Telur Emas Sidoarjo: Ketika Filantropi Mengurai Stunting dan Kemandirian Ekonomi Keluarga Rentan

Telur Emas Sidoarjo: Ketika Filantropi Mengurai Stunting dan Kemandirian Ekonomi Keluarga Rentan
Program Taman Gizi – Budidaya Ayam Petelur di Desa Ngaresrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jatim (jtn/io)

Program Taman Gizi – Budidaya Ayam Petelur oleh Taman Zakat di Sidoarjo menjadi solusi inovatif untuk atasi tantangan gizi dan ekonomi keluarga. Simak bagaimana inisiatif ini memberdayakan janda dan pekerja informal, mengubah telur menjadi sumber protein dan pendapatan berkelanjutan.

INDONESIAONLINE – Di tengah hiruk pikuk upaya penurunan angka stunting nasional dan dorongan kemandirian ekonomi pasca-pandemi, sebuah inisiatif sederhana namun revolusioner hadir dari jantung Sidoarjo.

Taman Zakat, lembaga filantropi yang dikenal dengan program-program inovatifnya, meluncurkan Program Taman Gizi – Budidaya Ayam Petelur di Desa Ngaresrejo, Kecamatan Sukodono. Bukan sekadar bantuan ad hoc, program ini dirancang sebagai lokomotif penggerak ketahanan pangan berbasis keluarga, sekaligus benteng kokoh menghadapi tantangan gizi dan ekonomi yang melingkupi masyarakat rentan.

General Manager Taman Zakat, Ziyad, tak menampik bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan mendalam. “Meskipun data Kementerian Kesehatan menunjukkan asupan protein per kapita Indonesia telah mencapai angka yang memenuhi standar WHO, namun kualitas protein hewani, terutama bagi keluarga prasejahtera, masih jauh dari optimal,” ungkapnya, merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kerap menyoroti disparitas gizi.

Data BPS Sidoarjo juga menunjukkan, angka keluarga rentan, terutama janda dan pekerja informal, masih cukup tinggi, menjadikan mereka kelompok yang paling merasakan dampak fluktuasi ekonomi dan sulitnya akses pangan bergizi.

“Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: keterbatasan ekonomi membatasi akses pangan bergizi, yang pada gilirannya memperburuk kualitas kesehatan dan produktivitas keluarga. Ayam petelur, dengan siklus produksi yang relatif cepat dan nutrisi yang padat, adalah solusi elegan untuk memutus rantai ini,” tegas Ziyad.

Lima Keluarga Perintis, Jutaan Harapan

Tahap awal program ini telah memilih lima keluarga perintis di Desa Ngaresrejo. Mereka bukan sekadar penerima bantuan, melainkan duta perubahan. Setiap keluarga mendapatkan paket lengkap: ayam petelur pilihan, kandang modern yang higienis, pasokan pakan berkualitas, hingga suplemen tambahan untuk memastikan kesehatan ternak.

“Ini bukan hanya tentang memberi ikan, tapi memberi kail, bahkan membangun kolamnya sekaligus,” ujar Sri Wahyuni, salah satu penerima manfaat yang berstatus janda dengan tiga anak.

“Dulu, telur itu kemewahan. Sekarang, setiap hari anak-anak bisa sarapan telur segar dari halaman sendiri. Lebihnya bisa saya jual, lumayan buat tambah belanja dapur atau beli buku sekolah anak,” ungkap Sri menggambarkan dampak ganda program ini: pemenuhan gizi harian dan pembukaan keran pendapatan baru.

Keberlanjutan adalah kunci. Ziyad menekankan bahwa Taman Zakat tak akan melepaskan begitu saja. “Program ini ditopang dengan pendampingan rutin oleh tim ahli peternakan kami, serta monitoring ketat terhadap kondisi ayam, produksi telur, hingga pengelolaan keuangannya,” jelas Ziyad.

“Kami ingin memastikan setiap keluarga tidak hanya bertahan, tapi bertumbuh. Harapannya, mereka bisa menjadi inspirasi bagi tetangga sekitar, bahwa kemandirian pangan itu bisa dimulai dari rumah sendiri,” tegasnya.

Seorang pakar gizi masyarakat dari Universitas Airlangga, Dr. Retno Wulan, yang menjadi konsultan dalam program ini, menambahkan, inisiatif seperti ini sangat krusial. Telur adalah sumber protein hewani lengkap yang terjangkau dan mudah diolah.

“Edukasi gizi yang menyertainya akan membantu keluarga memahami pentingnya protein untuk tumbuh kembang anak dan kesehatan secara umum, sekaligus sebagai upaya preventif stunting dari hulu,” paparnya.

Gerakan Kecil, Dampak Raksasa

Ziyad menutup perbincangan dengan optimisme membara. “Bayangkan bila satu keluarga bisa mandiri protein hewani, lalu ditiru oleh puluhan bahkan ratusan keluarga lain di Sidoarjo, bahkan Jawa Timur. Ini bukan hanya soal telur yang masuk ke perut atau uang di saku, tapi tentang membangun ketahanan pangan dari akar rumput,” tegasnya.

Ia memimpikan efek domino, di mana satu coop ayam petelur menjadi embrio perubahan yang lebih besar, mencetak keluarga-keluarga tangguh: sehat secara gizi, kuat secara ekonomi, dan mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Program Taman Gizi – Budidaya Ayam Petelur ini adalah bukti nyata bagaimana filantropi, dengan strategi yang tepat dan sentuhan inovasi, dapat menjadi agen perubahan yang transformatif. Dari remah-remah keprihatinan, kini tumbuh harapan akan telur-telur emas yang tak hanya menutrisi raga, tapi juga jiwa kemandirian (mbm/dnv).