Pemilu Israel Buntu, Netanyahu dan Eisenkot Sama-Sama Belum Kantongi Mayoritas

Benjamin Netanyahu lagi dag-dig-dug menunggu hasil final pemilu Israel. (reuters)

INDONESIAONLINE – Persaingan politik di Israel masih belum menemukan titik terang setelah pemilu yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) menghasilkan persaingan ketat antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan penantang utamanya, Gadi Eisenkot. Kedua kubu belum memperoleh dukungan yang cukup untuk membentuk pemerintahan baru.

Berdasarkan hasil hitung cepat atau exit poll yang dirilis sejumlah stasiun televisi Israel, perolehan kursi kedua blok politik bersaing tipis. Proyeksi Kan 11 dan Channel 13 memperkirakan masing-masing blok mendapatkan 51 kursi. Sementara itu, Channel 12 memproyeksikan blok pimpinan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu meraih 52 kursi. Sedangkan kubu lawan memperoleh 49 kursi.

Angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum menjadi hasil resmi pemilu. Untuk membentuk pemerintahan, sebuah koalisi harus mengamankan sedikitnya 61 dari total 120 kursi di parlemen Israel atau Knesset.

Dikutip dari Reuters, Netanyahu mengajak partai-partai untuk membentuk pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat. Sebaliknya, Eisenkot menilai hasil pemilu mencerminkan keinginan masyarakat untuk mengakhiri kepemimpinan Netanyahu.

Meski demikian, kedua tokoh belum mendeklarasikan kemenangan. Kebuntuan politik tersebut juga tidak serta-merta membuat Netanyahu kehilangan jabatannya. Dia masih dapat menjalankan pemerintahan sementara selama partai-partai berunding untuk menentukan komposisi koalisi berikutnya.

Koalisi Jadi Penentu Arah Pemerintahan

Sistem politik Israel mengharuskan partai-partai membangun koalisi untuk menguasai mayoritas parlemen. Kondisi tersebut membuat partai-partai kecil berpotensi memegang peranan penting dalam menentukan pihak yang mampu membentuk pemerintahan.

Sebelumnya, koalisi Netanyahu memiliki 68 kursi di Knesset. Namun, apabila proyeksi exit poll mendekati hasil penghitungan akhir, dukungan terhadap koalisi nasionalis-religius yang dipimpinnya akan mengalami penurunan signifikan.

Di dalam blok Netanyahu, partai-partai sayap kanan ekstrem yang dipimpin Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich diperkirakan mengumpulkan 13 kursi.

Sementara itu, partai-partai Arab yang berada di luar dua blok utama berpotensi memengaruhi hasil akhir pembentukan pemerintahan. Tetapi, Eisenkot hampir menutup peluang untuk menjalin kerja sama dengan partai-partai tersebut. Sikap itu membuat upaya kubunya mencapai ambang mayoritas menjadi lebih sulit.

Apabila tidak ada pihak yang berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas, Israel berpotensi kembali menggelar pemilu.

Eisenkot Desak Netanyahu Mundur

Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar sekaligus mantan kepala militer Israel, muncul sebagai penantang utama Netanyahu dalam pemilu kali ini. Dia berpendapat bahwa Netanyahu tidak lagi memiliki mandat dan kepercayaan masyarakat untuk melanjutkan kepemimpinannya. “Netanyahu adalah perdana menteri sementara, tanpa mandat atau kepercayaan rakyat,” ujar Eisenkot.

Dia juga meminta aparat keamanan Israel tetap berpegang pada kepentingan negara dan memastikan pertimbangan politik tidak memengaruhi keputusan strategis di bidang keamanan.
Eisenkot bahkan mendesak Netanyahu meninggalkan dunia politik. Menurut dia, hasil pemilu menunjukkan adanya keinginan masyarakat untuk mengganti kepemimpinan nasional.

Tokoh berusia 66 tahun itu baru memasuki dunia politik sekitar empat tahun lalu. Setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, Eisenkot sempat bergabung dengan kabinet perang Netanyahu. Namun, delapan bulan kemudian, dia memutuskan mundur karena mengkritik kepemimpinan perdana menteri itu.

Latar belakang militer Eisenkot juga menjadi bagian penting dari profil politiknya. Dia kehilangan seorang putra dan dua keponakannya dalam perang di Gaza.

Dalam kampanye politik, Eisenkot memosisikan diri sebagai tokoh sentris untuk urusan dalam negeri, tetapi tetap mengusung pendekatan tegas dalam persoalan keamanan. Dia menolak pembentukan negara Palestina dan menegaskan bahwa sayap militer Hamas harus dihancurkan atau dilucuti.

Di sisi lain, Eisenkot mengkritik hasil operasi militer Israel di Gaza. Menurut dia, perang yang telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina berdasarkan data otoritas kesehatan Gaza itu belum mencapai tujuan yang ditetapkan karena Hamas masih berkuasa di wilayah tersebut.

Netanyahu Andalkan Isu Keamanan dan Dukungan Trump

Di tengah persaingan yang ketat, Netanyahu menonjolkan pencapaian militer Israel serta hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bagian dari pendekatan politiknya.
Berbicara di hadapan para pendukung Partai Likud di Yerusalem setelah pukul 03.00 waktu setempat, Netanyahu menyebut Israel memiliki peluang bersejarah untuk menghilangkan ancaman dari Iran dengan dukungan Washington.

“Israel menghadapi peluang bersejarah yang luar biasa, bersama mitra kami, Presiden Trump, untuk menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran untuk selamanya. Namun, kepentingan tersembunyi tidak boleh mengalihkan perhatian kita dari misi suci ini,” kata Netanyahu.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu keamanan tetap menjadi salah satu fokus utama Netanyahu. Selama ini, dia menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi berbagai ancaman terhadap Israel.

Namun, kepemimpinannya juga terus menjadi sasaran kritik sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan 251 orang disandera, menurut data yang dikutip Reuters.

Netanyahu turut menghadapi sorotan terkait kegagalan intelijen yang memungkinkan serangan itu terjadi. Selain itu, dia masih berhadapan dengan tuduhan korupsi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, meskipun membantah melakukan kesalahan.

Partisipasi Pemilih Capai 77,7 Persen

Komite Pemilihan Umum Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini mencapai 77,7 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan sekitar tujuh poin persentase lebih tinggi dibandingkan partisipasi pada pemilu 2022.

Tingginya partisipasi berlangsung ketika masyarakat Israel masih menghadapi dampak serangan Hamas pada 2023 beserta perang yang kemudian meluas ke Gaza, Lebanon, dan Iran.

Pemilu ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengevaluasi kepemimpinan Netanyahu, khususnya dalam hal keamanan nasional dan arah kebijakan pemerintah.
Kebijakan koalisi sayap kanan yang dipimpinnya selama ini memicu perpecahan di dalam negeri sekaligus memperburuk isolasi internasional Israel. Meski menghadapi kritik, Netanyahu tetap menekankan perannya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi musuh-musuh negara.

Di sisi lain, aliansi partai-partai Arab yang tergabung dalam Joint List menyambut hasil exit poll dengan sorak-sorai. Mereka berharap tingginya partisipasi pemilih Arab dapat memperbesar pengaruh politik untuk menghalangi koalisi Netanyahu kembali berkuasa. “Kami menolak pendudukan dan rasisme, dan kami akan tetap berada di sini,” ujar Faten Gattas, salah satu kandidat Joint List, dalam pidatonya di markas aliansi tersebut di Nazareth.

Presiden Israel Democracy Institute, Yohanan Plesner, menilai hasil exit poll menjadi pukulan bagi koalisi Netanyahu. Namun, dia mengingatkan bahwa Eisenkot belum dapat dinyatakan sebagai pemenang karena penghitungan suara masih berpotensi mengubah peta dukungan.

Hasil akhir pemilu diperkirakan diumumkan pada Kamis atau Jumat. Setelah pengumuman tersebut, proses negosiasi untuk membentuk koalisi diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan.
Jika kebuntuan politik tidak terselesaikan, Israel berpotensi kembali menggelar pemilu.

Meski demikian, Eisenkot menolak opsi tersebut dengan alasan tingginya partisipasi pemilih menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap masa depan pemerintahan negara itu. (bn/hel)