Beranda

Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau Resmi Dihentikan

Lima jurnalis di kapal saat akan berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. (ist)

INDONESIAONLINE – Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang di sekitar perairan Selat Sunda saat hendak menuju Gunung Anak Krakatau resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari.

Seperti diketahui, delapan orang tersebut terdiri dari lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu. Mereka menggunakan Kapal Arupadhatu I menuju kawasan dekat Gunung Anak Krakatau yang tengah mengalami erupsi.

Namun, meski operasi gabungan dihentikan, tim SAR masih membuka kemungkinan pencarian kembali apabila ditemukan petunjuk baru mengenai keberadaan kapal yang membawa rombongan tersebut. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan, pemantauan akan tetap dilakukan melalui berbagai unsur. Informasi terkait keberadaan kapal akan dipantau melalui SROP VTS, Lanal, Polairud, serta kapal-kapal yang melintas di kawasan Selat Sunda.

“Operasi SAR ini tidak berhenti sampai di sini. Setelah pencarian ini kita hentikan, kita lakukan dengan pemapelan melalui SROP VTS, termasuk Lanal, termasuk dari Polairud yang melakukan patroli dan pencarian, termasuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda yang akan menjadi ujung tombak apabila menemukan informasi lebih lanjut,” ujar Al Amrad di Carita, Pandeglang, Kamis (17/9/2026).

Ia menegaskan, operasi SAR dapat kembali dibuka apabila terdapat tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan Kapal Arupadhatu I maupun delapan orang yang hingga kini belum ditemukan. “Dan apabila ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali,” imbuhnya.

Al Amrad menjelaskan, pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut telah dilakukan selama 10 hari. Dalam  penyisiran, tim SAR menemukan 13 objek, di antaranya helm, jaket pelampung, galon, hingga terpal. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh objek yang ditemukan tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan Kapal Arupadhatu I.

Menurut Al Amrad, penghentian operasi dilakukan sesuai prosedur standar operasional (SOP) pencarian dan pertolongan. Masa operasi awal berlangsung selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang selama tiga hari. Karena tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi gabungan akhirnya dihentikan.

“SOP yang kami sudah tadi disampaikan, SOP kami 7 hari. Setelah itu ada permintaan perpanjangan 3 hari, dan itu tidak ada tanda-tanda korban ditemukan, operasi SAR dihentikan dan kita lanjutkan dengan pemapelan,” katanya.

Gubernur Banten Andra Soni juga membenarkan bahwa operasi pencarian dan pertolongan secara resmi dihentikan. Meski demikian, pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan lima jurnalis dan tiga kru Kapal Arupadhatu I tetap dilakukan.

Andra mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihak Basarnas menilai pelaksanaan pencarian sudah tidak efektif untuk dilanjutkan dalam bentuk operasi gabungan. “Pihak Basarnas tadi menyampaikan bahwa karena sudah dinilai tidak efektif dalam pelaksanaannya, dalam pencarian dan pertolongan ini, maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan dan pertolongan ini oleh pihak yang berkepentingan atau pihak yang memiliki kewenangan dinyatakan dihentikan,” ujar Andra.

Lima jurnalis yang masih dinyatakan hilang yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Sementara, tiga kru Kapal Arupadhatu I yang turut hilang adalah Warta/Surahman selaku kapten kapal, Sukarman sebagai ABK, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.

Rombongan tersebut diketahui berangkat dari Dermaga Pagedongan menuju Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, hingga operasi pencarian dihentikan, mereka belum diketahui keberadaannya dan belum kembali ke daratan. (ars/hel)

Exit mobile version