Prabowo dan Jokowi tampak akrab saat peringatan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka. Keduanya tertawa dan menyaksikan atraksi alutsista.
INDONESIAONLINE – Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026), tidak seluruhnya berlangsung dalam nuansa protokoler. Di sela rangkaian seremoni kenegaraan, muncul pemandangan yang memperlihatkan keakraban Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Momen itu muncul setelah upacara peringatan kemerdekaan berakhir dan sebelum rangkaian atraksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dimulai. Layar besar yang berada di halaman Istana Merdeka menampilkan Prabowo yang duduk berdampingan dengan Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ketiganya terlihat berbincang dalam suasana santai. Prabowo yang berada di tengah Jokowi dan Gibran bahkan tampak tertawa lebar. Pemandangan tersebut menjadi salah satu sisi menarik dari perayaan kemerdekaan tahun ini, terutama karena ketiganya memiliki hubungan politik dan pemerintahan yang saling berkaitan.
Jokowi merupakan presiden yang menjabat selama dua periode sebelum Prabowo mengambil alih pemerintahan pada Oktober 2024. Sementara Gibran, putra sulung Jokowi, menjadi wakil presiden mendampingi Prabowo untuk periode 2024-2029.
Pertemuan ketiganya dalam satu rangkaian peringatan kemerdekaan sekaligus memperlihatkan kesinambungan simbolik antara pemerintahan sebelumnya dan pemerintahan yang sedang berjalan.
Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada percakapan di antara ketiganya. Setelah seremoni utama, langit di sekitar Istana Merdeka berubah menjadi panggung pertunjukan kekuatan udara Indonesia.
Dari Percakapan Santai ke Atraksi Alutsista
Atraksi udara menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 RI. Berbagai jenis pesawat dan helikopter TNI serta sejumlah lembaga negara tampil dalam pertunjukan tersebut.
Pesawat angkut TNI Angkatan Udara yang dikerahkan antara lain Airbus A400M dan CN-295. Kehadiran A400M menjadi salah satu sorotan karena pesawat angkut strategis tersebut memiliki kemampuan angkut dan operasi jarak jauh yang mendukung mobilitas militer.
Di kelompok pesawat tempur, atraksi melibatkan Rafale, F-16, Sukhoi Su-27/30, Hawk 100/200, serta T-50i Golden Eagle.
Sementara itu, jajaran helikopter TNI AU yang disebut tampil antara lain NAS-332 Super Puma, EC-725 Caracal, dan EC-120B Colibri. Pesawat latih KT-1B Woong Bee juga turut berada dalam rangkaian atraksi.
Kekuatan udara yang ditampilkan tidak hanya berasal dari TNI AU. Helikopter Apache milik TNI Angkatan Darat dan helikopter Panther milik TNI Angkatan Laut ikut menjadi bagian dari pertunjukan.
Unsur kepolisian dan pencarian serta pertolongan juga dilibatkan. Polri menampilkan AW-169, sedangkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengerahkan AS 365 Dauphin dan AW-139.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa atraksi bukan semata-mata parade pesawat tempur. Ada pula pesawat angkut, pesawat latih, pesawat intai, hingga helikopter yang menggambarkan beragam fungsi operasi udara.
Bagi pemerintah, pameran kemampuan alutsista dalam peringatan kemerdekaan memiliki nilai simbolis. Di satu sisi menjadi hiburan bagi masyarakat, sementara di sisi lain memperlihatkan kemampuan berbagai unsur pertahanan dan keamanan negara.
Kementerian Pertahanan dalam sejumlah kebijakan modernisasi pertahanan memang menempatkan penguatan alutsista sebagai salah satu agenda penting. Indonesia sedang menjalankan proses pemutakhiran kekuatan pertahanan melalui pengadaan dan peningkatan kemampuan sistem persenjataan, termasuk pesawat tempur dan pesawat angkut.
Kehadiran Rafale dan A400M dalam atraksi juga menjadi gambaran perubahan konfigurasi kekuatan udara Indonesia. Dassault Rafale dipilih pemerintah sebagai bagian dari modernisasi pesawat tempur TNI AU, sementara Airbus A400M memperkuat kemampuan angkut strategis.
Di tengah atraksi tersebut, Prabowo dan Jokowi beberapa kali terlihat memberikan respons terhadap pertunjukan. Prabowo sempat berdiri dan memberikan standing applause, sementara Jokowi terlihat bertepuk tangan dari tempat duduknya.
Keakraban yang Hadir di tengah Simbol Kekuasaan
Jika atraksi pesawat memperlihatkan kekuatan negara dari udara, gambar Prabowo, Jokowi, dan Gibran yang tertawa bersama menghadirkan sisi berbeda dari perayaan tersebut.
Ketiganya berada dalam satu ruang setelah mengikuti upacara kenegaraan yang sangat formal. Di tengah aturan protokol dan simbol-simbol kekuasaan, percakapan santai mereka menjadi pemandangan yang lebih personal.
Bagi publik, kedekatan tersebut juga memiliki konteks politik yang kuat. Jokowi menjadi salah satu figur yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik menuju Pilpres 2024. Setelah tidak lagi menjadi presiden, ia tetap menjadi figur yang diperhatikan dalam dinamika politik nasional.
Prabowo sendiri merupakan bagian dari pemerintahan Jokowi sebelum kemudian menjadi penerusnya. Ia menjabat Menteri Pertahanan selama periode kedua pemerintahan Jokowi. Hubungan politik keduanya kemudian berlanjut ketika Gibran dipasangkan dengan Prabowo dalam Pilpres 2024.
KPU menetapkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pilpres 2024 dengan perolehan 96.214.691 suara atau 58,83 persen suara sah nasional. Hasil tersebut kemudian menjadi dasar pasangan itu menjalankan pemerintahan periode 2024-2029.
Karena itu, momen keakraban antara Prabowo dan Jokowi di Istana bukan sekadar gambar dua mantan dan presiden yang sedang berbincang. Ada perjalanan politik yang panjang di belakangnya.
Namun, pada peringatan kemerdekaan, percakapan itu tampak berlangsung tanpa ketegangan. Mereka duduk berdampingan, berbincang, lalu menyaksikan atraksi udara bersama.
Momentum HUT RI memang kerap menjadi ruang simbolik yang mempertemukan banyak kepentingan sekaligus. Presiden, mantan presiden, pejabat negara, anggota keluarga, prajurit, dan masyarakat berada dalam satu rangkaian perayaan yang sama.
Pada akhirnya, atraksi pesawat mungkin menjadi tontonan paling mencolok karena berlangsung di langit. Tetapi kamera juga menangkap adegan yang lebih sederhana di halaman Istana: Prabowo, Jokowi, dan Gibran duduk berdekatan sambil berbincang dan tertawa.
Di tengah deru mesin pesawat tempur dan helikopter yang melintas, momen tersebut menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan bukan hanya tentang kekuatan militer dan seremoni kenegaraan. Ia juga menghadirkan perjumpaan antartokoh yang pernah dan sedang memegang kendali pemerintahan Indonesia.
