Pendekar Pena dan Kungfu: Jurnalis Tionghoa yang Bikin Belanda Senewen

Pendekar Pena dan Kungfu: Jurnalis Tionghoa yang Bikin Belanda Senewen
Repro AI foto Kho Tjoen Gwan Jurnalis yang sekaligus pendekar kungfu di era penjajahan Belanda (io)

Kisah Kho Tjoen Gwan, jurnalis Tionghoa dan ahli kungfu yang melawan penjajah Belanda lewat tulisan tajam dan bela diri pada awal abad ke-20.

INDONESIAONLINE – Bau amis darah, peluh, dan anyir tinta mesin cetak seolah menjadi parfum sehari-hari bagi Kho Tjoen Gwan. Di lanskap Hindia Belanda awal abad ke-20 yang diwarnai represi dan ketegangan rasial, perlawanan tak selalu datang dari ujung bedil.

Bagi seorang anak miskin asal Brebes, perlawanan itu lahir dari perpaduan dua senjata yang mematikan: ujung pena yang merobek tirani dan kepalan tangan berilmu kungfu tingkat tinggi.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang kala itu tengah dilanda paranoid hebat akibat berkecamuknya Perang Dunia I (1914-1918), dibuat kelabakan oleh sosoknya. Kho Tjoen Gwan bukanlah bumiputra, melainkan seorang peranakan Tionghoa. Namun, empatinya terhadap kaum terjajah dan keberaniannya menentang kebijakan rasis pemerintah kolonial menjadikannya salah satu anomali paling berani dalam sejarah pergerakan nasional dan pers Indonesia.

Dari Pesuruh Koran hingga Pendekar

Lahir pada permulaan abad ke-19, tepatnya diperkirakan pada tahun 1900 di Brebes, Jawa Tengah, Kho Tjoen Gwan tidak terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Kemiskinan struktural yang mendera banyak keluarga Tionghoa dan bumiputra di pesisir utara Jawa memaksanya merantau ke Batavia (kini Jakarta) pada usia sepuluh tahun yang sangat belia.

Di Batavia, kota metropolitan kolonial yang gemerlap namun kejam, ia mengais rezeki sebagai pesuruh (jongos) di surat kabar Perniagaan. Surat kabar ini merupakan koran peranakan Tionghoa berbahasa Melayu rendah yang cukup berpengaruh pada masanya.

Pekerjaan kasar menyapu lantai redaksi dan mengantar draf tulisan justru menjadi sekolah kehidupan bagi Gwan. Di sinilah ia terpapar pada dunia literasi, politik, dan secara tak terduga: seni bela diri.

Menurut penelusuran sejarah dari Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan dalam bukunya Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia, di kantor redaksi itulah Gwan digembleng seni bela diri kungfu tradisional oleh seorang staf bermarga Gouw.

Latihan fisik yang keras membentuk mentalnya menjadi baja. Kegigihan serta kecerdasannya menyerap informasi membuatnya perlahan naik kelas, dari seorang pesuruh miskin menjadi redaktur di Soeara Kebenaran.

Kombinasi antara kecerdasan intelektual dan keahlian bela diri ini kelak menjadi benteng pertahanan utamanya saat ia harus keluar-masuk jeruji besi kolonial yang terkenal bengis.

Menelanjangi Kebijakan Indië Weerbaar

Reputasi Kho Tjoen Gwan sebagai “anak nakal” di mata Belanda bermula pada tahun 1916. Saat itu, pemerintah kolonial tengah merancang kebijakan Indië Weerbaar (Pertahanan Hindia). Merujuk pada data historis, kebijakan ini diusulkan karena Belanda ketakutan wilayah jajahannya akan diserang oleh kekuatan asing (terutama ancaman dari Pasifik dan imbas Perang Dunia I), sementara militer kerajaan Belanda di Eropa tengah terdesak.

Belanda berniat menerapkan wajib militer bagi penduduk bumiputra dan Timur Asing (termasuk Tionghoa). Gwan melihat ini sebagai akal-akalan licik. Lewat sebuah karya sastra jurnalistik berbentuk puisi panjang berjudul Boekoe Sair Indie-Weerbaar yang diterbitkan pada 1916, ia meledek dan menelanjangi niat busuk kolonial.

Ia menyadarkan publik bahwa rakyat jajahan hanya akan dijadikan “umpan meriam” (cannon fodder) demi melindungi kepentingan ekonomi penjajah.

Tulisan satire yang tajam itu membuat Gubernur Jenderal berang. Hukum kolonial mengenai pelanggaran pers atau yang dikenal dengan Persdelict—dan pasal ujaran kebencian (Haatzaai Artikelen) yang termaktub dalam Pasal 153 bis dan ter KUHP Kolonial—dijatuhkan kepadanya.

Gwan dijebloskan ke penjara selama tiga bulan. Namun, alih-alih ciut, penjara justru mematangkan radikalismenya. Ilmu kungfunya beberapa kali menyelamatkan nyawanya dari kerasnya kehidupan penjara kolonial yang kerap diwarnai penyiksaan dan pertarungan antarnarapidana.

Merah di Semarang: Persilangan Kiri dan Nasionalisme

Keluar dari penjara, Kho Tjoen Gwan tidak meredam suaranya. Ia justru pindah ke Semarang, sebuah kota pelabuhan yang pada dekade 1910-an dan 1920-an dijuluki sebagai “Kota Merah” (De Rode Stad). Semarang saat itu adalah kawah candradimuka pergerakan radikal, tempat bersemainya ideologi sosialis dan komunis yang dibawa oleh tokoh Belanda, Henk Sneevliet.

Pada tahun 1916, Gwan diangkat menjadi redaktur Sinar Hindia, sebuah surat kabar sayap kiri yang berafiliasi kuat dengan Sarekat Islam (SI) cabang Semarang di bawah pimpinan tokoh legendaris Semaun.

Sinar Hindia bukan koran sembarangan; oplahnya masif dan menjadi corong utama perlawanan anti-kapitalisme dan anti-kolonialisme. Di sinilah Gwan semakin terpapar ideologi politik sayap kiri. Ia juga menulis untuk Warna Warta, koran peranakan Tionghoa terbesar di Semarang kala itu.

Keberanian Gwan kembali memakan korban: kebebasannya sendiri. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia mencatat bahwa Gwan kembali ditangkap akibat tulisannya yang berjudul “Doenia Bondjol” (Dunia yang Terpukul) di Warna Warta.

Artikel ini dengan brilian menguliti Undang-Undang Kewarganegaraan Hindia Belanda (Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap) yang sangat diskriminatif karena memecah belah kelas sosial berdasarkan ras. Tulisan ini membawanya kembali ke bui selama empat bulan.

Tak kapok, pada 1920 ia kembali menulis di Warna Warta, mengkritik usulan milisi pribumi yang dinilainya manipulatif. Delik kebencian kembali disangkakan kepadanya, menghasilkan vonis empat bulan kurungan tambahan.

Dari Jurnalisme Menuju Palagan Partai

Puncak karier politik Kho Tjoen Gwan terjadi pada era 1920-an. Ketika Partai Komunis Hindia (cikal bakal PKI) menguat di Semarang, Gwan tak lagi sekadar menjadi pengamat di balik mesin ketik. Ia turun ke jalan dan berorganisasi.

Sinolog terkemuka, Leo Suryadinata, dalam bukunya Prominent Indonesian Chinese, mengonfirmasi posisi penting Gwan. Pada tahun 1924, ia didapuk menjadi pemimpin PKI cabang Semarang. Sementara itu, sejarawan Ruth McVey dalam karya babonnya The Rise of Indonesian Communism, mencatat sejarah penting: Kho Tjoen Gwan adalah anggota eksekutif etnis Tionghoa pertama di dalam tubuh partai tersebut.

Ia juga memegang kendali finansial sebagai bendahara Perserikatan Kaum Buruh Gula, sebuah serikat buruh strategis mengingat gula adalah komoditas ekspor terbesar Hindia Belanda saat itu.

Ketika PKI melancarkan pemberontakan besar yang prematur dan berujung gagal total pada 1926-1927, pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan massal. Sekitar 13.000 orang ditangkap, dan ribuan di antaranya dibuang ke kamp konsentrasi mematikan di Boven Digoel, Papua.

Gwan ditangkap di Kudus dan diinterogasi dengan keras. Namun, entah karena kehati-hatiannya dalam bergerak atau kurangnya bukti langsung keterlibatannya dalam aksi bersenjata, ia secara ajaib luput dari mimpi buruk pembuangan ke Digoel.

Darah, Kungfu, dan Senjakala Sang Pendekar

Gagalnya pemberontakan 1926 tidak mematikan jiwa pergerakannya. Ia beralih ke gerakan bawah tanah dengan bergabung ke dalam Hong Boen Hwee di Kudus. Pada tahun 1930, ia mencoba mendirikan Partai Tionghoa Indonesia cabang Kudus, namun iklim politik yang sangat represif di bawah Gubernur Jenderal de Jonge membuat usahanya kandas.

Tahun 1931 menjadi saksi bagaimana ilmu bela diri Kho Tjoen Gwan bukan sekadar untuk olahraga. Depresi Besar (Malaise) yang menghantam ekonomi dunia turut merusak tatanan sosial di Hindia Belanda, memicu kerusuhan rasial antara orang Tionghoa dan bumiputra di Pekalongan akibat ketimpangan ekonomi dan adu domba kolonial.

Melihat saudara-saudaranya terancam, jurnalis ini turun gelanggang. Dengan ilmu kungfunya, Gwan bertarung di jalanan untuk membela komunitasnya. Akibat “main hakim sendiri” demi bertahan hidup ini, ia kembali harus mencicipi dinginnya lantai penjara selama beberapa bulan.

Memasuki masa pendudukan Jepang (1942-1945) hingga era kemerdekaan Indonesia, jejak politik radikalnya mulai memudar. Sang pendekar menua seiring dengan lahirnya republik yang dulu ia perjuangkan lewat tulisan. Ia kembali ke akar profesionalnya, bekerja sebagai editor majalah ekonomi di Pekalongan di bawah asuhan Tan Kiem Swie.

Pada era 1960-an, di masa senjanya, minatnya beralih dari dialektika materialisme ke arah spiritual. Ia menjadi penasihat majalah Parama Arta di Surabaya, sebuah publikasi yang secara khusus mengulas dunia kebatinan dan mistisisme.

Meski raganya menua, rutinitasnya sebagai seorang martial artist tak pernah luntur. Kho Tjoen Gwan yang rambutnya telah memutih masih terus giat melatih kuda-kuda dan jurus kungfunya setiap hari. Ia membuktikan bahwa disiplin tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Sang jurnalis, aktivis antikolonial, dan master kungfu ini akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Pekalongan pada tahun 1970, meninggalkan warisan sejarah tentang bagaimana kaum minoritas tak pernah absen dalam melawan mesin raksasa kolonialisme Belanda.