Pemkot Malang luncurkan angkot gratis pelajar via koperasi. Solusi cerdas tekan biaya pendidikan dan revitalisasi transportasi umum yang kian redup.
INDONESIAONLINE – Kota Malang yang selama dekade terakhir dikenal dengan kemacetan khas jam sekolah, kini tengah bersiap menyambut transformasi transportasi publik yang signifikan. “Mikrolet” atau angkutan kota (angkot) berwarna biru ikonik yang keberadaannya kian tergerus oleh hegemoni ojek online dan kendaraan pribadi, diproyeksikan akan kembali menjadi primadona. Melalui inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, program angkot gratis bagi pelajar kini memasuki babak finalisasi.
Langkah ini bukan sekadar kebijakan populis untuk meringankan beban orang tua siswa, melainkan sebuah strategi multidimensi untuk menghidupkan kembali ekosistem transportasi umum yang hampir mati suri, sekaligus memitigasi kepadatan lalu lintas di titik-titik rawan pendidikan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menegaskan bahwa secara teknis, konsep dan mekanisme operasional telah mencapai titik temu. Tantangan administratif saat ini hanya tinggal menunggu turunnya Peraturan Wali Kota (Perwal) yang sedang diproses di tingkat pemerintah provinsi.
“Yang jelas kami sudah sepakat. Ya mudah-mudahan di bulan Mei ini sudah terlaksana. Pelaksanaan masih menunggu turunnya peraturan wali kota dari pemerintah provinsi sebagai dasar pelaksanaan kebijakan ini,” ujar Widjaja dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Target pelaksanaan pada Mei 2026 ini dinilai krusial. Pasalnya, periode tersebut berdekatan dengan tahun ajaran baru, di mana kebutuhan mobilitas siswa mencapai puncaknya. Kehadiran landasan hukum berupa Perwal menjadi sangat vital guna menjamin akuntabilitas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam menyubsidi layanan ini.
Skema Operasional: Koperasi sebagai Pilar Utama
Berbeda dengan pola kerja sama masa lalu yang cenderung sporadis, Dishub Kota Malang mengadopsi pendekatan institusional. Kerja sama tidak dilakukan secara individual dengan pengemudi angkot, melainkan melalui koperasi angkot yang berbadan hukum.
Widjaja menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memudahkan pengawasan, standardisasi layanan, dan transparansi keuangan. “Nanti melalui koperasi. Masuk melalui koperasi, bukan langsung kami dengan sopir-sopir angkot. Terlebih, koperasi angkot di Kota Malang sebenarnya sudah terbentuk sejak lama,” jelasnya.
Pada tahap awal, sebanyak 70 hingga 80 armada disiapkan untuk mengaspal secara khusus melayani pelajar. Armada-armada ini akan beroperasi pada dua periode waktu krusial: jam keberangkatan sekolah (pagi hari) dan jam kepulangan (siang hingga sore hari). Meski jumlah armada awal terkesan moderat, Widjaja memastikan adanya ruang evaluasi untuk penambahan armada sesuai dengan dinamika kebutuhan di lapangan.
Urgensi program ini didorong oleh data statistik yang menunjukkan pergeseran perilaku mobilitas remaja di Kota Malang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pendidikan, jumlah siswa di Kota Malang terus bertumbuh, namun akses terhadap transportasi umum yang terjangkau kian menyempit.
- Ekonomi Keluarga: Biaya transportasi harian menggunakan ojek online atau kendaraan pribadi menyedot sekitar 15-20% dari pengeluaran harian siswa. Subsidi angkot gratis diprediksi mampu mengalokasikan penghematan tersebut untuk kebutuhan nutrisi atau literasi siswa.
- Keselamatan Lalu Lintas: Fenomena pelajar di bawah umur yang mengendarai sepeda motor (tanpa SIM) di Malang masih sangat tinggi. Data Satlantas Polresta Malang Kota sering mencatat pelanggaran dan kecelakaan yang melibatkan usia sekolah. Angkot gratis menjadi alternatif aman yang legal secara hukum.
- Krisis Angkot Malang: Saat ini, dari sekitar 25 jalur angkot yang ada di Malang (seperti jalur AG, LDG, GA, AL), banyak yang hanya beroperasi dengan sisa 30-40% armada aktif karena minimnya penumpang. Program ini memberikan kepastian penghasilan bagi sopir melalui skema subsidi pemerintah.
Menghidupkan Kembali ‘Marwah’ Transportasi Publik
Secara sosiologis, program angkot gratis pelajar bertujuan untuk menanamkan kembali budaya bertransportasi umum sejak dini. Di tengah gempuran tren kendaraan pribadi, generasi muda perlu diperkenalkan kembali pada sistem transportasi massal yang efisien.
Revitalisasi angkot melalui skema ini juga menjadi upaya Pemkot Malang untuk menata kembali tata ruang transportasi. Dengan adanya rute-rute tetap yang dilalui pelajar, diharapkan terjadi penurunan volume kendaraan pribadi di area-area sekolah seperti kawasan Jl. Veteran, Jl. Bandung, dan Jl. Tugu yang selama ini menjadi titik nadi kemacetan di pagi hari.
Namun, pengamat transportasi menilai tantangan terbesar tetap pada konsistensi dan ketepatan waktu. Siswa memiliki jadwal yang ketat; jika armada yang disediakan tidak mampu menjamin ketepatan waktu tiba di sekolah, dikhawatirkan minat siswa untuk beralih ke angkot akan rendah.
Program ini juga dipandang sebagai bagian dari visi Malang Smart City. Dengan pengelolaan melalui koperasi, terdapat potensi integrasi teknologi di masa depan, seperti pelacakan posisi armada melalui aplikasi (fleet management system) sehingga orang tua dapat memantau keberadaan anak-anak mereka saat berada di dalam angkot.
Widjaja Saleh Putra optimis bahwa dengan dukungan regulasi yang kuat dan kerja sama koperasi yang solid, program ini akan menjadi pilot project bagi layanan publik lainnya di Kota Malang.
“Ke depan, tidak menutup kemungkinan jumlah armada akan ditambah menyesuaikan kebutuhan dan evaluasi di lapangan,” pungkasnya.
Inisiatif angkot gratis bagi pelajar di Kota Malang bukan sekadar tentang membebaskan ongkos, melainkan tentang penyelamatan ekosistem transportasi lokal. Dengan melibatkan 80 armada awal dan sistem koperasi, kebijakan ini diharapkan mampu memecah kebuntuan ekonomi para sopir angkot sekaligus memberikan jaminan mobilitas yang aman dan murah bagi masa depan bangsa.
Publik kini menanti realisasi di bulan Mei, apakah “Mikrolet Biru” sanggup kembali menjadi pahlawan di jalanan kota, atau sekadar menjadi solusi sementara di tengah laju zaman (hs/dnv).
