Tekno

QR Code, Munculnya Ternyata Terinspirasi Permainan Ini

19
×

QR Code, Munculnya Ternyata Terinspirasi Permainan Ini

Sebarkan artikel ini

INDONESIAONLINE -Keberadaan QR code (quick response code) sudah  menjadi “teman baru” bagi masyarakat saat ini. Sebab, di mana pun, kita biasanya menjumpai yang namanya QR code.

Saat membeli tiket transportasi umum, kita bisa menjumpainya. Saat pergi ke restoran, kita juga disuguhkan dengan kode tersebut untuk menampilkan menu hidangan.

Bahkan, pada saat adanya pandemik COVID-19, kode QR juga digunakan sebagai verifikasi data individu.

Lalu sekarang, QR Code semakin familiar dengan kegunaannya sebagai pembayaran non tunai alias cashless. Cukup pindai alias scan QR code lewat aplikasi m-banking atau e-wallet kita untuk melakukan transaksi pembayaran saat sedang belanja, makan di restoran, bahkan jajan di pinggir jalan.

Namun, di tengah popularitasnya, apakah kamu sudah tahu bagaimana sejarah kode QR? Siapa yang menciptakannya dan kenapa desainnya berbentuk persegi dengan area hitam putih, ya? Jika belum, yuk simak artikel mengenai sejarah QR Code yang telah dirangkum dari berbagai sumber berikut ini:

1994 – QR Code Lahir di Jepang

Sebelum QR code, dunia sudah mengenal barcode, kode batang yang terdiri dari garis-garis horizontal dan spasi dengan panjang dan jarak yang berbeda-beda. Garis-garis ini mengodekan informasi yang dapat dibaca oleh mesin, seperti scanner barcode.

Barcode digunakan untuk mengidentifikasi dan melacak produk, barang, atau informasi lainnya secara otomatis dengan cepat dan akurat. Namun, kelemahannya, barcode hanya bisa menyimpan 20 digit data. Ini membuat perusahaan harus menempelkan beberapa barcode dalam satu produk untuk memuat informasi lebih banyak. Hal ini dinilai tidak efektif, sehingga muncullah alternatif kode baru yang bisa menampung lebih dari 20 digit data.

Hal ini dirasakan oleh perusahaan suku cadang mobil, Denso Corp, yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan mobil Toyota Motor Corporation.

Mereka pun melakukan penelitian dan pengembangan untuk menyederhanakan alat komunikasi yang digunakan dalam sistem manajemen produksi Toyota.

Pada saat itu, Denso menggunakan kode batang untuk melacak suku cadang mobil yang dikirimkannya. Namun barcode hanya dapat mengonversi informasi sebanyak 20 karakter alfamerik (huruf dan angka). Semakin banyak informasi yang perlu direpresentasikan, seperti riwayat produksi dan transportasi, semakin banyak pula barcode yang diperlukan. Hal ini membuat satu produk memerlukan sekitar 10 barcode. Hal ini pun dinilai tidak efisien.

Pada 1992, salah satu engineer di Denso Wave, anak perusahaan dari Denso Corp., Masahiro Hara pun mulai mencari alternatif kode batang. Hara mulai bekerja mengembangkan kode baru yang dapat berisi banyak informasi dan dapat dipindai secara efisien. Barcode bersifat satu dimensi (1D) dan harus memindainya secara horizontal. Hara pun mencoba membuat kode dua dimensi (vertikal dan horizontal) yang dapat di-scan dari segala arah.

Baca  Blokir Menu Cookie, Google Chrome: Jadikan Internet Lebih Pribadi

Desain Terinspirasi dari Permainan Go Board

Masahiro Hara mendapatkan ide untuk kode baru yang dapat dibaca mesin saat memainkan permainan papan Go (Go Board). Permainan yang juga dikenal sebagai “weiqi” di China dan “baduk” di Korea, adalah permainan papan strategi untuk dua orang yang berasal dari Tiongkok.

Jika dilihat dari atas, papan Go yang dipenuhi oleh batu hitam dan putih memang sekilas mirip dengan QR code saat ini. Dari situ, Hara menggunakan pola deteksi posisi berupa tiga kotak hitam kecil di tiga sudut kotak. Pola ini membentuk sudut siku-siku dari setiap orientasi pandang. Hara dan tim menggunakan rasio area hitam dan putih yang paling sedikit digunakan pada barang cetakan, yakni 1:1:3:1:1.

Ini menggambarkan rasio lebar area hitam dan putih dalam pola deteksi posisi. Dengan cara ini, orientasi kode dapat ditentukan terlepas dari sudut pemindaian, yang dapat berupa sudut mana pun, dengan mencari rasio unik ini. Desain inilah yang membuat Kode QR lebih mudah dan cepat dipindai oleh mesin/kamera. Satu setengah tahun setelah proyek pengembangan dimulai dan setelah percobaan dan kesalahan yang tak terhitung banyak dan berulang-ulang, QR code akhirnya diperkenalkan pada 1994.

Kotak hitam putih dapat mewakili angka dari 0 hingga 9, huruf dari A hingga Z, atau karakter dalam aksara non-Latin seperti kanji Jepang.

Ketika itu, QR code mampu menyimpan informasi hingga 4.296 karakter, termasuk 1.800 karakter kanji (satu halaman A4), atau 7.089 digit dalam satu Kode QR. Kode QR terlihat lebih rumit dan rumit saat pengguna menambahkan lebih banyak data ke dalamnya. Kode ini tidak hanya dapat menyimpan banyak informasi, tetapi juga dapat dibaca 10 kali lebih cepat dibandingkan kode lainnya. Inilah mengapa teknologi ini dinamai Quick Response Code alias kode respons cepat. Tak hanya itu, QR code dinilai juga lebih realiabel karena masih bisa berfungsi bahkan dengan kerusakan hingga 30 persen.

2000 – QR Code Jadi Standar Global

Usai debut dan digunakan di industri otomotif Jepang, QR code akan menerima hampir semua sertifikasi standar industri utama di Jepang dan global (termasuk ISO). Misalnya, QR code disetujui sebagai standar AIM (Automatic Identification Manufacturer) untuk digunakan dalam industri identifikasi otomatis.

Pada tahun 1999, kode QR disetujui sebagai kode 2D standar oleh Japan Industrial Standards. Tak hanya itu, kode QR juga dijadikan simbol 2D standar pada formulir transaksi standar EDI Asosiasi Produsen Otomotif Jepang.

Kemudian pada tahun 2000, QR code disetujui oleh ISO sebagai salah satu standar internasionalnya, sebagaimana dihimpun dari QRCode.com. Ketika aturan penggunaannya ditetapkan dan kodenya distandardisasi, penggunaannya semakin menyebar di seluruh dunia dan di berbagai sektor kehidupan. Salah satu yang mendorong QR code cepat berkembang dan banyak digunakan adalah karena teknologi ini bisa digunakan dan dimodifikasi secara bebas.

Baca  Uji Coba Mesin Pyrolisis, Sehari Sampah di TPA Kota Batu Berkurang 80 Ton

Denso wave memang memiliki memiliki hak paten atas QR code. Namun, pihak Denso Wave menghormati niat Masahiro Hara dan tim pengembang yang ingin agar Kode QR dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang.

Dengan demikian kode QR, yang dapat digunakan tanpa biaya dan tanpa mengkhawatirkan potensi masalah, tumbuh menjadi “kode publik” yang digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia.

2002 – HP dengan Pembaca QR Code Pertama Dirilis

Pada tahun 2002, penggunaan kode ini menyebar luas di kalangan masyarakat umum di Jepang. Salah satu pendorongnya adalah mulai dijualnya ponsel dengan fitur membaca QR code. Salah satu pelopornya adalah Sharp dengan ponsel Sharp J-SH09.

Setelah itu, banyak pengembang yang meluncurkan aplikasi pihak ketiga untuk memindai QR code. Namun, terobosan besar berikutnya adalah saat Apple merilis sistem operasi iOS 11 untuk iPhone pada 2017. Ketika itu, iOS 11 menjadi pioner yang membawa kemampuan scan QR code secara bawaan di kamera iPhone. Jadi, pengguna sudah tidak perlu lagi mengunduh aplikasi scan QR code pihak ketiga.

Tak mau ketinggalan, Google juga melakukan langkah yang dengan Android 8.0. Ponsel yang menjalankan OS ini bakal memiliki fitur scan QR code di kamera HP Android, sebagaimana dihimpun dari Uniqode, Senin (20/5/2024).

Setelah dua penguasa OS dunia ini merilis fitur scan QR code bawaan di kamera HP, QR code disebut makin populer di dunia, terutama untuk tujuan non-pembayaran. Di China, kode QR sudah digunakan secara luas melalui aplikasi super mereka seperti Alipay dan WeChat untuk melakukan segala hal mulai dari melakukan pembayaran hingga memanggil taksi, dan lainnya.

Menurut data QRTiger, di China, QR code di-scan sebanyak 113,6 juta kali dalam satu bulan pada 2013 silam. Miliarder China sekaligus pendiri Alipay, Jack Ma sering dianggap memelopori penggunaan Kode QR untuk pembayaran, sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Masahiro Hara.

Waktu berlalu kini kode QR ada dimana-mana. Teknologi ini menjadi sangat populer di beberapa wilayah. Beberapa negara bahkan memiliki nama/penyebutan tersendiri untuk QR Code sebagai standar nasional pembayaran non-tunai di negaranya. Misalnya, di Indonesia disebut “QRIS”, di Singapura disebut “SGQR”, di India disebut “UPI”, hingga di Brasil disebut “PIX QR”. (mut/hel)