INDONESIAONLINE  – Isu mengenai ‘body shaming’ banyak dicari publik usai video eks Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Cornelis diduga menghina fisik calon presiden 02 Prabowo Subianto dengan kata pincang, gemuk  dan juga bodoh.

“Hanya bisa begini jalannya terpincang-pincang seperti orang bodoh. Tidak beristri karena penisnya sudah dipotong. Makanya dia gemuk, mirip babi yang sudah disunat. Tahu kita babi yang sudah disunat, itulah dia,” ucap Cornelis, dikutip dari akun TikTok @sayapkanan05, (12/2/2024).

Meski hal itu disampaikan sembari tertawa, tanpa disadari bahwa ia sebenarnya telah melakukan body shaming yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental korban.

Tapi sebenarnya apa sih body shaming itu? Dan bagaimana bentuknya, apakah akan memberikan dampak pada korban?

Melansir laman resmi Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders atau ANAD, body shaming ialah segala sesuatu atau bentuk tindakan serta praktik di mana seseorang menghina bentuk maupun ukuran tubuh yang dimiliki oleh orang lain.

Body shaming juga menjadi salah satu bentuk bullying atau perundungan yang dapat dilakukan oleh siapapun, bahkan orang-orang terdekat korban seperti teman, keluarga, saudara. Bahkan, orang yang paling jauh sekalipun bisa melakukan ini, karena tindakan body shaming dapat dilakukan melalui komentar negatif yang diberikan oleh netizen melalui media sosial.

Body shaming dianggap dapat terus terjadi selama masyarakat mengenal dan memercayai konsep cantik dan tampan dengan aspek-aspek tertentu seperti kulit yang berwarna putih, badan tinggi, hidung mancung, rambut yang lurus, tanpa jerawat, dan lain sebagainya. Kondisi inilah yang membuat banyak orang masih melakukan dan bahkan terdorong untuk melakukan body shaming.

Wujud dari body shaming bermacam-macam, ada yang secara terang-terangan mengritik dan mengomentari bentuk tubuh seseorang, ada pula yang membandingkan bentuk serta ukuran tubuh orang lain.

Jenis Body Shaming

Berat badan

Kebanyakan orang mengalami body shaming karena berat badan. Seseorang kemungkinan akan merasa malu, ketika mereka memiliki bentuk tubuh yang dianggap terlalu besar atau bahkan terlalu kecil sehingga orang lain melakukan body shaming terhadap berat badannya. Perilaku melakukan body shaming pada seseorang dengan berat badan yang terlalu besar dinamakan fat shaming.

Rambut tubuh

Mengomentari rambut tubuh seseorang secara negatif merupakan bentuk body shaming. Rambut tumbuh di lengan, kaki, area pribadi, dan ketiak semua orang, kecuali mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Model rambut

Body shaming juga dapat dilakukan dengan mengejek model rambut seseorang. Komentar seperti “Model rambutmu aneh banget. Udah kuno, nggak cocok sama zaman sekarang.” atau “Potong rambut, deh. Risih lihat kamu gondrong, nggak rapi.” merupakan contoh body shaming perihal model rambut.

Baca Juga  Jokowi Ajak Prabowo dan Erick Thohir ke Malang, Sinyal Duet di Pilpres 2024?

Model rambut merupakan pilihan pribadi yang tidak seharusnya dicela. Tekstur rambut setiap orang juga berbeda, sehingga tak sepatutnya body shaming dilakukan. Orang Indonesia Timur mungkin memiliki rambut yang ikal karena genetik. Hal tersebut termasuk normal dan bukan objek candaan atau komentar negatif.

Warna kulit

Indonesia terdiri dari banyak ras dengan warna kulit berbeda-beda. Namun, standar kecantikan yang berkembang di masyarakat membuat warna kulit tertentu dianggap lebih baik dari yang lain.

Orang yang berkulit cerah dianggap sebagai standar yang ideal. Sedangkan mereka yang berkulit gelap sering mengalami body shaming dengan komentar seperti “Dekil banget, sih. Coba perawatan deh biar lebih kinclong.” atau “Gosong banget itu kulit. Kebanyakan main di luar ya?” dan sebagainya.

Wajah

Bentuk wajah ideal sering dikaitkan dengan kulit putih dan mulus, hidung mancung, mata belok, dan tulang pipi tinggi. Perilaku body shaming pada wajah dapat terlihat dari perkataan “pesek”, “jerawatan”, “kusam”, “dekil”, dan sebagainya.

Standar wajah yang demikian berasal dari zaman kolonialisme di mana para penjajah Kaukasia memiliki wajah yang jauh berbeda dan dianggap lebih baik. Padahal, fitur wajah dipengaruhi oleh iklim dan genetik sehingga tidak bisa disamakan.

Dampak Body Shaming

Depresi

Body shaming dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi, terutama pada kalangan anak muda. Tindakan ini awalnya melukai harga diri seseorang. Setelah itu, korban bisa merah, putus asa, dan bahkan membenci tubuhnya sendiri. Jika emosi negatif ini tidak mendapatkan pertolongan medis yang tepat, tidak menutup kemungkinan korban yang sudah depresi jadi punya keinginan untuk bunuh diri.

Gangguan makan

Efek body shaming lainnya juga dapat memicu gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia. Tindakan body shaming bisa mendorong psikologis seseorang untuk emoh menjaga berat badan yang sehat. Korban body shaming yang diolok gendut atau ceking bisa saja frustasi dan justru makan semakin berlebihan. Atau, kondisi ini juga bisa bikin korban sama sekali emoh makan sampai mengalami kurang gizi (malnutrisi) berat.

Gangguan kecemasan sampai serangan panik

Korban yang terus-menerus mengalami body shaming lambat laun bisa mengasihani diri sendiri sampai harga dirinya luntur dan tidak percaya diri. Korban bisa memandang dirinya tidak berharga, tidak layak bahagia, atau tidak punya kehormatan, membuat korban menarik diri dari lingkar sosial, dan memilih mengisolasi diri sendiri. Jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis, korban bisa mengalami gangguan kecemasan parah dan memicu serangan panik.

Baca Juga  Konflik Rempang, PBNU: Utamakan Syura, Hindari Koersif

Cara Menghentikan Body Shaming

Sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna

Pahamilah bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Bila penampilan orang lain tidak sama dengan diri anda, bukan berarti ada yang lebih buruk dan lebih baik. Sadari bahwa setiap orang, termasuk anda, memiliki kekurangan dan tidak ada yang perlu disalahkan dari hal tersebut.

Belajar untuk menjadi pribadi yang baik

Melakukan body shaming tentu bisa menyakiti hati orang lain. Bila anda merasa perilaku ini hanya candaan dan bukan merupakan suatu masalah, ini saatnya untuk mengubah pola pikir anda. Selain itu, tidak semua orang merasa bercandaan tentang fisik itu lucu. Malahan, orang bisa saja risih atau bahkan jengkel saat mendengarnya. Bila ini anda teruskan, situasi di sekitar anda akan jadi tidak nyaman. Lama-kelamaan, bukan tidak mungkin orang-orang akan memilih untuk menjauh.

Berhenti sibuk memikirkan orang lain

Ketimbang sibuk mengomentari atau mengurusi urusan orang lain, sebaiknya anda fokus saja dengan diri sendiri. Lagi pula, ikut campur urusan orang lain tidak ada manfaatnya untuk anda. Jika anda berharap orang lain bisa menjadi lebih sehat dengan komentar pedas, harapan anda kemungkinan besar akan sia-sia. Seperti yang sudah dikatakan di atas, komentar body shaming justru memperbesar risiko binge eating dan obesitas. Jadi, niat baik anda malah lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

Cari topik yang lebih seru

Saat berkumpul dengan teman, keluarga, atau pasangan, banyak topik seru yang bisa anda bahas selain bentuk tubuh. Bila tujuan anda melakukan body shaming adalah membuat lawan bicara tertawa, sebaiknya pikir dua kali. Carilah bahan obrolan atau candaan lainnya yang bisa dinikmati semua orang, tanpa menyakiti siapa pun. Tidak semua orang sadar bahwa apa yang ia ucapkan bisa menyinggung perasaan orang lain. Bila apa yang ingin anda katakan bisa menimbulkan dampak negatif bagi pendengarnya, sebaiknya tahanlah ucapan anda dan diam saja. Body shaming bukan perbuatan yang baik dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Namun, mengubah kebiasaan juga bukanlah hal yang mudah. Jika anda merasa kesulitan dalam mengubah kebiasaan body shaming, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan saran yang tepat. (bin/hel)