Chen Zhi ditangkap. Taipan kamboja ini diduga dalang scam global. Aset triliunan disita, kawalan ketat warnai ekstradisi ke china. Simak profilnya.
INDONESIAONLINE – Era kejayaan “Pangeran” dari Kamboja itu akhirnya runtuh. Chen Zhi, sosok yang selama satu dekade terakhir dikenal sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Asia Tenggara, kini tak lebih dari seorang tahanan dengan rompi oranye.
Pada Selasa (6/1/2026), di bawah pengawalan ketat aparat bersenjata lengkap, taipan properti dan pendiri Prince Group itu digiring menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke tanah kelahirannya, China, untuk diadili.
Penangkapan Chen Zhi bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah guncangan seismik dalam dunia bisnis bawah tanah Asia. Pria berusia 38 tahun yang pernah menjabat sebagai penasihat Perdana Menteri Kamboja ini dituduh sebagai otak di balik sindikat penipuan siber (cyber scam) dan pencucian uang terbesar dalam sejarah modern, dengan nilai kerugian mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.
Operasi penangkapan yang dilakukan di Kamboja ini merupakan kulminasi dari penyelidikan lintas negara yang melibatkan otoritas China, Kamboja, dan intelijen Amerika Serikat (FBI). Bersama Chen, turut diamankan dua letnannya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui.
Buntut dari kasus ini, pemerintah Kamboja mengambil langkah tegas dengan mencabut kewarganegaraan yang pernah diberikan kepada Chen Zhi pada 2014 silam.
Dua Wajah Sang Taipan: Filantropis vs Predator
Publik mengenal Chen Zhi dengan citra yang sangat terpoles. Lahir di Fujian, China, ia merantau ke Kamboja sekitar tahun 2010. Awalnya ia mencoba peruntungan di bisnis gim online yang sempat gagal, namun nasibnya berubah ketika ia banting setir ke sektor properti.
Momentumnya tepat; saat itu Kamboja sedang banjir investasi dari inisiatif Belt and Road (Sabuk dan Jalan) milik Presiden Xi Jinping.
Melalui Prince Holding Group, Chen mengubah wajah Phnom Penh dan Sihanoukville. Gedung-gedung pencakar langit, hotel bintang lima, kasino megah, hingga bank swasta berada di bawah kendalinya. Untuk memuluskan bisnisnya, ia tak segan menggelontorkan dana filantropi.
Melalui Prince Foundation, ia meluncurkan “Beasiswa Chen Zhi” yang diklaim telah membantu 400 mahasiswa Kamboja dalam tujuh tahun terakhir, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga setempat.
Citra dermawan ini berhasil membuatnya masuk ke lingkaran kekuasaan tertinggi, bahkan diangkat sebagai penasihat bagi Perdana Menteri Hun Manet dan ayahnya, Hun Sen.
Namun, di balik topeng filantropis itu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan penyelidik China menemukan fakta mengerikan. Prince Group diduga hanyalah cangkang raksasa untuk menutupi operasi hitam. Chen dituduh membangun “kompleks neraka”—pusat-pusat penipuan yang beroperasi di Kamboja, Myanmar, dan Laos.
Modus Operandi: “Pig Butchering” dan Perbudakan Modern
Kejahatan yang dituduhkan kepada Chen Zhi sangat sistematis. Ia diduga mengendalikan sindikat penipuan dengan skema Sha Zhu Pan atau yang dikenal di dunia Barat sebagai Pig Butchering Scam. Istilah ini merujuk pada proses “menggemukkan” korban (babi) dengan janji manis investasi atau hubungan romantis palsu, sebelum akhirnya “disembelih” atau dikuras habis hartanya.
Laporan CNN (8/1/2026) dan The Guardian menyebutkan bahwa sindikat ini menyasar warga negara Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Namun, yang lebih memilukan adalah tenaga kerja yang digunakan untuk menipu. Mereka bukanlah karyawan sukarela, melainkan korban perdagangan manusia (human trafficking).
Berdasarkan laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Agustus 2023, diperkirakan setidaknya ada 100.000 orang di Kamboja yang dipaksa bekerja di industri penipuan online ini. Modusnya serupa: mereka dijebak dengan iklan lowongan kerja palsu bergaji tinggi, paspor ditahan, dan dipaksa bekerja 16 jam sehari di bawah ancaman penyiksaan fisik jika tidak mencapai target penipuan.
Jaksa Amerika Serikat menyebut bahwa operasi Chen Zhi telah berjalan sejak 2015 dan menyasar korban di lebih dari 30 negara. Dengan kedok bisnis real estat dan keuangan yang sah, uang hasil kejahatan tersebut dicuci (money laundering) melalui sistem perbankan yang rumit dan aset kripto.
Penyitaan Aset Fantastis: Rp 251 Triliun dalam Bitcoin
Skala kejahatan Chen Zhi terungkap dari besarnya aset yang disita. Pada Oktober 2025, otoritas gabungan Amerika Serikat dan Inggris melakukan penyitaan aset yang diduga terafiliasi dengan jaringan Chen Zhi. Nilainya mencengangkan: 15 miliar dolar AS atau setara Rp 251,9 triliun dalam bentuk mata uang kripto Bitcoin.
Angka ini menjadikan kasus Chen Zhi sebagai salah satu penyitaan aset kripto terbesar dalam sejarah penegakan hukum global. Tak hanya di dunia maya, aset fisiknya pun diburu. Sebuah rumah mewah senilai £12 juta (sekitar Rp 240 miliar) di Avenue Road, kawasan elite London, turut disita.
Rumah ini hanyalah satu dari sekian banyak properti mewah yang dibeli Chen untuk mengamankan uang hasil kejahatannya.
Data dari Biro Investigasi Federal AS (FBI) melalui Internet Crime Complaint Center (IC3) mencatat bahwa kerugian akibat penipuan investasi (termasuk pig butchering) di AS saja mencapai 3,31 miliar dolar AS pada tahun 2022. Penangkapan Chen Zhi diyakini akan memutus salah satu urat nadi utama aliran dana haram tersebut.
Runtuhnya Tembok Perlindungan Politik
Pertanyaan besar yang muncul adalah: bagaimana Chen Zhi bisa beroperasi begitu lama tanpa tersentuh? Jawabannya terletak pada “simbiosis mutualisme” antara bisnis haram dan perlindungan politik.
Investasi sebesar 250.000 dolar AS (Rp 4,1 miliar) yang dikeluarkannya untuk mendapatkan kewarganegaraan Kamboja pada 2014 hanyalah uang receh dibandingkan miliaran dolar yang ia putar.
Posisinya sebagai penasihat perdana menteri memberinya kekebalan de facto. Uang hasil kejahatan diduga mengalir deras untuk menyuap pejabat korup demi memuluskan operasi kompleks penipuannya.
Namun, tekanan internasional mengubah segalanya. China, yang warganya juga banyak menjadi korban sekaligus pelaku (yang diperdagangkan), mulai gerah. Beijing melancarkan tekanan diplomatik keras kepada Phnom Penh untuk membersihkan sarang-sarang judi dan penipuan yang merusak citra inisiatif Belt and Road. Di sisi lain, Amerika Serikat terus memburu aliran dana yang merugikan warganya.
Kamboja, yang sedang berusaha memulihkan citra internasionalnya demi menarik investasi asing yang sah, akhirnya memilih mengorbankan Chen Zhi. Pencabutan kewarganegaraan dan ekstradisi ini menjadi sinyal bahwa “uang perlindungan” Chen Zhi tak lagi laku di hadapan tekanan geopolitik.
Masa Depan Korban dan Jaringan Scam
Penangkapan Chen Zhi adalah kemenangan besar, namun bukan akhir dari perang melawan sindikat scam. Jaringan ini seperti hidra; satu kepala dipotong, kepala lain bisa tumbuh jika akar masalahnya tidak diatasi. Kompleks-kompleks penipuan di perbatasan Myanmar yang dikuasai milisi bersenjata, misalnya, masih sulit disentuh hukum internasional.
Bagi para korban penipuan di AS dan seluruh dunia, penangkapan ini membawa sedikit harapan akan kembalinya dana mereka, meskipun proses restitusi dari aset sitaan akan memakan waktu tahunan. Sementara bagi ribuan korban kerja paksa yang pernah disiksa di kompleks milik Prince Group, keadilan baru akan terasa lengkap jika seluruh jaringan yang terlibat, termasuk oknum pejabat yang melindungi, turut diseret ke meja hijau.
Kisah Chen Zhi adalah peringatan keras tentang sisi gelap globalisasi digital. Di balik gemerlap lampu kasino dan gedung pencakar langit Phnom Penh, tersimpan jejak darah dan air mata jutaan korban yang dieksploitasi oleh keserakahan seorang taipan yang kini harus menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi China.













