Beranda

Siap Putihkan Malang: Akses 3 Kanal Resmi & Zonasi 1 Abad NU

Siap Putihkan Malang: Akses 3 Kanal Resmi & Zonasi 1 Abad NU
Kanal resmi Pemkot Malang dalam memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan jamaah di acara Satu Abad NU (jtn/io)

Pemkot Malang rilis 3 kanal resmi 1 Abad NU di Gajayana. Simak panduan zonasi, parkir, dan arus lalin demi kenyamanan 105 ribu jemaah.

INDONESIAONLINE – Kota Malang bersiap menyambut salah satu perhelatan spiritual terbesar dalam satu dekade terakhir. Stadion Gajayana, saksi bisu sejarah panjang kota pendidikan ini, bakal kembali mengukir momen monumental pada 7-8 Februari 2026. Gelaran Mujahadah Kubro dalam rangka Puncak Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi akan mengubah wajah kota menjadi lautan putih para santri dan kiai.

Diperkirakan, sebanyak 105 ribu jemaah dari berbagai penjuru Jawa Timur dan nusantara akan memadati jantung Kota Malang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan tantangan logistik dan manajemen massa yang nyata. Dengan kapasitas Stadion Gajayana yang hanya mampu menampung sekitar 35 ribu orang, potensi kepadatan berlebih (overcrowding) hingga simpang siur informasi menjadi isu krusial yang harus dimitigasi sejak dini.

Menyadari besarnya gelombang antusiasme warga Nahdliyin, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak tinggal diam. Era digital dimanfaatkan sebagai tameng untuk menangkal hoaks dan kesemrawutan. Melalui akun resmi pemerintah, imbauan keras telah dikeluarkan: masyarakat diminta hanya merujuk pada kanal informasi resmi untuk segala kebutuhan teknis acara.

Manajemen Massa Berbasis Digital

Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis melalui Instagram, Pemkot Malang menekankan pentingnya akurasi data bagi para jemaah.

“Pastikan selalu mengakses informasi resmi, akurat, dan terpercaya melalui kanal Pemerintah Kota Malang, yaa. Dan tidak lupa bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan kekhidmatan acara,” demikian bunyi seruan tersebut.

Langkah ini diambil mengingat kerentanan informasi di media sosial yang seringkali tidak terverifikasi. Untuk itu, Pemkot Malang bersama Polresta Malang Kota dan panitia penyelenggara telah menyiapkan ekosistem informasi terpadu yang terbagi dalam tiga kanal utama.

Ini bukan sekadar tautan, melainkan “peta buta” yang akan menuntun ratusan ribu jemaah agar tidak tersesat di tengah hiruk-pikuk kota.

Pertama, Malang Mbois (https://malangmbois.malangkota.go.id/). Platform ini berfungsi sebagai gerbang utama layanan publik. Bagi jemaah luar kota yang awam dengan seluk-beluk Malang, situs ini menjadi referensi valid terkait dinamika kota selama acara berlangsung.

Kedua, Laman S.ID Polresta Malang Kota (https://s.id/Makota2026?s=qr). Ini adalah kanal vital bagi keselamatan dan keamanan. Di dalamnya memuat data teknis yang sangat rinci, mulai dari rundown acara, lokasi drop zone untuk bus rombongan, hingga titik parkir yang telah dipetakan berdasarkan zona (Barat, Timur, Selatan).

Lebih dari itu, laman ini juga menyediakan informasi darurat yang krusial: lokasi pos polisi terdekat, rumah sakit rujukan, hingga masjid-masjid penyangga di sekitar stadion. Fitur rekayasa lalu lintas di laman ini menjadi panduan wajib bagi sopir rombongan agar tidak terjebak kemacetan parah yang diprediksi bakal terjadi di simpul-simpul jalan protokol.

Ketiga, Linktree Harlah 1 Abad NU (https://linktr.ee/Harlah1AbadNU). Dikelola oleh Dinas Perhubungan (Dishub) dan panitia, laman ini fokus pada arus pergerakan manusia (flow of people). Di sini, jemaah bisa melihat visualisasi pengalihan arus lalu lintas, alur masuk jemaah ke stadion, pembagian fase waktu kedatangan, hingga nomor Call Center Penanggung Jawab (PIC) yang bisa dihubungi sewaktu-waktu.

Strategi “Golden Ticket”

Salah satu kebijakan paling strategis yang diterapkan panitia adalah sistem undangan resmi. Mengingat prediksi jemaah (105 ribu) melampaui kapasitas stadion (35 ribu) hingga tiga kali lipat, panitia memberlakukan aturan ketat: Masuk Stadion Wajib Bawa Undangan.

Sistem ini bukan untuk membatasi euforia, melainkan demi keselamatan nyawa. Tragedi kerumunan di berbagai belahan dunia menjadi pelajaran berharga. Oleh karena itu, undangan didistribusikan secara terstruktur melalui Pengurus Cabang (PC) NU di tingkat kabupaten/kota, yang kemudian diteruskan kepada PIC rombongan.

Uniknya, undangan fisik ini baru akan diserahkan saat rombongan tiba di drop zone. Mekanisme ini dirancang untuk mencegah pemalsuan atau penjualan undangan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini memastikan bahwa mereka yang masuk ke stadion adalah jemaah yang terdata dan terkoordinir dalam rombongan resmi.

Selain pembatasan akses, aspek kenyamanan dan syariat juga menjadi perhatian utama. Panitia telah merancang skema pemisahan (segregasi) tempat duduk berdasarkan jenis kelamin. Jemaah laki-laki akan ditempatkan di tribun stadion yang bertingkat, sementara jemaah perempuan (Muslimat/Fatayat/IPPNU) akan menempati lapangan utama (rumput) dengan konsep lesehan.

Pengaturan ini bertujuan untuk menjaga kekhusyukan selama prosesi Mujahadah Kubro berlangsung. Lantunan zikir dan doa bersama menuntut suasana yang kondusif, dan pemisahan ini meminimalisir interaksi yang tidak perlu antar lawan jenis di tengah padatnya massa, sekaligus memudahkan akses ke fasilitas sanitasi yang juga telah dipisahkan.

Panggung untuk “Jemaah Luar Pagar”

Lantas, bagaimana nasib puluhan ribu jemaah yang tidak memegang undangan masuk? Pemkot Malang dan panitia menjamin mereka tidak akan kehilangan momen sakral tersebut. Area di sekitar Stadion Gajayana, khususnya Jalan Semeru dan Jalan Kawi, akan disulap menjadi “stadion kedua”.

Deretan videotron raksasa dan sound system berkualitas tinggi akan dipasang di titik-titik strategis tersebut. Jemaah yang berada di luar pagar tetap bisa mengikuti setiap detak acara secara real-time, melantunkan selawat bersamaan dengan mereka yang ada di dalam. Jalanan aspal akan berubah menjadi sajadah panjang, menyatukan hati dalam satu frekuensi spiritual.

Konsep “nobar” (nonton bareng) ibadah ini diharapkan dapat memecah konsentrasi massa sehingga tidak menumpuk di satu titik pintu masuk yang berpotensi ricuh.

Menjelang hari H, eskalasi informasi di media sosial dipastikan meningkat. Pemkot Malang kembali mewanti-wanti agar jemaah tidak mudah termakan isu pengalihan arus atau perubahan jadwal yang tidak bersumber dari tiga kanal resmi di atas.

Kesiapan infrastruktur digital yang dipadukan dengan manajemen lapangan yang ketat ini menjadi pertaruhan reputasi Kota Malang sebagai tuan rumah yang ramah dan profesional. Jika skenario ini berjalan mulus, Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Stadion Gajayana tidak hanya akan dikenang sebagai peristiwa keagamaan semata, tetapi juga masterclass dalam manajemen kerumunan massal di Indonesia.

Bagi Anda yang berencana hadir, simpan tautan-tautan resmi tersebut. Jadikan gawai Anda sebagai kompas, dan mari putihkan Malang dengan tertib, aman, dan penuh khidmat. Selamat menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama (bn/dnv)..

Exit mobile version