Beranda
Opini  

Dosen Ilmu Komunikasi UB Kenalkan Komunikasi Inklusif untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan di Puskesmas

Malang, 24 Agustus 2026 — Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB), Sinta Swastikawara, S.Ikom., M.Ikom., menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan di Puskesmas Ardimulyo, Singosari, Malang, pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Melayani dengan Hati: Penerapan Komunikasi Inklusif di Puskesmas” sebagai upaya mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan seluruh pasien, termasuk penyandang disabilitas.

Dalam pemaparannya, Sinta menjelaskan secara rinci mengenai pentingnya memahami cara berkomunikasi yang tepat dengan teman-teman Tuli. Menurutnya, komunikasi dalam pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi secara lugas dan tepat, tetapi juga bagaimana petugas mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.

Pemahaman terhadap komunikasi dengan teman Tuli menjadi salah satu hal penting yang ditekankan dalam kegiatan tersebut. Petugas pelayanan diharapkan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga memperhatikan cara berinteraksi agar pasien Tuli dapat menerima dan memahami informasi pelayanan dengan baik. Dengan demikian, proses komunikasi dapat berlangsung secara lebih setara dan tidak menempatkan keterbatasan komunikasi sebagai hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut berlangsung melalui beberapa tahapan. Acara diawali dengan pemaparan materi mengenai komunikasi inklusif, khususnya komunikasi dengan teman-teman Tuli. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi dan menggali lebih jauh mengenai penerapan komunikasi inklusif dalam situasi pelayanan di Puskesmas.

Sebagai penutup, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti praktik Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dipandu oleh Jesselyn Alvina Limanto, salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya yang merupakan teman Tuli sekaligus Ketua Umum Akar Tuli Malang 2026. Praktik ini menjadi pengalaman langsung bagi peserta untuk mengenal dan mencoba menggunakan bahasa isyarat sebagai salah satu bentuk komunikasi yang dapat digunakan ketika memberikan pelayanan kepada pasien Tuli.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Sinta berharap petugas pelayanan Puskesmas dapat semakin memahami bahwa memberikan pelayanan dengan sepenuh hati tidak hanya berarti menyampaikan informasi secara lugas, jelas, dan tepat. Lebih dari itu, pelayanan juga perlu disertai dengan kemampuan untuk memahami keberagaman kebutuhan pasien, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

“Pelayanan yang baik bukan hanya tentang apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana kita memastikan setiap pasien dapat menerima dan memahami informasi yang diberikan,” menjadi semangat yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini.

Penerapan komunikasi inklusif diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih humanis. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, adaptif, dan menghargai setiap individu, Puskesmas dapat menjadi ruang pelayanan yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Penulis: Sinta Swastikawara, S.Ikom., M.Ikom.

Exit mobile version