Beranda

Rayuan Politik Bahlil di Surabaya: Menakar Loyalitas Emil Dardak

Rayuan Politik Bahlil di Surabaya: Menakar Loyalitas Emil Dardak
Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia (2 dari kiri) dalam sebuah acara (sc/io)

Bahlil Lahadalia goda Emil Dardak pindah Golkar saat pelantikan pengurus Jatim. Candaan politik atau sinyal manuver jelang 2029?

INDONESIAONLINE – Gedung tempat berlangsungnya pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Jawa Timur di Surabaya, Minggu (15/2), berubah menjadi panggung drama politik yang menggelitik. Di tengah lautan jaket kuning yang mendominasi ruangan, sebuah “serangan” retorika diluncurkan.

Bukan serangan yang memicu amarah, melainkan rayuan halus yang dibungkus candaan, namun memiliki bobot politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Aktor utamanya adalah Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang lugas, to the point, dan seringkali jenaka. Sasaran tembaknya kali ini bukan lawan politik, melainkan sekutu dalam koalisi pemerintahan sekaligus Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.

Kehadiran Emil di acara tersebut sejatinya bersifat protokoler. Ia datang mewakili Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang berhalangan hadir. Namun, bagi Bahlil, kehadiran Emil adalah momentum emas. Di hadapan ribuan kader beringin, Bahlil melempar umpan.

“Pak Wagub gimana, apa sudah mulai goyang? Saya lihat Pak Wagub mulai goyang. Kalau hatinya sudah mulai nyaman, ya tidak apa-apa juga,” ujar Bahlil dengan nada santai namun tatapan tajam.

Gelak tawa ribuan kader pecah, namun di balik tawa itu, tersirat pesan politik yang kuat. Emil Dardak bukanlah politisi sembarangan. Ia adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, sebuah posisi strategis yang memegang kunci mesin partai berlambang bintang mercy di provinsi dengan jumlah pemilih terbesar kedua di Indonesia tersebut.

Semiotika “Satu Rumah Beda Kamar”

Bahlil tidak berhenti pada godaan “goyang”. Ia melanjutkan narasinya dengan sebuah metafora yang menarik tentang loyalitas partai di Indonesia.

“Kalau ada kader yang ke partai lain, itu bukan pindah, hanya hijrah sementara. Kalau rindu pulang, silakan kembali. Kita satu rumah, beda kamar,” tambahnya.

Pernyataan “satu rumah, beda kamar” ini menarik untuk dibedah. Dalam lanskap politik Indonesia pasca-Orde Baru, garis ideologis antarpartai nasionalis-tengah memang semakin kabur. Golkar, Demokrat, Gerindra, NasDem, dan Hanura seringkali berbagi basis massa yang beririsan.

Bahlil seolah ingin menegaskan bahwa perpindahan kader antarpartai-partai ini bukanlah sebuah “murtad ideologi”, melainkan sekadar perpindahan taktis dalam satu spektrum nasionalisme yang sama.

Secara historis, Partai Demokrat dan Golkar memang memiliki chemistry yang unik. Keduanya adalah partai terbuka yang tidak mengandalkan satu figur sentral sakral (seperti PDIP dengan Megawati), meskipun SBY masih menjadi patron di Demokrat.

Pernyataan Bahlil bisa dibaca sebagai upaya menormalisasi perpindahan elit politik sebagai hal yang lumrah, sebuah strategi psikologis untuk melunakkan benteng pertahanan kader partai lain.

Mengapa Emil Dardak?

Pertanyaan mendasar dari manuver Bahlil ini adalah: Mengapa Emil Dardak?

Emil adalah aset premium dalam politik Jawa Timur. Karir politiknya melesat cepat. Bermula dari Bupati Trenggalek (2016-2019), ia kemudian naik menjadi Wakil Gubernur mendampingi Khofifah.

Sosoknya yang muda, teknokratis, berpendidikan tinggi (doktor dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang), dan memiliki latar belakang keluarga intelektual, menjadikannya magnet bagi pemilih milenial dan Gen Z.

Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur pada Pemilu 2024 mencatat Daftar Pemilih Tetap (DPT) di provinsi ini mencapai lebih dari 31 juta jiwa. Dari angka tersebut, proporsi pemilih muda sangat signifikan. Partai Golkar, yang tengah berupaya meremajakan citranya dari partai “Orde Baru” menjadi partai modern, sangat membutuhkan figur-figur seperti Emil untuk mengamankan suara masa depan.

Saat ini, Emil memegang kendali Demokrat Jatim. Di bawah kepemimpinannya, Demokrat berusaha keras mempertahankan basis suaranya di tengah gempuran partai-partai besar lainnya. Jika Golkar berhasil “membajak” Emil, ini akan menjadi pukulan telak bagi Demokrat dan kemenangan besar bagi Golkar dalam mengamankan teritori Jawa Timur menuju 2029.

Kalkulasi Kursi dan Target 2029

Di balik candaan Bahlil, terdapat kalkulasi matematis yang serius. Dalam pidatonya di acara yang sama, Bahlil secara tegas memerintahkan kadernya untuk menaikkan suara Golkar sebesar 20 persen pada Pemilu 2029.

“Kita harus rebut kembali kejayaan. Konsolidasi harus sampai ke akar rumput,” tegas Bahlil.

Melihat data hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 DPRD Provinsi Jawa Timur, persaingan di papan atas sangat ketat. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih mendominasi, disusul oleh PDIP, Gerindra, dan Golkar. Partai Demokrat, meskipun memiliki figur Emil, menghadapi tantangan berat untuk menembus dominasi tiga besar tersebut.

Bagi Golkar, Jawa Timur adalah lumbung suara yang krusial. Sejarah mencatat, siapa yang menguasai Jawa (Barat, Tengah, dan Timur), dialah yang memegang kunci istana negara. Dengan mengoda Emil, Bahlil sedang melakukan test the water (cek ombak).

Ia ingin melihat respons publik dan respons internal Demokrat. Apakah soliditas Demokrat cukup kuat menahan godaan “rumah besar” beringin yang saat ini sedang berada di lingkaran inti kekuasaan presiden?

Fenomena “bajak-membajak” kader bukanlah hal baru. Namun, cara Bahlil melakukannya secara terbuka di depan publik, meskipun dibalut canda, menunjukkan kepercayaan diri Golkar yang sedang tinggi-tingginya. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum partai pendukung utama pemerintah, Bahlil memiliki leverage (daya tawar) politik yang sangat besar.

Bagi Emil, tawaran (atau godaan) ini tentu menjadi dilema sekaligus peluang. Di satu sisi, ia memiliki utang budi dan sejarah panjang dengan Demokrat yang telah membesarkannya dari level kabupaten hingga provinsi. Di sisi lain, realitas politik pragmatis seringkali menuntut seorang politisi untuk berada di kendaraan yang paling strategis untuk mencapai tujuan kekuasaan yang lebih tinggi.

Apakah Emil “goyang” seperti kata Bahlil? Secara gestur di acara tersebut, Emil tampak tersenyum dan menanggapi dengan santai. Sebagai politisi ulung, ia paham bahwa reaktif berlebihan justru akan merugikan posisinya. Namun, dalam politik, “tidak” hari ini bisa berarti “mungkin” besok, dan “ya” lusa.

Tantangan Soliditas Koalisi

Gurauan Bahlil ini juga menarik dilihat dari kacamata etika koalisi. Saat ini, Golkar dan Demokrat sama-sama berada dalam barisan pendukung pemerintah. Lazimnya, sesama partai koalisi memiliki “gencatan senjata” tidak tertulis untuk tidak saling mengganggu kader inti masing-masing.

Namun, Bahlil tampaknya ingin mendefinisikan ulang aturan main tersebut. Ia menunjukkan bahwa kompetisi antarpartai tetap berjalan keras di bawah permukaan koalisi yang tampak harmonis. Ini adalah sinyal bagi partai-partai lain di Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk tidak lengah menjaga “pagar” kadernya masing-masing.

Terlepas dari godaan terhadap Emil, fokus utama acara di Surabaya tersebut adalah penguatan mesin partai. Kehadiran tiga ribu kader dan perwakilan partai politik lain menjadi bukti bahwa Golkar sedang memanaskan mesin jauh-jauh hari. Pelantikan pengurus DPD se-Jawa Timur ini bukan sekadar seremonial, melainkan apel siaga.

Struktur Golkar yang dikenal rapi hingga ke tingkat desa (akar rumput) menjadi modal utama. Bahlil menyadari, popularitas tokoh (seperti Emil) penting, namun tanpa mesin partai yang solid, popularitas itu sulit dikonversi menjadi suara elektoral.

“Soliditas struktural menjadi kunci menghadapi agenda politik masa depan,” ujar Bahlil mengingatkan kadernya.

Apa yang terjadi di Surabaya pada Minggu (15/2) lebih dari sekadar kelakar akhir pekan. Itu adalah mikrokosmos dari pertarungan politik nasional yang akan datang. Bahlil Lahadalia sedang memainkan peran sebagai “agregator” kekuatan, berusaha menarik sebanyak mungkin potensi politik ke dalam gravitasi Partai Golkar.

Bagi Emil Dardak, godaan ini adalah ujian loyalitas sekaligus pengakuan atas nilai tawar politiknya yang tinggi. Bagi Partai Demokrat, ini adalah early warning system (sistem peringatan dini) bahwa benteng pertahanan mereka di Jawa Timur sedang diintip oleh tetangga sebelah yang “satu rumah tapi beda kamar”.

Politik Indonesia memang cair. Hari ini kawan, besok bisa jadi lawan, atau sebaliknya. Namun satu hal yang pasti, rayuan Bahlil di Surabaya telah memantik wacana baru: sejauh mana ideologi partai mampu mengikat kadernya ketika tawaran kekuasaan yang lebih besar melambai di depan mata? Jawa Timur, sekali lagi, akan menjadi saksi bisu dari drama perebutan pengaruh ini hingga 2029 nanti.

Exit mobile version