INDONESIAONLINE – Jangan anggap sepele hujan abu vulkanik akibat aktivitas erupsi gunung api bagi kesehatan anak-anak. Dokter spesialis anak Ardi Santoso mengingatkan, perlindungan paling utama bagi anak ketika terjadi hujan abu vulkanik bukan hanya menggunakan masker, melainkan menghindari paparan secara langsung.
Menurut Ardi, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah selama hujan abu berlangsung, terlebih jika tidak ada keperluan mendesak untuk keluar. Orang tua dianjurkan menutup pintu, jendela, serta ventilasi yang memungkinkan udara dari luar masuk ke dalam rumah.
“Masker bukan perlindungan utama, tetapi perlindungan tambahan. Perlindungan utama anak dari abu vulkanik adalah menghindari paparan. Jadi, kalau tidak perlu keluar rumah, sebaiknya anak tetap berada di dalam ruangan,” tegas Ardi.
Jika anak terpaksa harus keluar rumah, penggunaan masker tetap diperlukan. Ardi menyarankan masker yang ukurannya sesuai dengan wajah anak dan menutup hidung serta mulut secara rapat. Masker N95 dinilai memiliki kemampuan penyaringan yang lebih baik. Namun yang terpenting adalah masker terpasang pas dan tidak longgar.
“Tidak ada patokan usia tertentu untuk menggunakan N95. Yang penting, jika memang harus keluar, masker harus terpasang rapat menutup hidung dan mulut. Tetapi sekali lagi, masker bukan berarti anak menjadi sepenuhnya aman dari paparan abu,” jelasnya.
Selain saluran pernapasan, mata anak juga perlu mendapat perhatian. Orang tua dapat memberikan kacamata pelindung ketika kondisi mengharuskan anak berada di luar ruangan.
Apabila abu masuk ke mata, jangan menguceknya karena dapat memperparah iritasi. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air bersih.
“Kalau mata terkena abu, jangan diucek. Bilas dengan air bersih. Jika mata sangat merah, terasa nyeri atau sampai mengganggu penglihatan, segera periksakan ke dokter mata,” imbuh Ardi.
Perlindungan juga perlu dilakukan pada kulit dengan mengenakan pakaian lengan panjang, celana panjang dan alas kaki yang menutup. Jika tubuh terkena abu, bersihkan dan bilas menggunakan air bersih tanpa menggosok kulit terlalu keras. Bila iritasi tidak kunjung membaik atau luka semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan.
Tak hanya tubuh, keamanan air dan makanan juga harus diperhatikan. Ardi meminta masyarakat menutup sumur, bak maupun tempat penampungan air agar tidak kemasukan abu vulkanik. Air yang sudah tercemar abu sebaiknya tidak digunakan untuk minum maupun menyiapkan makanan sebelum dipastikan keamanannya.
Buah, sayuran dan makanan yang terkena abu juga harus dicuci menggunakan air bersih. Menurut Ardi, orang tua juga tidak seharusnya memaksakan anak tetap beraktivitas di luar, termasuk bersekolah, ketika hujan abu masih berlangsung hanya karena anak sudah menggunakan masker.
“Kalau hujan abu masih terus terjadi, jangan memaksakan anak untuk keluar atau sekolah hanya karena sudah memakai masker. Masker tidak menjamin semuanya aman. Perlindungan yang paling utama tetap menghindari paparan,” tutup Ardi. (ir/hel)
