Beranda

Revolusi E-Tourism Malang: 200 Becak Listrik dan Wajah Baru Kota

Revolusi E-Tourism Malang: 200 Becak Listrik dan Wajah Baru Kota
Ilustrasi becak listrik yang akan jadi ikon wisata baru Kota Malang, Jawa Timur (io)

Malang siap operasikan 200 becak listrik wisata Januari 2026. Fokus di Kayutangan Heritage, ini strategi Pemkot urai macet dan dayakan ekonomi warga lokal.

INDONESIAONLINE – Suara gesekan rantai dan nafas terengah-engah pengayuh becak yang beradu dengan tanjakan jalanan Kota Malang mungkin sebentar lagi akan menjadi memori lawas. Kota yang dikenal dengan julukan Paris of East Java ini sedang bersiap menyambut era baru dalam pariwisata urban: integrasi teknologi ramah lingkungan dengan transportasi tradisional.

Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, di awal tahun 2026 ini, mengambil langkah progresif dengan persiapan distribusi 200 unit becak listrik (E-Becak). Armada ini diproyeksikan bukan sekadar alat transportasi, melainkan ikon baru pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang akan menghiasi koridor-koridor sejarah kota, khususnya kawasan Kayutangan Heritage.

Program ini dijadwalkan mulai mengaspal pada akhir Januari 2026, menandai transformasi besar dalam tata kelola wisata kota yang mencoba menyeimbangkan modernisasi, ekologi, dan ekonomi kerakyatan.

Bantuan Pusat: Simbiosis Ekologi dan Ekonomi

Kehadiran 200 unit becak listrik ini merupakan buah dari bantuan pemerintah pusat yang disalurkan langsung melalui Wali Kota Malang. Langkah ini sejalan dengan peta jalan nasional untuk mengurangi emisi karbon di sektor pariwisata, yang telah didengungkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak beberapa tahun terakhir.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, menyebut inisiatif ini sebagai “angin segar” ganda. Di satu sisi, ia mempercantik wajah pariwisata; di sisi lain, ia mengangkat martabat para pengayuh becak konvensional.

“Alhamdulillah, Kota Malang mendapatkan bantuan 200 unit becak listrik yang antara lain akan diperuntukkan untuk melayani wisatawan,” ujar Baihaqi pada Rabu (14/1/2026).

Secara teknis, becak listrik menawarkan solusi atas topografi Kota Malang yang berkontur naik-turun. Bagi pengemudi, yang mayoritas berusia paruh baya, bantuan tenaga listrik akan mengurangi beban fisik secara drastis, memungkinkan mereka beroperasi lebih lama dengan kelelahan yang minim. Ini adalah bentuk humanisasi profesi di tengah gempuran transportasi online.

Seleksi Ketat: Mencegah Konflik Horizontal

Mendistribusikan 200 unit kendaraan canggih kepada ribuan penarik becak di Malang bukanlah perkara mudah. Potensi kecemburuan sosial dan salah sasaran menjadi risiko nyata. Oleh karena itu, Disporapar menggandeng Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang untuk melakukan verifikasi data yang ketat dan berlapis.

Baihaqi menegaskan bahwa “KTP Kota Malang” adalah harga mati. Syarat administratif ini mutlak untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi berputar di kalangan warga lokal. Selain itu, calon penerima haruslah mereka yang secara de facto masih aktif berprofesi sebagai pengayuh becak konvensional.

“Harapannya, distribusi 200 unit becak ini tidak menimbulkan permasalahan, termasuk kemacetan. Dengan demikian, becak wisata ini benar-benar bermanfaat,” tegas Baihaqi.

Proses kurasi ini penting mengingat pengalaman di berbagai kota lain, di mana bantuan alat kerja kerap kali berpindah tangan atau dijual kembali. Pemkot Malang tampaknya belajar dari preseden tersebut dengan menerapkan sistem pengawasan yang lebih rigid sebelum serah terima unit dilakukan.

Transformasi SDM: Dari Pengayuh Menjadi Pemandu

Salah satu aspek paling menarik dari program ini adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pemkot Malang menyadari bahwa wisatawan masa kini tidak hanya membeli jasa antar, tetapi membeli pengalaman dan cerita.

Oleh karena itu, sebelum memegang kemudi becak listrik, para calon pengemudi diwajibkan mengikuti Forum Group Discussion (FGD) dan pelatihan khusus. Disporapar menggandeng Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) untuk mentransformasi mindset para tukang becak.

Mereka dididik untuk menjadi duta wisata yang ramah, informatif, dan mampu menceritakan sejarah bangunan-bangunan kolonial di Malang. Narasi tentang Toko Oen, Gereja Kayutangan, hingga sejarah alun-alun kota akan menjadi nilai tambah yang dijual bersamaan dengan jasa transportasi tersebut. Ini adalah upaya menaikkan kelas becak dari sekadar moda transportasi menjadi atraksi wisata tersendiri.

Strategi Rute: Kayutangan Heritage sebagai Episentrum

Pemilihan lokasi operasional menjadi kunci keberhasilan program ini. Kawasan Kayutangan Heritage, yang telah direvitalisasi menjadi pedestrian lebar ala Eropa, dipilih sebagai episentrum utama. Selain itu, becak-becak ini juga akan ditempatkan di titik strategis seperti hotel-hotel berbintang dan area Islamic Center.

Keputusan ini strategis namun berisiko. Kayutangan adalah salah satu titik kemacetan baru di Malang saat akhir pekan. Jika 200 unit becak ini tumpah ruah tanpa manajemen lalu lintas yang baik, niat mengurai masalah justru bisa menambah kekusutan.

Menjawab kekhawatiran ini, skema “Paket Wisata Terpadu” sedang digodok. Becak listrik kemungkinan besar tidak akan beroperasi secara liar mencari penumpang (ngetem sembarangan), melainkan terintegrasi dengan paket kunjungan hotel atau rute wisata heritage yang telah ditentukan jalurnya. Hal ini untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas sekaligus memberikan kepastian pendapatan bagi pengemudi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kesiapan fisik unit sudah 100 persen. Sebanyak 100 unit saat ini diamankan di gudang Stadion, sementara 100 unit sisanya diparkir di kawasan Islamic Center. Kondisi unit yang ready to use menandakan bahwa hambatan saat ini hanyalah masalah administratif dan birokrasi pusat.

“Untuk peresmian dan pendistribusian, kami masih menunggu komunikasi dengan pihak di Jakarta. Mudah-mudahan akhir Januari ini sudah bisa didistribusikan agar segera dimanfaatkan,” pungkas Baihaqi.

Namun, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai setelah distribusi. Infrastruktur pengisian daya (charging station) dan layanan purna jual (maintenance) untuk becak listrik ini harus dipikirkan matang-matang. Jangan sampai becak-becak canggih ini mangkrak dalam hitungan bulan karena kerusakan baterai atau ketiadaan suku cadang, sebuah fenomena yang kerap terjadi pada proyek hibah pemerintah di masa lalu.

Program becak listrik wisata ini adalah ujian bagi visi Smart City Kota Malang. Jika berhasil, ini akan menjadi pilot project percontohan nasional bagaimana teknologi bisa melebur dengan kearifan lokal tanpa mematikan mata pencaharian tradisional.

Januari 2026 akan menjadi saksi. Apakah jalanan Malang akan semakin semrawut, atau justru semakin elegan dengan sliweran becak listrik yang senyap, bersih, dan dipenuhi senyum wisatawan serta pengemudinya? Satu hal yang pasti, Malang sedang berbenah menuju masa depan yang lebih hijau.

Exit mobile version