INDONESIAONLINE – Babi menjadi binatang yang diharamkan oleh Allah SWT. Bukan hanya dagingnya, tapi segala hal yang dihasilkan dari babi diharamkan untuk manusia. Lalu jika babi haram, mengapa Allah SWT menciptakan babi?

Dari beberapa sumber, bincangsyariah maupun detikfood, dijelaskan bahwa babi diciptakan sebagai bahan ujian untuk manusia. Seorang umat yang mampu menghindari segala hal yang berkaitan dengan babi, maka ia merupakan umat yang lulus dalam ujian Allah SWT.

Kisah penciptaan babi juga berkaitan dengan tikus dan kucing. Hal ini dijelaskan dalam sebuah buku berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” karya Syaikh Muhammad Bin Ahmad Bin Iyas. 

Dalam penjelasan, saat itu pada masa Nabi Nuh AS. Bahtera Nabi Nuh yang juga ditumpangi hewan begitu penuh dengan kotoran hewan. Para umat yang menumpangi bahtera itu kemudian melaporkan kepada Nabi Nuh. 

Setelah itu, Allah SWT memberikannya Wahyu kepada Nabi Nuh untuk memeras ekor gajah. Setelah melakukan perintah Allah SWT, kemudian munculah babi jantan dan babi betina. Babi itu kemudian membersihkan kotoran-kotoran tersebut dan memakannya.  

Baca Juga  11 Korban Keracunan Massal yang Sempat Dirawat di RSUB Bakal Diperiksa Polisi

Babi tersebut kemudian tiba-tiba bersin dan tiba-tiba Allah menciptakan dari bersin tersebut hewan tikus jantan dan betina. Tikus tersebut kemudian berkembang biak dan kawanan tikus itu mulai menggigit merusakkan kayu-kayu di bahtera.

Para umat yang mengetahui kembali melaporkan pada Nabi Nuh. Dari situ, Nuh kemudian mengerahkan kawanan kucing untuk memangsa tikus. Sampai akhirnya, hingga saat ini tikus dan kucing bermusuhan.

Larangan Allah SWT tentang mengonsumsi babi jelas telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 3 yang artinya, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala,” (QS: Al-Maidah:3).

Untuk itu, seyogyanya manusia tidak harus mengetahui hikmah yang terkandung dari apa yang diperintahkan Allah SWT. Kewajiban manusia hanyalah beriman kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT yang mengetahui apa yang terbaik untuk ciptaannya. Jadi, cukuplah percaya jika ada suatu larangan dari Allah SWT.

Baca Juga  Memberi Nafkah Hewan Peliharaan, Begini Pandangan dalam Islam

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai,” (QS Al-Anbiya:23).

Diciptakannya babi itu dapat memberikan suatu pelajaran yang bisa dipetik, yaitu agar manusia tidak menjadi seperti babi. Hewan babi dicirikan dengan hidupnya yang malas dan rakus. Untuk itu, kemudian Allah mengharamkan babi. Seperti diketahui babi merupakan hewan yang kotor dan jorok karena juga memakan kotorannya sendiri dan bahkan memakin makanan yang telah dikencingi babi sendiri.

Dalam surat Al Madinah ayat 60, Allah SWT berfirman, “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”.