Ethiopia) sebelum akhirnya kembali untuk mendampingi Nabi.

Sang Diplomat Ulung di Yatsrib

Banyak orang mengenal Mush’ab sebagai syuhada, namun peran strategisnya yang paling monumental adalah sebagai diplomat. Setelah peristiwa Baiat Aqabah I, Nabi Muhammad membutuhkan seseorang untuk mengajarkan Islam di Yatsrib (Madinah) dan menyiapkan kota itu sebagai tempat hijrah.

Pilihan Nabi jatuh pada Mush’ab. Mengapa? Karena Mush’ab bukan hanya saleh, tetapi juga cerdas, tenang, berwibawa, dan memiliki kemampuan komunikasi (public speaking) yang luar biasa. Ia adalah representasi terbaik dari karakter Muslim yang elegan.

Di Madinah, Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Strategi dakwahnya sungguh brilian. Ia tidak menggunakan konfrontasi, melainkan pendekatan intelektual dan persuasif.

Salah satu keberhasilan terbesarnya adalah mengislamkan dua tokoh kunci Bani Abdul Asyal: Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair. Sebuah riwayat masyhur menceritakan bagaimana Usaid mendatangi Mush’ab dengan tombak terhunus, marah karena ajaran baru tersebut.

Dengan tenang Mush’ab berkata, “Duduklah dan dengarkan. Jika kau suka, kau terima. Jika tidak, kami akan pergi.”

Ketika Mush’ab membacakan Al-Qur’an, wajah Usaid berubah. Tombaknya jatuh, dan ia pun bersyahadat. Efek domino dari kejadian ini luar biasa; seluruh kabilah Bani Abdul Asyal masuk Islam dalam satu hari.

Inilah pondasi demografi yang memungkinkan Nabi Muhammad untuk akhirnya hijrah ke Madinah dengan aman. Tanpa diplomasi dingin Mush’ab, sejarah Islam mungkin akan berbeda.

Perang Badr menjadi ujian loyalitas berikutnya. Mush’ab memegang panji kaum Muhajirin. Di seberang medan tempur, berdiri saudara kandungnya sendiri, Abu Aziz bin Umair, yang masih kafir dan memerangi Islam.

Ketika perang usai dan Abu Aziz tertawan, Mush’ab melewati saudaranya yang sedang diikat oleh seorang sahabat Anshar. Bukannya membela saudaranya, Mush’ab justru berkata kepada sahabat Anshar itu: “Ikat dia dengan kuat. Ibunya adalah wanita kaya, dia akan menebusnya dengan harga mahal untukmu.”

Abu Aziz terperangah dan bertanya, “Inikah perlakuanmu terhadap saudaramu?”

Mush’ab menjawab tegas, “Dia (sahabat Anshar) adalah saudaraku, bukan engkau.”

Kalimat ini menegaskan bahwa dalam Islam, ikatan akidah berada di atas ikatan darah. Mush’ab telah sepenuhnya memutus ketergantungan pada masa lalunya.

Tragedi dan Kemuliaan di Uhud

Puncak kehidupan Mush’ab terjadi di Lembah Uhud, Syawal tahun 3 Hijriah. Ia kembali dipercaya memegang panji Islam. Ketika barisan pemanah di bukit melanggar perintah Nabi dan pasukan Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid (saat itu belum masuk Islam) melakukan serangan balik, situasi menjadi kacau balau.

Pasukan Muslim terpecah. Namun, Mush’ab tetap berdiri kokoh. Menyadari bahwa musuh mengincar Rasulullah, Mush’ab yang memiliki postur mirip dengan Nabi, memanfaatkannya sebagai strategi pengalihan. Ia menerjang ke tengah musuh, bertakbir sekeras-kerasnya, menarik perhatian pasukan kafir agar menjauh dari Rasulullah.

Ibnu Qami’ah, seorang prajurit berkuda Quraisy, menebas tangan kanan Mush’ab hingga putus. Mush’ab segera memindahkan panji ke tangan kirinya sambil melantunkan ayat: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul…” (QS. Ali Imran: 144).

Tebasan kedua memutus tangan kirinya. Mush’ab mendekap panji itu dengan sisa lengan di dadanya, tak membiarkannya menyentuh tanah. Akhirnya, tombak Ibnu Qami’ah menembus dadanya. Mush’ab rubuh. Ibnu Qami’ah berteriak, “Aku telah membunuh Muhammad!” karena mengira Mush’ab adalah Nabi.

Kematian Mush’ab memberikan waktu berharga bagi para sahabat lain untuk melindungi dan menyelamatkan Rasulullah SAW yang terluka.

Kain Kafan yang Tak Cukup

Pemandangan paling menyayat hati terjadi usai pertempuran. Rasulullah SAW berdiri di hadapan jasad Mush’ab yang penuh luka. Pemuda yang dulunya memakai sutra terhalus itu kini terbaring di atas pasir panas, hanya berbalut kain burdah (kain wol kasar) yang lusuh.

Diriwayatkan oleh Khabbab bin Al-Arat, kondisi kain kafan Mush’ab sangat memprihatinkan. “Jika kami tarik kain itu untuk menutup kepalanya, maka kakinya terlihat. Jika kami tarik untuk menutup kakinya, maka kepalanya terlihat.”

Mata Nabi berkaca-kaca. Beliau kemudian memerintahkan para sahabat untuk menutup bagian kepala Mush’ab dengan kain tersebut, dan menutupi kakinya dengan rumput idzhir (sejenis ilalang yang wangi).

Rasulullah kemudian membacakan firman Allah: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kisah mush’ab bin umair adalah tamparan keras bagi materialisme modern. Di era di mana kesuksesan sering diukur dari jumlah pengikut di media sosial, merek pakaian yang dikenakan, atau saldo di rekening bank, Mush’ab mengajarkan definisi sukses yang berbeda.

Ia meninggalkan kenyamanan “zona nyaman” (comfort zone) di Mekkah menuju ketidakpastian perjuangan, namun justru di sanalah ia menemukan keabadian. Ia datang ke dunia sebagai anak emas kaum Quraisy, dan meninggalkannya sebagai pahlawan yang bahkan kain kafannya tidak cukup untuk menutupi jasadnya.

Namun, warisannya jauh lebih besar dari sekadar harta. Islam yang berkembang di Madinah, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, memiliki jejak tangan Mush’ab di dalamnya. Setiap kening yang bersujud di Masjid Nabawi hari ini, secara tidak langsung, adalah pahala jariyah bagi sang diplomat muda yang rela menukar parfum dunianya dengan wewangian surga.