Pengangguran Kota Batu 2025 naik nominal, tapi TPT turun. Partisipasi wanita melonjak drastis di tengah dominasi sektor jasa dan tantangan wirausaha mandiri.
INDONESIAONLINE – Kota Wisata Batu, permata pariwisata Jawa Timur, kini tengah menghadapi fenomena ekonomi baru di tahun 2025. Di balik gemerlap lampu tempat wisata dan dinginnya udara pegunungan yang menarik jutaan pelancong, terjadi pergeseran tektonik dalam struktur sosial-ekonomi masyarakatnya.
Data terbaru menunjukkan sebuah anomali: jumlah pengangguran secara fisik bertambah, namun persentase tingkat pengangguran justru menurun. Lebih mengejutkan lagi, “Srikandi-Srikandi” Kota Batu—kaum perempuan—kini membanjiri pasar kerja dengan angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu baru saja merilis potret ketenagakerjaan tahun 2025 yang membawa kabar ganda; tantangan sekaligus harapan. Angka pengangguran tercatat menyentuh 5.024 jiwa.
Angka ini naik sebanyak 357 orang dibandingkan tahun 2024 yang berada di posisi 4.667 jiwa. Namun, membaca data ini tidak bisa dilakukan secara linier. Kenaikan jumlah penganggur ini terjadi bukan karena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, melainkan karena ledakan jumlah warga yang ingin bekerja.
Ledakan Angkatan Kerja: Bonus atau Beban?
Kepala BPS Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo, membedah statistik tersebut dengan hati-hati. Ia menyoroti adanya lonjakan angkatan kerja baru yang sangat masif. Sepanjang kurun waktu satu tahun, terdapat tambahan 14.016 warga Batu yang masuk ke dalam kategori angkatan kerja. Ini membuat total pasukan pencari nafkah di kota apel ini membengkak menjadi 142.486 orang.
“Lonjakan angkatan kerja mencapai 10,91 persen dalam setahun. Ini angka yang sangat signifikan untuk kota seukuran Batu. Dari tambahan 14 ribuan orang itu, sebanyak 7.759 orang sebenarnya sudah berhasil terserap dunia kerja,” papar Herlina.
Di sinilah letak paradoksnya. Meskipun jumlah orang yang belum mendapat kerja bertambah (secara nominal), namun karena pembaginya (total angkatan kerja) membesar drastis, maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru mengalami penurunan tipis. TPT Kota Batu turun dari 3,63 persen pada 2024 menjadi 3,53 persen pada 2025.
Secara teori ekonomi makro, TPT di bawah 4 persen sering dianggap sebagai full employment atau pengangguran alamiah (frictional unemployment)—kondisi di mana orang menganggur lebih karena sedang berpindah kerja atau menunggu panggilan, bukan karena ketiadaan lapangan kerja sama sekali. Namun, bagi 5.024 jiwa yang belum berpenghasilan, statistik “penurunan TPT” ini tentu bukan penghibur yang efektif.
Revolusi Tenaga Kerja Wanita
Sorotan paling menarik dari data 2025 ini adalah perubahan demografi pekerja. Kota Batu sedang mengalami gelombang partisipasi perempuan yang luar biasa. Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batu, Thomas Wunang Tjahjo, mengonfirmasi tren positif ini.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)—indikator yang mengukur seberapa banyak penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi—melonjak drastis dari 73,53 persen menjadi 80,53 persen. Motor penggerak utamanya adalah kaum hawa.
“Yang menarik, partisipasi perempuan melonjak drastis dari 59,65 persen ke angka 72,57 persen,” ungkap Thomas.
Kenaikan hampir 13 persen dalam satu tahun bagi partisipasi perempuan adalah fenomena langka. Apa pemicunya? Thomas menganalisis bahwa ini adalah buah dari pergeseran struktur ekonomi dan intervensi program pemerintah.
Ibu rumah tangga dan remaja putri di Batu tidak lagi berdiam diri. Mereka kini menjadi pemain aktif ekonomi, baik melalui sektor formal maupun informal.
Faktor pendorongnya beragam. Pertama, tekanan inflasi dan kebutuhan ekonomi rumah tangga pasca-pemulihan ekonomi global membuat sistem “satu pendapatan” (single income) dalam keluarga tidak lagi mencukupi. Istri dan anak perempuan turut turun tangan mencari nafkah.
Kedua, fleksibilitas teknologi. Munculnya gig economy (ekonomi gig) seperti ojek daring, jasa pengantaran makanan, hingga reseller daring, memungkinkan perempuan bekerja tanpa meninggalkan kewajiban domestik sepenuhnya.
Dominasi Sektor Jasa dan Pudarnya Pertanian
Struktur ekonomi Kota Batu yang terekam dalam data BPS juga mengirimkan sinyal peringatan tentang ketergantungan sektoral. Kota yang dulunya identik dengan pertanian apel dan sayur-mayur ini, kini mutlak menjadi kota jasa.
Data serapan tenaga kerja berbicara tanpa bantahan. Di mana, Sektor Jasa: 88.568 tenaga kerja, Sektor Manufaktur: 26.066 tenaga kerja, dan Sektor Pertanian: 22.828 tenaga kerja.
Sektor jasa, yang mencakup pariwisata, perhotelan, kuliner, dan perdagangan, menyerap hampir empat kali lipat tenaga kerja dibandingkan pertanian. Denyut nadi warga Batu kini sangat bergantung pada arus wisatawan. Jika pariwisata lesu, dampak penganggurannya akan sistemik dan masif.
Sementara itu, sektor pertanian terus tergerus. Alih fungsi lahan menjadi kafe, vila, dan tempat wisata buatan membuat profesi petani perlahan ditinggalkan generasi muda Batu. Mereka lebih memilih menjadi barista, pemandu wisata, atau pelaku UMKM kuliner.
Tantangan Disnaker: Kompetensi vs Ijazah
Menghadapi 5.000 lebih pengangguran di tengah persaingan yang kian ketat, Disnaker Kota Batu tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional. Bursa kerja (Job Fair) saja tidak cukup. Thomas Wunang menegaskan bahwa “kue” sektor formal—seperti menjadi pegawai kantoran atau buruh pabrik—memiliki batas yang kaku.
“Tingginya partisipasi ini adalah tantangan besar. Persaingan akan semakin ketat. Karena sektor formal memiliki batas, maka wirausaha mandiri menjadi pilihan paling rasional bagi warga Batu agar tidak terjebak dalam angka pengangguran,” jelas Thomas.
Pemerintah Kota Batu merespons dengan menggencarkan pelatihan vokasi yang spesifik. Program membatik, pengolahan hasil pertanian pasca-panen, hingga pelatihan digital marketing menjadi senjata utama. Tujuannya adalah mencetak wirausahawan baru (entrepreneur), bukan sekadar pencari kerja (job seeker).
Peningkatan partisipasi perempuan, misalnya, banyak didorong oleh tumbuhnya UMKM rumahan yang dikelola ibu-ibu. Mereka memproduksi keripik buah, kerajinan tangan, hingga batik tulis khas Batu yang kemudian dipasarkan secara digital kepada wisatawan.
Tahun 2025 menjadi titik balik bagi ketenagakerjaan Kota Batu. Di satu sisi, kota ini sukses mengaktifkan warganya untuk produktif, terbukti dengan TPAK yang menembus 80 persen. Di sisi lain, kota ini harus berpacu menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja baru yang terus membanjir setiap tahunnya.
Pemerintah Kota Batu menghadapi “pekerjaan rumah” yang kompleks: menjaga stabilitas sektor pariwisata agar tidak kolaps (mengingat ia adalah penyerap tenaga kerja terbesar), sembari terus memutar otak untuk menumbuhkan ekosistem wirausaha bagi ribuan warga yang belum terserap.
Bagi 5.024 warga yang masih mencari pekerjaan, data statistik hanyalah angka di atas kertas. Realitas yang mereka hadapi adalah persaingan yang kini tidak hanya datang dari sesama laki-laki, tetapi juga dari gelombang tenaga kerja perempuan yang semakin kompetitif, terampil, dan adaptif terhadap ekonomi digital.
Kota Batu kini bukan hanya sekadar tempat berlibur, melainkan arena kompetisi ekonomi yang semakin sengit bagi penduduknya (pl/dnv).













