Oleh: Muzayyanah, Rini Purwatiningsih, Idi Mulyono, Nanang Syaiful Rizal, Syamsul Hadi (Tim Pelaksana dan Tim Pendamping Program Kosabangsa 2026)
Air merupakan sumber kehidupan sekaligus fondasi penting bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat. Namun, bagi sebagian masyarakat pedesaan, ketersediaan air masih menjadi persoalan yang terus berulang, terutama ketika musim kemarau tiba. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memengaruhi produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Desa Kembang, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Sebagai wilayah yang memiliki potensi pertanian cukup besar, masyarakat Desa Kembang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih dan pengelolaan irigasi yang belum optimal. Ketergantungan terhadap sistem pengairan konvensional mengakibatkan penggunaan air kurang efisien. Sementara biaya operasional pemompaan menjadi beban tambahan bagi masyarakat.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam. Dibutuhkan inovasi yang mampu menghubungkan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Universitas Bondowoso bersama Universitas Muhammadiyah Jember melalui kucuran dana Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia dalam Program Kosabangsa 2026 mengembangkan konsep Smart Water Village berbasis energi surya di Desa Kembang. Program ini mengintegrasikan penyediaan air bersih, modernisasi irigasi, pertanian hortikultura berbasis teknologi digital, serta budidaya perikanan sebagai sumber ekonomi produktif masyarakat.
Krisis Air dan Tantangan Pembangunan Desa
Krisis air di wilayah pedesaan tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan sumber air. Dalam banyak keadaan, persoalannya justru terletak pada keterbatasan infrastruktur, rendahnya efisiensi distribusi, serta belum optimalnya kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang tersedia.
Hal tersebut tercermin dalam kondisi Desa Kembang. Berdasarkan identifikasi awal Program Kosabangsa, sebagian warga harus membeli air atau mengambilnya dari sumber yang relatif jauh dari permukiman.
Di sektor pertanian, persoalan serupa muncul akibat kerusakan infrastruktur irigasi dan sistem distribusi air yang masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut menyebabkan kehilangan air cukup tinggi, sementara efisiensi distribusinya berada di bawah 60 persen.
Padahal, sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat setempat. Ketika distribusi air tidak berjalan secara optimal, dampaknya tidak hanya dirasakan pada penurunan produktivitas tanaman, tetapi juga berpotensi menimbulkan persaingan penggunaan air antarkelompok petani.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan air memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar persoalan teknis. Air berkaitan erat dengan keadilan distribusi sumber daya, keberlangsungan mata pencaharian, dan kemampuan masyarakat mempertahankan kesejahteraannya.
Oleh karena itu, penyelesaian krisis air memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan pola pengelolaan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Energi Surya sebagai Solusi Kemandirian Air
Salah satu inovasi yang diterapkan melalui Program Kosabangsa adalah pemanfaatan energi surya untuk mendukung penyediaan air bersih masyarakat.
Teknologi ini diwujudkan melalui pembangunan sumur bor sedalam 65 meter yang dilengkapi pompa tenaga surya berkapasitas 1.000 watt-peak, reservoir berkapasitas 2.000 liter, serta jaringan distribusi air sepanjang 1.200 meter. Menariknya, manfaat teknologi ini tidak hanya terletak pada ketersediaan air. Pemanfaatan energi matahari juga memberikan keuntungan ekonomi melalui penurunan biaya operasional pemompaan. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan energi surya juga memiliki nilai strategis karena menghubungkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dengan upaya pengurangan penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil.
Namun, keberhasilan teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan perangkat. Keberlanjutan operasional, kemampuan pemeliharaan, dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar manfaatnya tidak berhenti setelah program selesai dilaksanakan.
Irigasi Cerdas dan Transformasi Pertanian
Selain penyediaan air bersih, inovasi Smart Water Village juga diarahkan pada modernisasi sektor pertanian. Melalui kolaborasi dengan Gabungan Kelompok Tani Pelopor Tani, tim pelaksana menerapkan 20 unit pintu irigasi berbahan galvalum dan beton ringan yang dirancang lebih tahan korosi serta mudah dioperasikan.
Modernisasi infrastruktur ini kemudian dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) melalui sistem Smart Irrigation pada lahan demonstrasi hortikultura tanaman arnong.
Sistem tersebut memanfaatkan sensor kelembapan tanah, pengukur debit air, serta perangkat pengendali yang terhubung dengan telepon pintar. Melalui teknologi ini, proses penyiraman dapat dilakukan secara otomatis berdasarkan kebutuhan kelembapan tanaman. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pertanian tidak harus dimulai dari teknologi yang kompleks dan mahal. Inovasi sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal justru berpotensi memberikan manfaat nyata bagi petani. Lebih jauh, penerapan irigasi cerdas juga menjadi langkah awal perubahan paradigma pertanian, dari pola penggunaan air berdasarkan kebiasaan menuju pengelolaan yang lebih terukur dan berbasis data.
Budidaya Perikanan sebagai Penggerak Ekonomi Hijau
Konsep Smart Water Village di Desa Kembang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan air dan peningkatan produktivitas pertanian. Program ini juga dikembangkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru melalui budidaya perikanan berbasis potensi lokal.
Bersama Karang Taruna Pemuda Pancasila, tim pelaksana membangun enam unit kolam terpal bioflok untuk budidaya ikan nila. Sebanyak 1.800 benih ikan nila ditebar sebagai tahap awal pengembangan usaha produktif kelompok. Pemanfaatan teknologi bioflok menjadi alternatif budidaya perikanan yang mendukung efisiensi penggunaan air dan pengelolaan kualitas lingkungan kolam. Proyeksi tersebut masih memerlukan pembuktian melalui hasil panen dan evaluasi usaha secara berkelanjutan. Meski demikian, pembentukan unit usaha ini menunjukkan adanya peluang diversifikasi ekonomi bagi masyarakat, khususnya generasi muda desa.
Di sinilah konsep ekonomi hijau memperoleh relevansinya. Sumber daya air tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga dikelola secara efisien untuk mendukung kegiatan produktif yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Pengembangan ekonomi hijau pada tingkat desa tidak selalu harus dimulai dari investasi berskala besar. Penguatan usaha berbasis sumber daya lokal, efisiensi energi, dan pemanfaatan teknologi tepat guna dapat menjadi langkah awal menuju sistem ekonomi yang lebih tangguh.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Masyarakat
Keberhasilan inovasi di tingkat desa tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi berbagai pihak. Program Kosabangsa 2026 di Desa Kembang dilaksanakan oleh Universitas Bondowoso dengan pendampingan Universitas Muhammadiyah Jember serta melibatkan pemerintah desa, Gapoktan Pelopor Tani, dan Karang Taruna Pemuda Pancasila.
Keterlibatan perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan teknologi, tetapi juga melalui transfer pengetahuan, pelatihan, dan pendampingan masyarakat.
Sejumlah anggota masyarakat telah mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas dalam pengoperasian teknologi irigasi, pengelolaan sistem air bersih berbasis energi surya, dan pengembangan usaha perikanan. Pendekatan ini menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat seharusnya tidak berhenti pada penyerahan alat atau pembangunan fasilitas fisik.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa inovasi yang diperkenalkan dapat dipahami, dikelola, dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat penerima manfaat.
Dalam konteks tersebut, masyarakat tidak ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan kemampuan untuk menentukan arah pengembangan desanya. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat menjadi fondasi penting untuk membangun keberlanjutan program.
Menuju Desa Mandiri Air dan Berkelanjutan
Pengembangan Smart Water Village di Desa Kembang memberikan pelajaran bahwa transformasi desa dapat dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Keterbatasan air yang sebelumnya menjadi hambatan bagi aktivitas rumah tangga dan pertanian dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi teknologi, efisiensi energi, dan peluang ekonomi baru.
Meski demikian, keberhasilan pembangunan desa tidak cukup diukur dari jumlah infrastruktur yang terpasang atau besarnya peningkatan produktivitas dalam jangka pendek.
Keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat mempertahankan manfaat teknologi, mengelola kelembagaan, serta memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dinikmati secara adil dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, penguatan kelembagaan pengelola air, pemeliharaan infrastruktur, pendampingan usaha perikanan, dan evaluasi dampak lingkungan perlu menjadi bagian dari agenda keberlanjutan program. Model yang dikembangkan di Desa Kembang juga membuka peluang untuk direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik permasalahan serupa. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan kondisi geografis, ketersediaan sumber air, kemampuan ekonomi, dan kesiapan kelembagaan masyarakat setempat.
Pada akhirnya, Smart Water Village bukan sekadar gagasan tentang penggunaan teknologi modern di pedesaan. Lebih dari itu, konsep ini merupakan upaya membangun hubungan yang lebih seimbang antara kebutuhan manusia, pemanfaatan sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.
Pengalaman Desa Kembang menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi akan memiliki makna sosial yang lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung. Sebab, kemajuan sebuah desa tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimilikinya, melainkan oleh seberapa besar teknologi tersebut mampu menghadirkan kemandirian, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakatnya.






