Pezeshkian ancam perang total jika AS serang Khamenei. Ketegangan memuncak di tengah ribuan tewas demonstrasi Iran dan manuver agresif Donald Trump di 2026.
INDONESIAONLINE – Awan gelap peperangan kembali menyelimuti langit Timur Tengah di awal tahun 2026. Hubungan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS), yang selama empat dekade terakhir diwarnai ketegangan pasang-surut, kini mencapai titik didih paling kritis.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengeluarkan ultimatum yang menggetarkan diplomasi global: setiap serangan fisik terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang skala penuh (total war).
Peringatan keras ini bukan tanpa sebab. Spekulasi liar yang beredar di koridor-koridor kekuasaan Washington DC menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump—yang kembali memegang kendali Gedung Putih—tengah mempertimbangkan opsi “pemenggalan kepala ular” alias pembunuhan atau pencopotan paksa Khamenei dari tampuk kekuasaan tertinggi teokrasi Iran.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui platform media sosial X pada Minggu (18/1/2026), Pezeshkian menarik garis merah yang tegas. Ia menegaskan bahwa Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, melainkan simbol kedaulatan dan spiritualitas bangsa.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Teheran tidak akan ragu mengerahkan seluruh kekuatan militernya—termasuk proksi-proksinya di kawasan—jika Washington nekat menyentuh sang Ayatollah.
Obsesi Trump dan Retorika “Orang Sakit”
Eskalasi ini dipicu oleh retorika agresif Donald Trump. Dalam sebuah wawancara kontroversial dengan Politico, Presiden AS ke-47 itu secara terbuka menyerang legitimasi Khamenei. Trump menyebut pemimpin berusia sepuh itu sebagai “orang sakit” yang bertanggung jawab atas tumpahnya darah rakyatnya sendiri.
“Dia seharusnya menjalankan negaranya dengan benar dan berhenti membunuh orang,” ujar Trump, seraya menyerukan berakhirnya kekuasaan Khamenei yang telah bercokol selama hampir 40 tahun sejak menggantikan Ayatollah Khomeini.
Bagi Trump, pergantian rezim (regime change) tampaknya kembali menjadi opsi di atas meja, seiring dengan kekacauan internal yang melanda Iran. Trump bahkan secara provokatif mendorong warga Iran pada Selasa (12/1/2026) untuk “mengambil alih institusi” negara, menjanjikan bahwa bantuan dari Barat sedang dalam perjalanan.
Narasi ini mengingatkan publik pada strategi “Tekanan Maksimum” jilid pertama, namun kali ini dengan pertaruhan yang jauh lebih mematikan.
Musim Dingin Berdarah: Demonstrasi dan Ribuan Nyawa Melayang
Latar belakang dari ketegangan geopolitik ini adalah krisis domestik terparah yang dihadapi Iran dalam satu dekade terakhir. Sejak 28 Desember 2025, jalanan Teheran dan berbagai kota besar lainnya berubah menjadi medan pertempuran antara demonstran dan aparat keamanan.
Apa yang bermula sebagai protes atas kesulitan ekonomi—dipicu oleh hiperinflasi, anjloknya nilai tukar Rial, dan pengangguran—dengan cepat bermetamorfosis menjadi gerakan politik yang menuntut runtuhnya sistem Republik Islam. Slogan-slogan “Matilah Diktator” kembali bergema, namun kali ini dibalas dengan tangan besi yang jauh lebih brutal.
Laporan dari The Guardian dan pengakuan tersirat dari lingkaran dalam Khamenei menyebutkan bahwa ribuan demonstran telah tewas dalam kurun waktu dua pekan. Angka ini jauh melampaui korban jiwa pada protes Mahsa Amini tahun 2022.
Pemerintahan Pezeshkian, yang di awal masa jabatannya dicitrakan sebagai reformis moderat, kini terjepit. Ia menyalahkan pihak asing atas penderitaan rakyatnya.
“Jika ada kesulitan dan tekanan dalam kehidupan rakyat Iran yang kami cintai, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan berkepanjangan serta sanksi tidak manusiawi yang dijatuhkan oleh pemerintah AS dan sekutunya,” dalih Pezeshkian.
Untuk meredam arus informasi, otoritas Iran memberlakukan pemadaman internet dan jaringan telepon hampir total sejak 8 Januari 2026. Langkah “tirai besi digital” ini mengisolasi jutaan warga Iran dari dunia luar, membuat verifikasi jumlah korban menjadi sangat sulit, meski angka 20.000 korban jiwa sempat berseliweran di rumor media sosial yang belum terverifikasi.
Drama 13 Januari: Ketika Israel dan Saudi Menahan Tombol Merah
Dunia nyaris menyaksikan Perang Teluk jilid baru pada Rabu, 13 Januari 2026. Laporan investigasi dari situs berita Axios mengungkap fakta mengejutkan: AS sudah berada dalam posisi siap tempur untuk melancarkan serangan militer langsung ke fasilitas strategis Iran.
Namun, serangan itu batal di detik-detik terakhir. Ironisnya, pihak yang menahan Trump justru adalah dua sekutu utamanya di Timur Tengah: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).
Netanyahu, yang biasanya dikenal hawkish terhadap Iran, kali ini memperingatkan Trump bahwa Israel “belum siap” menghadapi hujan ribuan rudal balistik yang pasti akan diluncurkan Iran sebagai serangan balasan. Pertahanan Iron Dome dan Arrow dikhawatirkan akan kewalahan jika perang terbuka pecah tanpa persiapan matang.
Senada dengan Netanyahu, MBS juga mendesak Trump menahan diri. Arab Saudi, yang sedang gencar membangun megaproyek Visi 2030, sangat rentan terhadap ketidakstabilan kawasan. Serangan terhadap kilang minyak Saudi seperti yang terjadi di Abqaiq beberapa tahun silam adalah mimpi buruk yang tidak ingin diulang oleh Riyadh.
“Situasinya benar-benar sangat dekat,” ungkap seorang pejabat tinggi AS kepada Axios.
Pembatalan serangan ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, di mana sekutu AS justru merasa terancam oleh agresivitas Washington yang tidak terukur.
Di tengah ketegangan militer, nasib para demonstran yang ditahan menjadi alat tawar-menawar politik. Donald Trump, melalui media sosialnya pada hari Jumat, mengklaim kredit atas pembatalan eksekusi mati terhadap 800 orang demonstran di Iran.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Erfan Soltani (26). Pemuda ini sebelumnya disebut-sebut akan menjadi demonstran pertama yang dieksekusi mati sejak kerusuhan meletus. Klaim Trump bahwa Teheran “mundur” karena tekanannya mungkin memiliki benarnya, atau bisa jadi merupakan strategi Teheran untuk sedikit melunakkan tekanan internasional sembari mengulur waktu.
Pernyataan Pezeshkian hari ini menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan eksternal, meski fondasi domestiknya sedang diguncang hebat. Bagi Teheran, menjaga keselamatan Khamenei adalah menjaga eksistensi Republik Islam itu sendiri.
Bagi dunia, situasi ini adalah bom waktu. Jika AS atau Israel salah langkah—misalnya dengan operasi intelijen yang menargetkan elit Iran—bukan tidak mungkin Selat Hormuz akan ditutup, harga minyak akan melambung ke level gila-gilaan, dan perang regional yang melibatkan banyak negara akan meletus.
Tahun 2026 baru saja dimulai, namun sejarah tampaknya sedang ditulis dengan tinta merah di Timur Tengah. Apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah moncong senjata yang akan bicara? Kita hanya bisa menahan napas.













