Beranda

Siasat Emas Andrea Novita: Mengubah Hama Sapu-Sapu Jadi Pupuk Organik

Siasat Emas Andrea Novita: Mengubah Hama Sapu-Sapu Jadi Pupuk Organik
Ikan Sapu-sapu yang dianggap hama perairan di tangan Andrea Novita jadi pupuk organik cair kaya nutrisi (alodokter)

Andrea Novita ubah ikan sapu-sapu invasif jadi pupuk organik cair kaya nutrisi. Solusi cerdas atasi hama perairan bagi pertanian berkelanjutan.

INDONESIAONLINE – Di balik tenangnya permukaan sungai-sungai besar di Indonesia, tersimpan ancaman yang sunyi namun destruktif. Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis), spesies asing asal Amerika Selatan, kini telah mendominasi ekosistem air tawar domestik dari Jakarta hingga Surabaya. Namun, di tangan Andrea Novita, seorang komunikator sains yang gigih, citra ikan ini sebagai “hama tak berguna” mulai bergeser menjadi komoditas bernilai tinggi melalui inovasi Pupuk Organik Cair (POC).

Ikan sapu-sapu bukan sekadar penghuni dasar sungai. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Peraturan Menteri KP No. 19 Tahun 2020 telah mengategorikan spesies ini sebagai salah satu jenis ikan yang merugikan. Kemampuannya bertahan hidup di air dengan kadar polusi tinggi dan ketiadaan predator alami di Indonesia membuat populasinya meledak tak terkendali.

“Ikan sapu-sapu selama ini sering dianggap tidak berguna dan akhirnya hanya dikubur atau dibuang begitu saja. Padahal setelah diuji di laboratorium, kandungan proteinnya ternyata cukup tinggi dan bisa dimanfaatkan,” ungkap Andrea Novita dalam sebuah sesi pemaparan eksperimennya.

Data menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki daya adaptasi luar biasa karena sistem pernapasan tambahannya yang memungkinkan mereka hidup di lingkungan rendah oksigen. Keberadaannya seringkali merusak jaring nelayan dan menggeser populasi ikan lokal seperti nilem atau mujair. Di sinilah Andrea melihat peluang: jika populasi ini tidak bisa dihentikan, maka ia harus dimanfaatkan.

Andrea Novita (fb)

Sains di Balik Transformasi: Proses Hidrolisis Protein

Langkah Andrea bukan sekadar menimbun ikan menjadi kompos tradisional yang berbau menyengat. Ia menggunakan pendekatan teknologi pangan di laboratorium untuk memastikan nutrisi yang dihasilkan benar-benar presisi.

Proses dimulai dengan menghancurkan seluruh bagian tubuh ikan—daging, tulang, hingga kulitnya yang keras dan bersisik—menjadi adonan halus. Komposisi tubuh ikan sapu-sapu yang kaya akan kitin pada kulitnya dan kalsium pada tulangnya sebenarnya merupakan gudang mikronutrien jika diolah dengan benar.

Setelah menjadi adonan, Andrea mengatur tingkat keasaman (pH) hingga mencapai titik optimal 6,5. “Kunci utamanya ada pada penggunaan enzim bromelin,” jelas Andrea.

Enzim bromelin, yang secara alami terdapat dalam buah nanas, berfungsi sebagai katalisator dalam proses hidrolisis proteolitik.

Secara teknis, bromelin memutus ikatan peptida dalam protein ikan yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana, yakni asam amino dan peptida rantai pendek. Bentuk sederhana inilah yang jauh lebih mudah diserap oleh stomata dan akar tanaman dibandingkan protein utuh.

Proses hidrolisis ini dilakukan selama empat jam, sebuah efisiensi waktu yang luar biasa dibandingkan metode pengomposan konvensional yang memakan waktu berbulan-bulan.

Ekstraksi dan Fermentasi: Menghasilkan “Emas Cair”

Setelah fase hidrolisis selesai, larutan disaring menggunakan teknik sentrifugasi untuk memisahkan ampas padat dari filtrat cair. Hasilnya adalah hidrolisat protein ikan (HPI) yang jernih. Namun, proses tidak berhenti di sana.

Untuk meningkatkan kualitas biologis pupuk, Andrea menambahkan dua komponen krusial: gula molase dan EM4 (Effective Microorganisms 4). Gula molase berperan sebagai sumber energi bagi mikroba, sementara EM4 yang mengandung bakteri Lactobacillus dan ragi (Saccharomyces) memulai proses fermentasi anaerob.

Selama satu pekan masa inkubasi, mikroorganisme bekerja mengubah larutan menjadi pupuk organik cair yang stabil. “Kalau fermentasinya berhasil, biasanya pH turun jadi sekitar 3 sampai 4, aromanya asam segar seperti kombucha, dan muncul gelembung karbon dioksida. Itu tanda mikroorganisme bekerja dengan baik,” tambah Andrea.

Mengapa pupuk berbasis ikan sapu-sapu ini begitu potensial? Secara teoritis, pupuk organik dari ikan (sering disebut fish emulsion) mengandung unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) yang seimbang, serta diperkaya dengan asam amino esensial.

Data dari berbagai riset mengenai pupuk ikan menunjukkan bahwa kandungan Nitrogen organik dalam ikan sangat efektif untuk merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman seperti kangkung, bayam, dan cabai. Selain itu, kalsium dari tulang ikan sapu-sapu membantu memperkuat struktur sel tanaman, membuatnya lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Andrea saat ini tengah melakukan uji coba efektivitas pada tanaman hortikultura. Hasil awal menunjukkan bahwa tanaman yang diberi POC ikan sapu-sapu memiliki warna daun yang lebih hijau pekat dan sistem perakaran yang lebih kuat dibandingkan tanaman dengan pupuk kimia tunggal.

Dimensi Ekonomi dan Lingkungan (Circular Economy)

Inovasi Andrea Novita membawa angin segar bagi konsep circular economy di Indonesia. Dengan memanfaatkan ikan sapu-sapu, kita secara tidak langsung melakukan kontrol populasi spesies invasif tanpa merusak ekosistem dengan zat kimia.

Dari sisi ekonomi, pengolahan ini memberikan nilai tambah yang signifikan. Jika selama ini ikan sapu-sapu tidak laku dijual, kini para nelayan di pinggiran Sungai Ciliwung atau Sungai Brantas bisa mengumpulkan ikan ini sebagai bahan baku industri pupuk skala UMKM. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya kian melambung dan berdampak buruk pada kesuburan tanah jangka panjang.

“Kalau bisa dimanfaatkan seperti ini, kita bukan hanya mengurangi masalah lingkungan, tapi juga menciptakan produk yang berguna untuk pertanian. Jadi ada nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah,” pungkas Andrea dengan optimis.

Meski sangat menjanjikan, perjalanan menjadikan POC ikan sapu-sapu sebagai produk massal masih memiliki tantangan. Standardisasi kandungan N-P-K, pengemasan agar produk tetap stabil (tidak meledak karena gas fermentasi), dan edukasi kepada petani tradisional adalah langkah besar berikutnya.

Namun, langkah yang dilakukan Andrea Novita telah membuktikan satu hal penting: sains mampu mengubah persepsi. Sesuatu yang dianggap buruk bagi lingkungan, melalui sentuhan teknologi dan pemahaman biokimia yang tepat, dapat berubah menjadi berkah bagi ketahanan pangan nasional.

Ikan sapu-sapu kini tak lagi sekadar “sampah” perairan. Di bawah mikroskop dan dalam tabung reaksi Andrea, mereka adalah sumber nutrisi yang siap menghijaukan ladang-ladang di nusantara. Ini adalah bukti nyata bahwa solusi lingkungan seringkali berada tepat di depan mata kita, hanya menunggu tangan yang tepat untuk mengolahnya.

Exit mobile version