Kisah Sukarni, Supeltas wanita di Malang yang mengatur lalu lintas berbalut kebaya. Bukti nyata emansipasi dan semangat Kartini di kerasnya jalanan.
INDONESIAONLINE – Pagi baru saja merekah di langit Kota Malang, namun Jalan Soekarno-Hatta (Suhat) sudah terbangun dalam kondisi “marah”. Deru mesin kendaraan roda dua dan empat saling bersahutan, menciptakan simfoni bising yang pekak. Klakson bersilang, asap knalpot mulai mengudara, dan ribuan orang berpacu dengan waktu—berebut ruang di aspal yang sama.
Di tengah pusaran aspal yang keras dan maskulin itu, mata para pengendara tertuju pada satu anomali yang indah. Berdiri seorang perempuan paruh baya, mengenakan kebaya tradisional yang anggun, menggenggam peluit di bibirnya. Tangannya mengayun tegas membelah udara, namun gerakannya tetap memancarkan kelembutan.
Dialah Sukarni, perempuan berusia 55 tahun yang telah mewakafkan separuh hidupnya menjadi Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas). Baginya, trotoar dan aspal adalah panggung, dan peluit adalah suaranya.
Tepat di peringatan Hari Kartini, kehadiran Sukarni di simpang jalan itu terasa magis. Kebaya yang membalut tubuh rentanya bukan sekadar kain atau parade busana tahunan. Di tengah kepulan karbon monoksida, kebaya itu berubah menjadi zirah. Sebuah simbol perlawanan, keteguhan, dan manifestasi nyata dari emansipasi wanita di ruang publik yang kerap kali tak ramah.
Sambil menyeka peluh dan sesekali meniup peluit panjang untuk menahan laju mobil, Sukarni membagikan pandangannya tentang hari istimewa ini.
“Untuk memperingati Hari Kartini, ya harus luar biasa. Ini momen penting bagi kaum wanita, untuk seluruh perempuan di Indonesia,” ucapnya dengan napas yang sedikit terengah, namun sorot matanya tajam.
Bagi Sukarni, semangat Kartini tidak berhenti pada buku-buku sejarah atau surat-surat yang dikirim ke Eropa. Semangat itu ada pada aspal yang memanas di siang hari, pada kemandirian, dan pada keberanian mengambil peran.
“Istimewa. Ini menunjukkan bahwa kaum wanita itu harus berpendirian teguh, kuat menghadapi segalanya. Kita harus maju ke depannya sesuai dengan apa yang diharapkan pahlawan-pahlawan perempuan kita dulu,” tegasnya.
Perempuan di Pusaran Sektor Informal
Kisah Sukarni bukanlah narasi tunggal. Ia adalah wajah dari jutaan perempuan Indonesia yang bertarung di sektor informal. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, lebih dari 60 persen pekerja perempuan di Indonesia terserap di sektor informal. Mereka berdagang, menjadi buruh harian, hingga pekerjaan yang mengandalkan keikhlasan publik seperti Supeltas.
Namun, pekerjaan yang dipilih Sukarni memiliki risiko fisik yang ekstrem. Jalan raya adalah ruang bebas di mana stres dan agresi kerap bertemu. Malang sendiri, menurut berbagai catatan otoritas transportasi dan survei lalu lintas independen, sering masuk dalam daftar kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Jawa Timur. Pertumbuhan volume kendaraan yang mencapai angka rata-rata 5-7 persen per tahun tidak sebanding dengan pelebaran jalan raya.
Kawasan Suhat, tempat Sukarni bertugas, adalah salah satu “urat nadi” kemacetan paling kronis di Malang. Diapit oleh dua perguruan tinggi raksasa, Universitas Brawijaya (UB) dan Politeknik Negeri Malang (Polinema), serta kawasan bisnis kuliner, jalan ini adalah mimpi buruk bagi pengendara di jam-jam sibuk.
Sukarni hafal betul ritme gila jalanan ini. Jarum jam belum lama meninggalkan pukul 06.00 WIB, namun ia sudah memposisikan diri. Persiapannya dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Untuk Hari Kartini, ia menjahit dan menyiapkan kebayanya berhari-hari sebelumnya.
“Kalau dandan sih ya paling nggak sekitar selesai Subuh lah. Selesai Subuh kita siap-siap. Kalau masalah kebaya sudah kita siapkan seminggu sebelumnya, karena pakaian ini selalu ada. Makeup ya seadanya, sebagai emak-emak kan dandan biasa saja,” tutur Sukarni sambil tertawa renyah, sebuah tawa yang seolah melunturkan debu jalanan di wajahnya.
Dari Cibiran Menjadi Bunga Simpati
Mengenakan kebaya di tengah jalan raya pada tanggal 21 April bukanlah tren yang diikutinya, melainkan tradisi yang ia ciptakan sendiri. Sukarni sudah melakukan ritual ini selama bertahun-tahun, jauh sebelum aksi serupa viral di media sosial.
Jalan menuju penerimaan tak selalu mulus. Keputusannya tampil beda sering kali berbuah cibiran. Ia mengingat masa-masa di mana niat baiknya dianggap sebagai sebuah lelucon oleh para pengguna jalan.
“Saya setiap tahun, selama menjadi Supeltas, selalu pakai pakaian kebaya setiap tanggal 21 April. Dulu-dulu itu nggak pernah ada yang makai, apalagi sebelum dan pas Corona ya. Saya pakai sendiri, diketawain orang, di-bully, tapi wis biasa saja. Tetap saya jalankan, karena ini kebanggaan saya,” kenangnya dengan nada tegar.
Kesabarannya berbuah manis. Psikologi jalanan membuktikan bahwa kehadiran figur keibuan, apalagi yang berpakaian sopan dan berwibawa, mampu meredakan road rage (agresi di jalan raya). Di persimpangan itu, Sukarni tahu kapan kesabaran pengendara mulai menipis.
“Kalau macet itu pasti antara jam 06.30 sampai 07.30. Bahkan jam 08.00 pagi kadang masih mengular,” urainya sambil tangannya kembali menghentikan antrean motor yang hendak menerobos.
Selama hampir 15 tahun menjaga jalan, ia telah melihat segala wajah manusia. Dari yang taat, yang terburu-buru, yang mengumpat, hingga yang sekadar tersenyum.
“Hambatan pasti ada, nggak mungkin mulus-mulus saja. Pasti ada pengendara yang kurang ajar atau tak sabaran. Kuncinya ya kita harus sabar saja,” ucapnya lirih.
Bukan Sekadar Peluit: Standar Profesionalisme Jalanan
Banyak yang mengira Supeltas, atau yang sering dilabeli dengan istilah peyoratif “Pak Ogah”, adalah kelompok jalanan yang tak terorganisir. Sukarni mematahkan stigma itu. Di Malang, Polresta Malang Kota memiliki program pembinaan khusus bagi para Supeltas. Hal ini juga terkonfirmasi dari berbagai program Satlantas yang merangkul pekerja informal pengatur jalan untuk diberi edukasi rambu lalu lintas.
Sukarni bercerita dengan bangga tentang identitasnya sebagai binaan resmi kepolisian. Ia bukan sekadar meniup peluit demi uang receh; ia membawa standar operasional prosedur yang jelas.
“Kita yang resmi ini setiap bulan sekali selalu ada pelatihan dari Polres. Dikasih wawasan, jadi bukan sekadar prit-prit-prit asal tiup peluit. Kami diberi seragam khusus agar masyarakat bisa membedakan mana yang resmi binaan dan mana yang liar,” jelasnya bangga.
Satu hal yang sangat ia pegang teguh adalah prinsip pelayanan. “Kami dididik dengan prinsip 5S. Harus Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun. Itu wajib diterapkan di jalan, sehebat apapun kemacetannya,” tambahnya.
Pendekatan humanis inilah yang akhirnya meruntuhkan tembok arogansi di jalan. Di Hari Kartini itu, sebuah momen haru terjadi. Di tengah deru mesin yang bising, seorang pengendara sengaja menepi. Bukan untuk memberi uang receh, melainkan sekuntum bunga.
Mata Sukarni berbinar menceritakan momen tersebut. “Iya, alhamdulillah. Tadi ada orang lewat, terus minta foto. Dia bilang, ‘Bu, di sini dulu ya, jangan pulang’. Eh, ternyata saya dikasih bunga.”
Ia mengusap ujung matanya. “Seneng sekali. Tahun kemarin saya juga dapat bunga. Kalau ingat dulu saya cuma dapat ketawaan dan ejekan, sekarang dikasih apresiasi begini… suka dukanya memang terbayar. Hati ini rasanya penuh.”
Panggilan Jiwa dan Pesan Lintas Generasi
Bukan faktor ekonomi semata yang menahan Sukarni berdiri menantang terik dan hujan selama nyaris satu setengah dekade. Ada panggilan nurani yang lebih besar, sebuah empati pada kotanya yang kian sesak.
“Ini soal hati nurani. Hati saya terketuk melihat kemacetan di Malang yang luar biasa. Saya mikir, gimana caranya supaya nggak macet? Terutama di Suhat kalau pagi itu rawan sekali kecelakaan dan orang emosi. Saya merasa saya harus di sana,” tuturnya.
Ketulusan Sukarni adalah antitesis dari dunia modern yang kerap transaksional. Ia adalah penjaga peradaban di persimpangan jalan. Ia membuktikan bahwa emansipasi bukanlah tentang siapa yang duduk di kursi empuk perkantoran, melainkan tentang siapa yang berani mengambil tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi sekitarnya, di mana pun ia berada.
Menutup perbincangannya pagi itu, seiring matahari yang mulai meninggi di langit Malang, pahlawan jalanan ini menitipkan sebuah pesan lintas generasi. Pesan dari seorang ibu, seorang pekerja keras, dan seorang Kartini masa kini.
“Pesan saya untuk anak muda, pertama harus patuh pada orang tua, itu kunci. Teruslah maju dan semangat. Kerjakan apa yang menurut kalian bisa, berikan yang terbaik. Jangan gampang putus asa di tengah jalan. Yakinlah, semua rintangan pasti bisa dilewati,” pungkasnya.
Sukarni kemudian membalikkan badannya. Ia kembali meniup peluitnya. Kebayanya berkibar kecil tertiup angin bercampur debu bus kota. Di tengah aspal Jalan Soekarno-Hatta yang kelabu, Sukarni bersinar terang—menyalakan semangat Kartini yang tak akan pernah padam ditelan zaman (hs/dnv).
