Pemasangan Grider Tol Kediri-Tulungagung: Jalan Suparjan Tutup Total 4 Hari

Pemasangan Grider Tol Kediri-Tulungagung: Jalan Suparjan Tutup Total 4 Hari
Jalan Suparjan Mangun Wijaya Kediri ditutup total dari tanggal 22-26 Januari 2026 demi pemasangan girder jalan tol Kediri-Tulungagung (jtn/io)

Jalan Suparjan Mangun Wijaya Kediri ditutup total 22-26 Januari 2026 demi pemasangan girder tol. Simak rekayasa lalu lintas dan jalur alternatifnya.

INDONESIAONLINE – Denyut nadi lalu lintas di sisi barat Sungai Brantas, Kota Kediri, akan mengalami perubahan ritme yang signifikan pada pekan keempat Januari 2026. Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Perhubungan (Dishub) telah mengeluarkan edaran penting terkait penutupan total salah satu akses vital menuju Terminal Tamanan, yakni Jalan Suparjan Mangun Wijaya.

Langkah drastis ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan demi memuluskan tahapan krusial dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Kediri-Tulungagung.

Selama empat hari penuh, terhitung mulai Kamis, 22 Januari 2026, pukul 08.00 WIB, hingga Minggu, 26 Januari 2026, pukul 24.00 WIB, ruas jalan ini akan steril dari segala jenis kendaraan. Penutupan ini menjadi konsekuensi tak terelakkan dari proses instalasi infrastruktur berat yang menuntut presisi dan keamanan tingkat tinggi.

Manuver Raksasa di Atas Jalan Raya

Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri, Arief Cholisudin, menjelaskan bahwa penutupan jalan ini berkaitan langsung dengan pengerjaan erection girder atau pemasangan balok beton jembatan layang (overpass) tol. Dalam dunia konstruksi sipil, erection girder adalah momen kritis.

Balok beton pracetak (precast) dengan bobot puluhan hingga ratusan ton akan diangkat menggunakan crane raksasa untuk diletakkan di atas pilar penyangga (pier head).

“Ini bukan pekerjaan perbaikan jalan biasa. Kita berbicara tentang mengangkat beton raksasa di atas jalan umum. Risiko keselamatan sangat tinggi jika lalu lintas di bawahnya tetap dibuka. Oleh karena itu, penutupan total adalah harga mati demi keamanan warga,” tegas Cholis, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi pada Kamis (22/1/2026).

Jalan Suparjan Mangun Wijaya merupakan akses sirip yang strategis, menghubungkan kawasan Mojoroto dengan akses lingkar luar menuju Tulungagung. Posisinya yang berada di bawah trase jalan tol yang sedang dibangun menjadikannya titik merah (zona bahaya) selama manuver alat berat berlangsung.

Cholis memastikan, jalur tersebut baru akan dibuka kembali pada Senin pagi, ketika seluruh struktur dipastikan terpasang sempurna dan aman.

Rekayasa Lalu Lintas: Tantangan Bagi Armada Bus

Dampak paling signifikan dari penutupan ini akan dirasakan oleh sektor transportasi umum, khususnya armada bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Jalan Suparjan Mangun Wijaya adalah “leher” bagi bus yang hendak masuk maupun keluar dari Terminal Tamanan.

Dengan ditutupnya akses ini, Dishub Kota Kediri bersama Satlantas Polres Kediri Kota merancang skema rekayasa lalu lintas yang cukup kompleks.

Bagi armada bus yang datang dari arah selatan (Tulungagung), aturan mainnya tetap ketat. Bus wajib masuk ke Terminal Tamanan untuk menaik-turunkan penumpang. Namun, rute keluarnya mengalami modifikasi. Bus harus berputar balik (u-turn) dan bergerak ke arah timur menyusuri Jalan Yos Sudarso untuk melanjutkan perjalanan menuju Surabaya atau Nganjuk.

Sebaliknya, perlakuan berbeda diterapkan untuk bus dari arah utara (Surabaya/Nganjuk). Demi mencegah penumpukan kendaraan di simpul-simpul pengalihan, bus dari arah Surabaya tidak diwajibkan masuk ke Terminal Tamanan. Armada tersebut diarahkan langsung melaju melalui Jalan Diponegoro (kawasan Ngronggo) untuk meneruskan perjalanan ke arah Tulungagung.

“Ini adalah upaya memecah konsentrasi kendaraan besar. Jika semua dipaksa masuk terminal dengan akses jalan yang terbatas akibat penutupan, akan terjadi gridlock atau kemacetan yang mengunci kota,” jelas Cholis.

Nasib Komuter dan Jalur Tikus

Bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi, penutupan ini menuntut kejelian dalam memilih rute. Cholis menyarankan penggunaan Jalan Kawi dan Jalan Veteran sebagai jalur alternatif utama. Kedua jalan ini memiliki kapasitas lebar jalan yang cukup memadai untuk menampung limpahan arus lalu lintas, meskipun peningkatan volume kendaraan diprediksi tak terhindarkan.

“Pengguna jalan memang masih diperbolehkan melaju pada sirip-sirip (gang/jalan kecil) di sekitar Jalan Suparjan Mangun Wijaya, namun kami sangat menyarankan untuk tetap berhati-hati dan mengikuti arahan petugas. Jangan memaksakan masuk ke zona konstruksi,” imbaunya.

Dampak sosial juga dirasakan oleh para penumpang bus yang biasa menunggu di pinggir jalan (pool bayangan). Area sepanjang Jalan Suparjan Mangun Wijaya dan Jalan Ahmad Dahlan yang biasanya ramai oleh calon penumpang, kini harus dikosongkan.

Dishub mengimbau masyarakat untuk bergeser ke kawasan Jalan Yos Sudarso sisi utara selama empat hari masa penutupan. Pergeseran titik naik penumpang ini penting agar tidak ada warga sipil yang berada dalam radius bahaya operasional alat berat.

Sinergi Pengamanan dan Harapan Percepatan

Untuk memastikan skenario ini berjalan mulus di lapangan, tim gabungan telah dibentuk. Personel dari Dinas Perhubungan Kota Kediri, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kediri Kota, serta tim keselamatan kerja (K3) dari LMA—kontraktor pelaksana proyek tol—akan bersiaga penuh. Patroli 24 jam akan dilakukan untuk mencegah adanya pengendara yang nekat menerobos barikade.

LMA selaku pelaksana proyek juga memiliki target ketat. Pemasangan girder adalah tahapan yang sangat bergantung pada cuaca dan kondisi teknis alat. Meskipun jadwal penutupan dipatok empat hari, Pemkot Kediri memberikan sinyal optimisme. Sifat penutupan ini adalah tentatif.

“Jika pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat, misalnya dalam dua atau tiga hari girder sudah terpasang dan secured, maka Jalan Suparjan Mangun Wijaya akan kami buka lebih awal. Kami tidak ingin menyusahkan masyarakat lebih lama dari yang seharusnya,” tambah Cholis.

Pembangunan Jalan Tol Kediri-Tulungagung sendiri merupakan infrastruktur vital yang digadang-gadang akan mendongkrak perekonomian wilayah selatan Jawa Timur. Tol ini akan menjadi akses utama menuju Bandara Dhoho Kediri, mempercepat distribusi logistik, dan memangkas waktu tempuh antar-daerah.

Ketidaknyamanan selama empat hari ini adalah bagian kecil dari harga yang harus dibayar untuk kemajuan infrastruktur jangka panjang.

Di akhir keterangannya, Cholis kembali mengingatkan pentingnya kepatuhan masyarakat. “Kami mengingatkan kepada masyarakat terutama pengguna jalan untuk mematuhi rambu-rambu, mengikuti arahan petugas, serta merencanakan perjalanan dengan baik demi kelancaran bersama. Keselamatan adalah prioritas di atas segalanya,” pungkasnya.

Masyarakat Kota Kediri kini dihadapkan pada ujian kesabaran selama 96 jam ke depan. Perencanaan perjalanan yang matang dan pemantauan informasi terkini menjadi kunci agar aktivitas harian tidak terganggu oleh manuver beton-beton raksasa di langit kota (eas/dnv).