Oleh: Palupi Puspitorini, Tri Endrawati, Mar’atus Solikhah, Darmadji
Sampah biasanya berakhir ketika dibuang. Namun, bagaimana jika akhir tersebut justru menjadi awal dari sebuah proses ekonomi baru?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab masyarakat Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Islam Balitar, sampah plastik dan komoditas sereh merah dikembangkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.
Program yang memasuki tahun kedua ini mempertemukan dua potensi masyarakat. Bank Sampah Gong Lestari bergerak dalam pengelolaan limbah plastik, sedangkan Kelompok Masyarakat Mandiri Hidrofarm mengembangkan sereh merah dan minyak atsiri. Keduanya memiliki sumber daya yang potensial, tetapi masih menghadapi keterbatasan teknologi, pengelolaan usaha, kualitas produk dan pemasaran.
Ketika Botol Plastik Tidak Berhenti sebagai Sampah
Selama ini, aktivitas Bank Sampah Gong Lestari lebih banyak berada pada tahap pengumpulan, pemilahan dan penjualan botol plastik kepada pengepul. Cara tersebut memang membantu mengurangi sampah, tetapi nilai ekonomi yang diperoleh masih terbatas karena material belum mengalami proses pengolahan lanjutan. Persoalan tersebut kemudian dijawab melalui penerapan teknologi tepat guna berupa mesin crusher plastik.
Botol plastik yang terkumpul terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenis material. Setelah dibersihkan dan dikeringkan, plastik kemudian dicacah menggunakan mesin crusher hingga menjadi serpihan atau plastic flakes.
Perubahan bentuk ini bukan sekadar persoalan teknis. Plastik yang sebelumnya dijual dalam bentuk botol utuh kini dapat diposisikan sebagai bahan baku antara untuk proses industri daur ulang. Material hasil cacahan juga lebih mudah dikemas dan diangkut. Proses pemilahan sampah tidak lagi menjadi tahap akhir menjadi pintu masuk menuju proses produksi yang menghasilkan nilai tambah.
Inilah salah satu prinsip ekonomi sirkular: mempertahankan material agar tetap berada dalam siklus pemanfaatan selama mungkin. Sampah yang semula dianggap tidak bernilai dapat kembali menjadi bagian dari rantai produksi.
Sereh Merah Tidak Berhenti Menjadi Minyak
Sereh merah merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri dengan berbagai potensi pemanfaatan. Minyak tersebut dapat digunakan dalam industri parfum, kosmetik, aromaterapi dan berbagai produk berbasis bahan alami. Namun, menghasilkan minyak atsiri saja belum cukup untuk menciptakan nilai ekonomi yang optimal.
Pada tahap sebelumnya, masyarakat telah mengembangkan proses penyulingan minyak sereh merah. Pengembangan berikutnya diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kualitas minyak melalui teknologi distilasi serta pemanfaatan varietas unggul Mahapengiri. Setelah kualitas bahan baku diperkuat, tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai jualnya. Jawabannya adalah hilirisasi.
Minyak sereh merah tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi dikembangkan menjadi produk konsumen berupa reed diffuser dan lilin aromaterapi.
Reed diffuser menggunakan batang rotan untuk menyebarkan aroma minyak atsiri tanpa memerlukan listrik maupun api. Produk ini dapat digunakan di rumah, ruang kerja maupun berbagai fasilitas lainnya. Lilin aromaterapi menggabungkan fungsi dekoratif dengan pemanfaatan aroma minyak atsiri. Karakter produk yang lebih menarik secara visual membuka peluang untuk dipasarkan sebagai produk UMKM, suvenir maupun bagian dari kebutuhan ruang relaksasi.
Hilirisasi mengubah cara pandang sereh merah tidak hanya sebagai tanaman penghasil bahan baku, namun menjadi bagian dari produk gaya hidup yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Teknologi Tanpa Manusia yang Berdaya Tidak Akan Berjalan
Teknologi bukanlah tujuan akhir. Mesin yang baik membutuhkan operator yang mampu menggunakannya. Produk yang berkualitas membutuhkan standar produksi. Dan produk yang sudah dibuat tetap membutuhkan pasar.
Karena itu, program Desa Binaan tidak berhenti pada pemberian atau penerapan teknologi. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan dalam pengoperasian mesin crusher, produksi plastic flakes, pembuatan reed diffuser dan lilin aromaterapi, manajemen usaha, pencatatan keuangan serta pemasaran digital.
Penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting untuk membangun kemandirian kelompok. Masyarakat mulai diperkenalkan pada penyusunan target produksi, pembagian tugas, administrasi usaha, pengemasan produk, pengembangan identitas merek dan promosi melalui media digital. Pemasaran yang sebelumnya banyak bergantung pada pembeli lokal dan pengepul mulai diarahkan ke media sosial dan marketplace.
Ekonomi Sirkular Dimulai dari Cara Berpikir
Program di Gedog memberikan sebuah pelajaran bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar aktivitas mendaur ulang sampah.
Lebih dari itu, ekonomi sirkular merupakan cara berpikir tentang bagaimana sumber daya dapat terus dimanfaatkan, diolah dan diberi nilai baru.
Botol plastik yang sebelumnya dijual sebagai material bekas dikembangkan menjadi plastic flakes. Minyak sereh merah yang sebelumnya berada pada posisi sebagai bahan baku dikembangkan menjadi reed diffuser dan lilin aromaterapi.
Keduanya menunjukkan proses yang sama: mengubah sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Keberhasilan pemberdayaan tidak hanya diukur dari jumlah alat yang digunakan atau jumlah pelatihan yang dilakukan. Keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan kelompok untuk mengelola proses produksi, menjaga kualitas, melakukan pencatatan usaha dan membangun pasar.
Dari Gedog untuk Ekonomi Hijau
Kelurahan Gedog memiliki pengalaman yang menarik dalam memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dan masyarakat dapat bekerja bersama mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal. Perguruan tinggi berperan membawa pengetahuan, teknologi dan pendampingan. Masyarakat menjadi pelaku utama yang memahami kondisi lapangan, mengelola sumber daya dan menjalankan aktivitas usaha. Pertemuan kedua unsur tersebut menciptakan ruang untuk membangun ekonomi hijau dari tingkat komunitas.
Sampah plastik tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan. Ia dapat menjadi bahan baku industri daur ulang.
Sereh merah bukan sekedar komoditas pertanian, namun dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi. Mereka diarahkan menjadi pelaku yang menguasai proses produksi dan pengembangan usaha.
Pada akhirnya, ekonomi sirkular bukan hanya tentang bagaimana mengolah barang bekas. Ia juga tentang bagaimana membangun sistem ekonomi yang lebih efisien dalam menggunakan sumber daya, membuka peluang usaha dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Dari Sebuah Kelurahan, Perubahan Itu Dapat Dimulai
Ketika sampah dipandang sebagai sumber daya, ketika komoditas lokal diolah menjadi produk bernilai tambah, dan ketika masyarakat mendapatkan pengetahuan serta teknologi yang sesuai kebutuhannya, maka ekonomi hijau bukan lagi sekadar konsep. Ia menjadi praktik yang dapat dijalankan.
Program Pemberdayaan Desa Binaan ini didukung oleh pendanaan DPPM-Kemdiktisaintek melalui Program Pemberdayaan Kewilayahan Pemberdayaan Desa Binaan Tahun 2026.
