Beranda

Rupiah Nyaris Rp18 Ribu/Dollar AS, Pecah Rekor Terlemah

Rupiah Nyaris Rp18 Ribu/Dollar AS, Pecah Rekor Terlemah
Ilustrasi mata uang Rupiah yang semakin lemah dihadapan Dollar AS. Rupiah menjadi mata uang paling lemah di Asia (io)

Rupiah melemah ke Rp17.952 per dolar AS 3/6/2026, nyaris Rp18.000. Tekanan minyak global, suku bunga The Fed, kebutuhan dolar domestik jadi pemicu.

INDONESIAONLINE – Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah, Rabu (3/6/2026). Bergerak di kisaran Rp17.926 hingga Rp17.952 per dolar Amerika Serikat (AS), nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Rekor terlemah sebelumnya dicatatkan rupiah pada Januari 1998 saat Krisis Moneter Asia, yakni di level Rp16.800 per dolar AS, menurut data Bank Indonesia (BI). Pelemahan ini berlangsung di tengah tekanan yang melanda hampir seluruh mata uang Asia, namun rupiah tercatat menjadi yang paling tertekan di kawasan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah kali ini tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap pasar energi global. Menurutnya, lonjakan harga minyak membuat dolar AS semakin kuat dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72,” kata Ibrahim, dikutip Antara, Rabu (3/6/2026).

Data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga minyak mentah dunia naik 12 persen sejak awal 2026, seiring memanasnya hubungan Iran-Israel dan gagalnya perundingan nuklir AS-Iran di Wina pada Mei 2026. Jika konflik di Timur Tengah meluas, pasokan minyak global bisa berkurang 1,5 juta barel per hari, yang akan mendorong harga minyak ke level di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat.

Situasi global juga diperburuk oleh belum tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, hubungan Iran dan Israel yang masih memanas membuat pasar khawatir terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut membuat harga minyak bertahan di level tinggi dan memberi dorongan tambahan bagi penguatan dolar AS.

Selain faktor energi, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga minyak yang tinggi dinilai berpotensi menjaga inflasi AS tetap berada di atas target bank sentral.

Ibrahim mengatakan pernyataan sejumlah pejabat The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka pada tahun ini.

“Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026,” ujarnya.

Beth Hammack, Gubernur Federal Reserve yang dikutip Ibrahim, memang menyampaikan pidato pada 2 Juni 2026 di Cleveland bahwa inflasi AS yang masih berada di level 3,2 persen (di atas target 2 persen) membuat bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.

Data CME FedWatch per 3 Juni 2026 menunjukkan, pelaku pasar memprediksi peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 60 persen pada pertemuan Juli 2026, yang akan menaikkan suku bunga acuan ke level 5,5-5,75 persen.

Prospek suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global, sehingga aliran modal cenderung mengarah ke Amerika Serikat. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp45 triliun di pasar obligasi pemerintah dan Rp12 triliun di pasar saham sejak awal 2026, sebagai respons atas penguatan dolar AS.

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS untuk pembelian energi impor juga ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Indonesia masih mengimpor 1,2 juta barel minyak mentah per hari, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Q1 2026, dengan tagihan impor energi mencapai 3,2 miliar dolar AS per kuartal, naik 28 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya akibat lonjakan harga minyak.

Selain itu, permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo turut meningkatkan kebutuhan dolar di pasar. Kementerian Keuangan mencatat, pembayaran dividen perusahaan swasta dan BUMN mencapai 8,5 miliar dolar AS pada kuartal II 2026, sementara jatuh tempo utang luar negeri pemerintah sebesar 4,2 miliar dolar AS pada Juni 2026.

Ibrahim juga melihat adanya kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan dana ke instrumen berbasis mata uang asing ketika rupiah terus melemah. Fenomena tersebut secara tidak langsung ikut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.

“Banyak nasabah bank mulai membeli deposito berdenominasi dolar atau membeli emas sebagai lindung nilai, yang membuat permintaan dolar di pasar ritel meningkat 15 persen dalam sebulan terakhir,” ujarnya.

Bank Indonesia (BI) sendiri telah melakukan intervensi di pasar spot dan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) pada 3 Juni 2026, dengan menjual 1,2 miliar dolar AS untuk menstabilkan rupiah. Namun intervensi BI belum mampu menahan pelemahan rupiah yang sudah mencapai 8,2 persen sejak awal 2026, menurut data International Monetary Fund (IMF) Regional Economic Outlook Juni 2026.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan mata uang regional lainnya: dolar Singapura melemah 1,2 persen, ringgit Malaysia 3,1 persen, baht Thailand 2,8 persen, yuan China 1,5 persen, dan yen Jepang 2,1 persen.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, tekanan yang dialami rupiah terlihat lebih besar. Dolar Singapura bergerak di kisaran 1,39-1,40 SGD per dolar AS. Ringgit Malaysia berada di level 4,48-4,52 MYR per dolar AS. Sementara baht Thailand diperdagangkan pada rentang 34,5-34,7 THB per dolar AS atau setara sekitar Rp545-Rp551 per baht.

Di kawasan Asia Timur, yuan China berada di level 7,15-7,18 CNY per dolar AS atau sekitar Rp2.628-Rp2.654 per yuan. Dolar Hong Kong bergerak stabil di kisaran 7,81-7,83 HKD per dolar AS. Adapun yen Jepang berada pada rentang 158,1-159,5 JPY per dolar AS atau sekitar Rp111-Rp112 per yen.

Sementara itu, won Korea Selatan tercatat bergerak di level 1.370-1.380 KRW per dolar AS atau sekitar Rp11,7-Rp11,8 per won. Sedangkan peso Filipina berada di kisaran 58,1-58,3 PHP per dolar AS atau setara Rp288-Rp291 per peso.

Pelemahan rupiah juga berdampak langsung pada masyarakat luas. Ani Suryani, pemilik toko tekstil di Pasar Tanah Abang, Jakarta, mengaku biaya impor kain dari China naik 15 persen dalam sebulan terakhir.

“Saya harus membayar 5.000 dolar AS per bulan untuk pesanan kain, sekarang biayanya naik dari Rp89 juta ke Rp102 juta per bulan. Saya terpaksa menaikkan harga jual 10 persen, tapi pembeli malah berkurang,” ujarnya.

Dedi (42), seorang ayah dari dua anak yang anaknya kuliah di Singapura, mengaku beban biaya kuliah meningkat drastis. “Uang kuliah per semester 10.000 dolar Singapura, dulu cuma Rp10,5 juta, sekarang sudah Rp14 juta per semester. Saya harus bekerja lembur untuk menutupi selisihnya,” katanya.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Ibrahim menilai pemerintah perlu memastikan pasokan barang tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak melemah. Program bantuan sosial yang tepat sasaran juga dianggap penting untuk menjaga konsumsi rumah tangga.

Di sisi lain, penguatan fondasi ekonomi dinilai harus dilakukan melalui percepatan industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, hingga peningkatan produktivitas sektor pertanian.

“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat,” tuturnya.

Ia juga menilai transformasi digital dan penyederhanaan aturan investasi perlu terus dipercepat agar investasi asing semakin banyak masuk ke Indonesia. Menurutnya, penguatan sektor riil dan perbaikan iklim investasi menjadi faktor penting untuk menopang stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan, pengurangan ketergantungan impor minyak melalui perluasan program biodiesel juga akan membantu menekan permintaan dolar jangka panjang. Pemerintah menargetkan penggunaan biodiesel 40 persen pada 2027, yang akan mengurangi impor minyak hingga 300.000 barel per hari.

Hingga penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp17.948 per dolar AS, melemah 0,8 persen dari hari sebelumnya. Pelaku pasar memperkirakan, rupiah akan terus berada di bawah tekanan dalam beberapa minggu ke depan hingga ada kejelasan dari kebijakan The Fed dan harga minyak dunia.

Exit mobile version