Sukun, buah asli Nusantara yang kini jadi superfood global. Dari catatan Dampier hingga solusi krisis pangan, simak perjalanan ‘buah roti’ ini.
INDONESIAONLINE – Di tengah bayang-bayang krisis pangan global yang menghantui penduduk bumi, dunia kembali menoleh ke timur. Bukan untuk mencari rempah-rempah seperti era kolonial, melainkan mencari solusi atas perut yang lapar.
Indonesia, sebagai negara tropis yang dianugerahi tanah vulkanik subur, selama ini dikenal dunia lewat eksotisme durian atau manisnya rambutan. Namun, di balik popularitas kedua buah tersebut, terdapat satu “harta karun” hijau yang tersimpan rapi dalam sejarah botani Nusantara: Sukun.
Buah dengan nama latin Artocarpus altilis ini bukan sekadar camilan sore teman minum teh. Bagi masyarakat Eropa berabad-abad lampau, sukun adalah sebuah mitos, sebuah fantasi tentang “roti yang tumbuh di pohon”.
Kini, fantasi itu telah terbukti secara ilmiah sebagai superfood yang digadang-gadang mampu menyelamatkan umat manusia dari ancaman kelaparan akibat perubahan iklim.

Jejak Purba di Candi Borobudur
Sebelum bangsa Eropa berlayar membelah samudra, sukun sejatinya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diet masyarakat Nusantara. Jauh sebelum gandum atau kentang mendominasi piring makan modern, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengakrabi buah ini.
Bukti otentik keberadaan sukun dapat kita telusuri pada relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Di dinding batu andesit yang megah itu, terpahat rapi bentuk buah sukun yang bulat dengan tekstur kulitnya yang khas.
Relief ini bukan sekadar hiasan, melainkan dokumentasi visual bahwa sukun adalah komoditas pangan vital bagi masyarakat Jawa Kuno.
Tanaman ini tumbuh subur di wilayah tropis sejauh 10.603 kilometer, membentang dari Kepulauan Nusantara hingga ke pulau-pulau kecil di Pasifik. Para pelaut ulung Nusantara dan Polinesia membawa bibit sukun dalam pelayaran migrasi mereka selama ribuan tahun, menjadikannya tanaman pokok di berbagai pulau yang mereka singgahi.
William Dampier dan Fantasi “Roti Pohon”
Interaksi pertama dunia Barat dengan buah ajaib ini tercatat pada abad ke-17. Adalah William Dampier, seorang penjelajah, bajak laut, sekaligus naturalis berkebangsaan Inggris, yang pertama kali memperkenalkan konsep sukun ke benua Eropa lewat tulisannya.
Pada tahun 1686, kapal Dampier berlabuh di Guam. Di sana, matanya tertuju pada sebuah buah unik yang tidak pernah ia temukan di pasar-pasar London maupun Paris. Buah itu besar, tumbuh di pohon yang rimbun, dan anehnya, tidak memiliki biji yang dominan saat dibelah.
Dalam bukunya yang legendaris, A New Voyage Round the World yang terbit pada 1697, Dampier menuliskan kesaksian yang menggugah imajinasi orang Eropa:
“Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit,” tulis Dampier.
Penamaan breadfruit atau “buah roti” bukanlah metafora kosong. Dampier mendeskripsikan pengalaman sensoriknya saat menyantap buah tersebut. Ketika kulitnya dikupas dan daging buahnya dipanggang di atas api, teksturnya menjadi lembut dan rasanya menyerupai roti panggang yang baru keluar dari oven.
Bagi masyarakat Eropa yang makanan pokoknya adalah gandum, kabar tentang “pohon yang menghasilkan roti” adalah sesuatu yang revolusioner. Dampier bahkan dengan berani mengklaim bahwa buah ini sangat lezat dan memiliki potensi besar untuk mengatasi kelaparan serta penyakit kudis (scurvy) yang menjadi momok bagi para pelaut jarak jauh.
Rumphius dan Kekaguman dari Ambon
Tak hanya Inggris, Belanda yang saat itu bercokol di Nusantara juga memiliki catatan tersendiri. Georg Eberhard Rumphius, seorang ahli botani Jerman yang bekerja untuk VOC dan menghabiskan hidupnya di Ambon, menuliskan kekagumannya dalam kitab Herbarium Amboinense (1741).
Rumphius, yang sering dijuluki sebagai “Plinius dari Hindia”, menyebut sukun sebagai buah ajaib. Ia melihat potensi sukun sebagai kudapan bernutrisi tinggi dan serbaguna. Dalam pengamatannya terhadap pola makan penduduk lokal Ambon, Rumphius menyimpulkan bahwa buah ini bisa menjadi penyelamat di kala musim paceklik atau kesulitan pangan melanda.
Namun, selama hampir satu abad, catatan Dampier dan Rumphius hanya menjadi bahan diskusi di kalangan intelektual dan bangsawan Eropa. Rasa penasaran mereka tertahan oleh jarak dan teknologi pengawetan bibit yang belum memadai. Sukun tetap menjadi mitos eksotis yang tak terjangkau lidah orang Eropa.
Misi Ambisius Joseph Banks dan Kapten Cook
Titik balik sejarah sukun terjadi pada akhir abad ke-18. Saat itu, Inggris tengah memperluas koloni di Karibia dan Amerika Tengah. Mereka membutuhkan sumber makanan murah namun berenergi tinggi untuk memberi makan ribuan budak yang bekerja di perkebunan tebu.
Sir Joseph Banks, seorang ahli botani terkemuka yang pernah berlayar bersama Kapten James Cook, teringat pada catatan tentang breadfruit. Dalam riset bertajuk “Grows Us Our Daily Bread: A Review of Breadfruit Cultivation in Traditional and Contemporary Systems” (2019), terungkap bahwa Banks sangat yakin akan khasiat sukun.
Pada tahun 1775, Banks melobi Raja Inggris, George III. Ia mengajukan proposal yang terdengar tidak masuk akal namun menjanjikan keuntungan ekonomi besar: memindahkan pohon sukun dari Pasifik Selatan ke Karibia.
Raja setuju. Misi ini bukan sekadar misi botani, melainkan misi geopolitik dan ekonomi. Bibit-bibit sukun kemudian dibawa melintasi samudra. Meski sempat mengalami kegagalan (salah satunya dalam insiden pemberontakan di kapal HMS Bounty yang terkenal), akhirnya bibit sukun berhasil mendarat dan dibudidayakan di Karibia, khususnya di Jamaika dan St. Vincent.
Dari sanalah, sukun menyebar ke koloni Inggris lainnya, merambah ke Afrika, dan akhirnya menjadi tanaman kosmopolitan yang tumbuh di lebih dari 90 negara tropis di dunia. Apa yang bermula sebagai “makanan budak”, perlahan bertransformasi menjadi komoditas global.
Validasi Sains: Dari Mitos ke Superfood
Ratusan tahun berlalu, sains modern akhirnya membenarkan apa yang dirasakan lidah Dampier dan diamati oleh Rumphius. Sukun bukan sekadar sumber karbohidrat biasa.
Data dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat dan berbagai jurnal nutrisi modern menempatkan sukun dalam kategori superfood. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa satu buah sukun mengandung kekayaan nutrisi yang kompleks. Ia kaya akan karbohidrat kompleks (indeks glikemik rendah dibandingkan beras putih), tinggi serat, serta rendah lemak dan gula.
Lebih mencengangkan lagi adalah kandungan mikronutrisinya. Sukun mengandung vitamin C dalam jumlah signifikan yang penting untuk imunitas, serta mineral potasium dan magnesium yang vital untuk kesehatan jantung dan otot. Bahkan, protein dalam sukun mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan sumber karbohidrat lain seperti singkong atau jagung.
Kandungan ini menjadikan sukun sangat relevan dengan tren kesehatan masa kini, di mana masyarakat dunia mencari alternatif pangan bebas gluten (gluten-free) yang menyehatkan.
Namun, alasan mengapa sukun kembali menjadi sorotan dunia saat ini bukan hanya soal nutrisi, melainkan soal daya tahan (resilience). Kita hidup di era krisis iklim, di mana pola cuaca tak menentu mengancam panen padi, gandum, dan jagung—tiga tanaman yang menopang 60% asupan energi penduduk bumi.
Para ilmuwan menyebut pohon sukun sebagai tanaman masa depan. Berbeda dengan padi yang butuh irigasi intensif atau gandum yang sensitif suhu, pohon sukun adalah “pejuang” tangguh.
Riset menunjukkan bahwa pohon sukun sangat adaptif. Ia bisa tumbuh di tanah berpasir, tanah berkapur, hingga tanah vulkanik. Perawatannya minim, tidak memerlukan pestisida berlebihan, dan yang terpenting: ia adalah tanaman perennial (tahunan). Satu pohon sukun bisa hidup selama puluhan tahun dan terus memproduksi buah.
Satu pohon sukun dewasa mampu menghasilkan 200 hingga 700 buah per musim. Bayangkan potensi ketahanan pangan yang bisa dihasilkan dari satu pohon saja. Di tengah ancaman kekeringan dan cuaca ekstrem, pohon sukun tetap berdiri kokoh dan berbuah, seolah menjadi benteng terakhir melawan kelaparan.
Bagi Indonesia, fakta-fakta ini seharusnya menjadi “tamparan” sekaligus peluang. Ironis jika dunia luar begitu memuja sukun sebagai superfood dan solusi krisis iklim, sementara di negeri asalnya, sukun masih sering dipandang sebelah mata—sekadar gorengan pinggir jalan yang kalah pamor dengan makanan impor.
Sejarah telah membuktikan perjalanan panjang buah ini. Dari relief Borobudur, catatan pelaut Inggris, hingga laboratorium nutrisi modern, sukun telah melintasi zaman dan samudra. Ia adalah bukti kearifan lokal Nusantara yang relevan untuk solusi global.
Kini, saat “kiamat” pangan membayangi akibat perubahan iklim, “Roti Nusantara” ini siap mengambil peran utamanya kembali. Bukan lagi sebagai imajinasi orang Eropa, melainkan sebagai penyelamat nyata bagi perut umat manusia. Sudah saatnya kita menanam, merawat, dan menempatkan sukun di tempat terhormat dalam piring makan kita.













