INDONESIAONLINE– Pemerintah mengantisipasi peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September 2026. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut bulan tersebut diperkirakan menjadi periode puncak karhutla sekaligus masa krusial dalam upaya penanganan.
Raja Juli mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi. Apalagi, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang hujan secara lebih signifikan diperkirakan baru muncul pada awal Oktober.
“Karena September ini kita di puncak ya. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan. Tapi kalau tadi kita dengarkan dari BMKG lagi, saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi, sebulan ini adalah battleground kita,” ujar Raja Juli, Senin (31/8/2026).
Menurut menhut, operasi modifikasi cuaca (OMC) menjadi salah satu langkah utama yang perlu dimaksimalkan selama kondisi atmosfer masih memungkinkan. Upaya tersebut dinilai efektif untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang terdampak karhutla.
Selain OMC, pemerintah juga mengandalkan water bombing serta pengerahan satuan tugas darat untuk mengendalikan kebakaran. Raja Juli meminta penempatan pasukan darat disesuaikan dengan wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas tinggi. Pergantian personel secara berkala juga diperlukan agar petugas tetap dalam kondisi prima selama melakukan pemadaman.
“Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur sedemikian mungkin. Di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian,” katanya.
Kementerian Kehutanan, lanjut Raja Juli, juga berupaya memperkuat personel melalui mekanisme bantuan kendali operasi (BKO). Lebih dari 1.000 personel tambahan diupayakan untuk mendukung penanganan di lapangan.
Tambahan personel tersebut tidak seluruhnya harus memiliki keahlian khusus dalam pemadaman. Mereka dapat membantu berbagai pekerjaan pendukung sehingga beban pasukan utama dapat dikurangi dan risiko kelelahan bisa ditekan.
Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan sejumlah wilayah di Kalimantan masih menghadapi tingginya jumlah titik panas. Di Kalimantan Barat, jumlah hotspot bertambah 3.553 titik menjadi 7.377 titik. Sementara fire spot meningkat 16 titik menjadi 72 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut juga dilaporkan kurang dari 1 kilometer.
Kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah. Hotspot turun 147 titik menjadi 5.244 titik, meski fire spot meningkat 16 titik menjadi 72 titik. Jarak pandang di wilayah itu kurang dari 1 kilometer.
Di Kalimantan Selatan, hotspot berkurang 405 titik menjadi 504 titik. Namun, fire spot bertambah tiga titik menjadi 55 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut berada di bawah 2 kilometer.
Untuk wilayah Sumatra, kondisi titik api di Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi secara umum mengalami penurunan. Namun, jumlah hotspot di Sumatra Selatan masih mengalami peningkatan.
Di Riau, hotspot turun 202 titik menjadi 62 titik. Sedangkan fire spot berkurang dua titik menjadi 12 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut berada pada kisaran 4-5 kilometer.
Sumatra Selatan mencatat kenaikan hotspot sebanyak 209 titik menjadi 1.013 titik. Di sisi lain, fire spot turun tujuh titik menjadi 11 titik dengan jarak pandang kurang dari 5 kilometer.
Sementara di Jambi, jumlah hotspot turun 86 titik menjadi 49 titik dan terdapat empat fire spot. Jarak pandang di wilayah tersebut terpantau sekitar 6-7 kilometer. (rds/hel)







