Angin kencang hingga 48 km/jam terjang Jawa Timur dampak Siklon Luana. Simak data lengkap BMKG, analisis risiko, dan peringatan dini cuaca Januari 2026 di sini.
INDONESIAONLINE – Atmosfer di atas Pulau Jawa bagian timur sedang tidak baik-baik saja. Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur merasakan hembusan angin yang jauh lebih kuat dari biasanya. Bukan sekadar semilir angin monsun biasa, fenomena ini membawa energi kinetik yang cukup besar hingga mampu menggoyangkan dahan pohon besar dan menimbulkan suara bergemuruh di atap-atap rumah.
Berdasarkan analisis mendalam terhadap data meteorologi terbaru, fenomena ini bukanlah kejadian acak. Ini adalah “tarian jauh” dari sistem tekanan rendah yang dinamakan Siklon Tropis Luana. Meski pusat badai tidak berada tepat di atas tanah Jawa, ekor dan dampak tidak langsungnya telah mengubah pola cuaca regional secara drastis, menciptakan lorong angin (wind tunnel) berkecepatan tinggi yang menyapu wilayah dari Tuban hingga Banyuwangi.
Madura dan Pantura Paling Terdampak
Data telemetri yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Iklim Jawa Timur untuk periode 22 hingga 23 Januari 2026 melukiskan gambaran yang serius. Alat-alat pengukur cuaca otomatis (AWS) di berbagai titik strategis mencatat angka-angka yang patut diwaspadai.
Wilayah pesisir utara dan Pulau Madura menjadi titik paling krusial. Sumenep, yang terletak di ujung timur Madura, mencatatkan rekor tertinggi dalam periode ini. AWS Digi Stamet Kalianget merekam kecepatan angin menembus 48,7 km/jam pada 22 Januari 2026 pukul 13.50 WIB.
Hanya berselisih tipis, wilayah Tuban di pantai utara Jawa mencatat kecepatan 48,2 km/jam melalui AAWS Tuban pada pukul 14.00 WIB di hari yang sama. Jika merujuk pada Skala Beaufort—standar internasional untuk mengukur kekuatan angin—angka di kisaran 40-50 km/jam masuk dalam kategori Strong Breeze (Angin Kuat).
Pada level ini, dampaknya nyata: payung akan sulit digunakan, ranting pohon besar bergerak, dan kabel listrik bisa berbunyi mendesing.
Tak hanya dua wilayah tersebut, Situbondo juga mengalami malam yang berangin kencang dengan catatan 44,3 km/jam pada dini hari tanggal 23 Januari 2026. Sementara itu, Sampang mencatat 43,2 km/jam, dan Stasiun Klimatologi Jawa Timur merekam 41,0 km/jam.
Yang menarik, fenomena ini tidak hanya menyasar pesisir. Wilayah hinterland dan dataran yang lebih tinggi seperti Pasuruan (Pandaan) turut terdampak dengan kecepatan 38,1 km/jam. Bahkan, Kota Batu yang dikelilingi pegunungan mencatat 37,8 km/jam. Ini menunjukkan bahwa gradien tekanan udara yang terbentuk akibat Siklon Luana cukup kuat untuk menembus barier orografis (pegunungan).
Genesis Siklon Tropis Luana: Sang Dalang di Samudra Hindia
Untuk memahami mengapa genting rumah di Nganjuk bisa bergetar atau pohon di Surabaya bergoyang hebat, kita harus melihat ke selatan. BMKG mengonfirmasi bahwa pemicu utama anomali cuaca ini adalah Siklon Tropis Luana. Sistem ini tidak muncul tiba-tiba. Ia berevolusi dari Bibit Siklon Tropis 91S yang telah dipantau ketat oleh Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta.
Pada Sabtu, 24 Januari 2026, BMKG merilis pernyataan resmi bahwa bibit tersebut telah tumbuh menjadi siklon tropis penuh pada pukul 01.00 WIB. Lokasinya berada di Samudra Hindia, sebelah selatan Nusa Tenggara Timur.
Secara fisika atmosfer, siklon tropis adalah area bertekanan sangat rendah. Sifat alamiah udara adalah bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Keberadaan Luana di selatan Indonesia bertindak seperti “penyedot debu” raksasa yang menarik massa udara dari wilayah sekitarnya, termasuk dari wilayah Jawa Timur.
Perbedaan tekanan yang tajam antara wilayah Jawa (tekanan lebih tinggi) dan pusat badai Luana (tekanan rendah) inilah yang menciptakan percepatan aliran udara yang kita rasakan sebagai angin kencang.
BMKG memprediksi bahwa dalam 24 jam ke depan pasca pembentukannya, intensitas Luana akan menurun menjadi kategori Low dan bergerak menjauh ke arah tenggara. Namun, prinsip inersia atmosfer berarti bahwa meskipun badainya melemah, dampaknya tidak akan hilang seketika. Ekor badai masih akan mempengaruhi cuaca hingga Minggu, 25 Januari 2026.
Sebaran Dampak: Dari Nganjuk hingga Nusa Tenggara
Jangkauan dampak Luana ternyata sangat luas. Selain enam wilayah dengan kecepatan angin tertinggi di atas, data AWS BMKG menunjukkan angin kencang merata di hampir seluruh Jawa Timur.
Di wilayah barat Jawa Timur, AWS SMPK Nganjuk mencatat 36,4 km/jam, dan AWS Paron Ngawi mencatat 35,6 km/jam. Wilayah selatan seperti Kanigoro Blitar (34,2 km/jam) dan Tanggul Jember (30,2 km/jam) juga tidak luput. Bahkan di kota metropolitan Surabaya, kawasan Perak mencatat kecepatan angin 31,5 km/jam, yang cukup mengganggu aktivitas pelabuhan.
BMKG telah memetakan zona waspada yang meliputi:
- Jawa Tengah bagian timur.
- Seluruh wilayah Jawa Timur.
- Bali.
- Nusa Tenggara Barat (NTB).
- Nusa Tenggara Timur (NTT).
Khusus untuk wilayah NTT, kedekatan geografis dengan pusat siklon membawa ancaman ganda: angin kencang disertai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hal ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Dampak paling berbahaya dari angin kencang yang persisten adalah pembangkitan gelombang laut (sea state). Energi angin yang mentransfer ke permukaan laut menciptakan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran.
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter (kategori Sedang) di Laut Jawa bagian timur dan perairan selatan Jawa Timur. Ketinggian ini sudah cukup untuk membuat kapal nelayan kecil dan tongkang kesulitan bermanuver.
Lebih berbahaya lagi adalah kondisi di Samudra Hindia selatan Jawa, perairan selatan Bali hingga NTT, dan Laut Sawu. Di area terbuka ini, gelombang diprediksi mencapai 2,5 hingga 4,0 meter (kategori Tinggi). Gelombang setinggi 4 meter setara dengan bangunan satu lantai, yang sangat berbahaya bagi kapal feri penyeberangan antar-pulau maupun kapal kargo berukuran sedang.
Masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran didesak untuk mematuhi protokol keselamatan maritim dan menunda aktivitas jika kondisi visual laut tampak membahayakan.
Mitigasi dan Rekomendasi Keselamatan
Menghadapi sisa dampak Siklon Tropis Luana hingga 25 Januari 2026, masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya perlu meningkatkan kewaspadaan. Angin dengan kecepatan di atas 45 km/jam memiliki daya rusak yang tidak boleh diremehkan.
Berikut adalah langkah mitigasi yang disarankan berdasarkan data dan karakteristik bencana angin kencang:
- Waspada Pohon dan Reklame: Pengendara motor dan pejalan kaki harus menghindari berteduh atau memarkir kendaraan di bawah pohon tua yang rimbun atau papan reklame berukuran besar. Struktur ini paling rentan tumbang saat diterpa angin kencang berdurasi lama.
- Periksa Struktur Bangunan: Bagi warga yang tinggal di rumah semi-permanen atau memiliki atap seng yang ringan, pastikan ikatan atap kuat. Angin kencang seringkali menciptakan efek uplift (gaya angkat) yang bisa menerbangkan atap.
- Update Informasi Berkala: Dinamika siklon tropis bisa berubah cepat. Masyarakat dihimbau untuk tidak termakan hoaks dan hanya merujuk pada kanal resmi BMKG (aplikasi InfoBMKG atau media sosial terverifikasi) untuk memantau pergerakan Siklon Luana.
Siklon Tropis Luana mungkin akan segera berlalu menjauhi Indonesia, namun jejak angin kencang yang ditinggalkannya menjadi pengingat nyata akan kerentanan wilayah kita terhadap dinamika atmosfer global. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalisir risiko di tengah cuaca yang tak menentu ini (bn/dnv).













