Bioskop akhir pekan ini sajikan duel teror AI lewat Mercy dan mistik Jawa di Sengkolo. Simak ulasan mendalam dan rating 5 film top pilihan Januari 2026 di sini.
INDONESIAONLINE – Lanskap sinema pada awal tahun 2026 ini menawarkan fenomena menarik yang mencerminkan dua kutub kecemasan manusia modern: ketakutan akan hilangnya kendali atas teknologi masa depan dan ketakutan purba terhadap hal-hal mistis yang tak kasat mata.
Akhir pekan ini, layar bioskop di seluruh Indonesia menjadi arena pertarungan narasi antara kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendominasi kehidupan, melawan kekuatan supranatural yang berakar dari tradisi lokal.
Berdasarkan pantauan jadwal tayang dan rilis studio, setidaknya ada lima film utama yang mengisi slot layar lebar pekan ini. Genrenya bervariasi dari drama keluarga futuristik, thriller aksi, hingga horor mencekam. Namun, benang merah yang kuat terlihat pada eksplorasi sisi emosional manusia saat dihadapkan pada entitas yang lebih kuat dari dirinya, baik itu mesin maupun arwah.
Di tengah ingar-bingar prediksi nominasi Piala Oscar 2026 yang menempatkan film seperti Sinners dan sensasi baru KPop Demon Hunters sebagai kandidat kuat, penonton lokal disuguhi pilihan yang lebih “membumi” namun relevan.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai lima film yang siap menemani akhir pekan Anda, mulai dari etika digital hingga mitos Satu Suro.
Esok Tanpa Ibu: Ketika “Grief Tech” Mengisi Kehampaan

Film Indonesia pertama yang mencuri perhatian adalah Esok Tanpa Ibu. Karya ini bukan sekadar drama keluarga biasa, melainkan sebuah studi kasus mengenai fenomena Grief Tech—penggunaan teknologi untuk mereplikasi orang yang sudah meninggal.
Cerita berpusat pada Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang kehilangan pegangan hidup setelah ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo), mengalami kecelakaan tragis saat liburan keluarga. Hubungan Rama yang dingin dengan ayahnya, Hendri (Ringgo Agus Rahman), memperparah rasa sepi tersebut. Premis film ini menjadi tajam ketika Rama, dibantu temannya Zila (Aisha Nurra Datau), menggunakan teknologi AI bernama “i-Bu”.
Film ini dengan cerdas membedah sisi psikologis penggunaan AI untuk meniru suara dan kepribadian mendiang ibu. Di satu sisi, teknologi ini menjadi coping mechanism (mekanisme pertahanan diri) bagi Rama. Namun di sisi lain, film ini mengajukan pertanyaan etis: apakah etis membiarkan anak tenggelam dalam simulasi kasih sayang digital daripada menghadapi realitas duka?
Dengan rating R13 (Remaja 13+), film ini sangat direkomendasikan bagi keluarga modern untuk mendiskusikan batasan teknologi dalam ruang privat emosional manusia. Akting Dian Sastro dan chemistry-nya dengan Ali Fikry diprediksi akan menguras air mata penonton.
Mercy: Pengadilan Tanpa Hati Nurani

Jika Esok Tanpa Ibu memotret sisi melankolis AI, maka film Hollywood Mercy menghadirkan sisi gelap dan otoriternya. Mengambil latar Los Angeles masa depan, film ini dibintangi oleh Chris Pratt sebagai Chris Raven, seorang detektif LAPD.
Premis Mercy terasa seperti mimpi buruk birokrasi masa depan. Raven dituduh membunuh istrinya dan harus membuktikan ketidakbersalahannya di hadapan hakim yang bukan manusia, melainkan sistem AI bernama “Maddox”. Dengan tingkat efisiensi 92 persen, Maddox adalah representasi dari keadilan absolut tanpa empati.
Ketegangan film ini terbangun dari batasan waktu yang sempit—hanya 90 menit—sebelum eksekusi dilakukan. Raven harus melawan sistem “Mercy Program” yang ia layani selama ini. Isu yang diangkat sangat relevan dengan perdebatan hukum global saat ini mengenai bias algoritma dalam penegakan hukum.
Tanpa juri manusia dan tanpa kesempatan banding, Mercy menjadi thriller aksi yang juga berfungsi sebagai peringatan dini tentang bahaya menyerahkan keputusan hidup-mati kepada mesin. Rating R13 menunjukkan film ini masih aman untuk remaja, meski memuat tema yang berat.
Sengkolo Petaka Satu Suro: Teror Budaya yang Tak Pernah Mati

Beralih dari teknologi canggih, film Sengkolo Petaka Satu Suro menarik penonton kembali ke akar ketakutan tradisional masyarakat Jawa. Film ini memanfaatkan momentum mitos malam 1 Suro yang kerap dianggap keramat dan berbahaya bagi golongan tertentu, khususnya wanita hamil.
Disutradarai dengan atmosfer gelap yang kental, film ini menyoroti kehidupan Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan di desa pesisir terpencil. Konflik memuncak ketika serangkaian kejadian mistis mengincar wanita hamil jelang malam pergantian tahun Jawa tersebut.
Kekuatan film ini terletak pada setting lokasi yang terisolasi dan kerentanan karakter utamanya. Rahayu yang sedang hamil anak kedua harus berjuang melahirkan di tengah ancaman kekuatan jahat.
Ini adalah metafora klasik horor tentang perlindungan ibu terhadap anaknya. Dengan rating D17 (Dewasa 17+), penonton bisa mengharapkan visual yang lebih berani, gore, dan intensitas ketegangan yang tidak disarankan untuk anak-anak. Sengkolo menjadi bukti bahwa di era digital 2026 pun, mitos lokal tetap memiliki taring yang tajam di industri perfilman.
Sebelum Dijemput Nenek: Komedi di Tengah Kematian

Tidak semua horor harus membuat penonton pulang dengan rasa takut. Sebelum Dijemput Nenek hadir sebagai penyegar dengan genre horor-komedi. Film ini mengikuti Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) yang diteror oleh arwah nenek mereka sendiri.
Premisnya absurd namun menggelitik: sang nenek minta ditemani ke alam baka. Kehadiran tokoh dukun teledor bernama Ki Mangun (Nopek Novian) dan karakter pendukung seperti Kotrek (Oki Rengga) menjanjikan dinamika humor yang segar.
Film ini menonjolkan kekuatan dialog dan situasi komikal khas Indonesia. Angga Yunanda yang biasanya bermain di drama serius, kini harus beradu akting dengan komika-komika ternama. Rating R13 menjadikannya pilihan tontonan akhir pekan yang ringan namun tetap memacu adrenalin bagi kelompok remaja yang ingin hiburan “seram-seram sedap”.
Primate: Ketika Hewan Peliharaan Menjadi Monster

Terakhir, ada thriller horor berjudul Primate. Berbeda dengan horor supranatural, film ini mengeksplorasi ketakutan biologis dan alamiah. Berlatar di keindahan Hawaii yang kontras dengan pertumpahan darah yang terjadi, cerita berfokus pada Lucy (Johnny Sequoyah) dan keluarganya.
Teror datang dari Ben, simpanse peliharaan yang terinfeksi rabies. Transformasi Ben dari “saudara” menjadi predator mematikan mengingatkan kita pada kerentanan manusia di hadapan kekuatan alam liar. Dengan rating D17, film ini dipastikan memuat adegan kekerasan yang intens saat Lucy dan kawan-kawannya diburu satu per satu di dalam rumah mereka sendiri.
Primate menawarkan ketegangan claustrophobic (ruang sempit) dan kebrutalan insting hewan yang tidak bisa dinegosiasi.
Pekan ini, bioskop tidak didominasi oleh satu genre tunggal. Data menunjukkan adanya keseimbangan antara film impor dan lokal. Kehadiran Mercy dan Primate dari Hollywood memberikan standar kualitas aksi dan ketegangan visual. Namun, sineas Indonesia melalui Esok Tanpa Ibu, Sengkolo, dan Sebelum Dijemput Nenek menunjukkan taringnya dengan mengeksplorasi kedalaman emosi budaya dan relevansi sosial.
Bagi Anda pencinta teknologi dan isu futuristik, duet Esok Tanpa Ibu dan Mercy adalah menu wajib. Namun, bagi pencari adrenalin murni, Sengkolo dan Primate siap memberikan mimpi buruk. Pastikan Anda memeriksa rating usia sebelum membeli tiket, terutama untuk film berlabel D17 yang memuat konten dewasa eksplisit. Selamat menonton!












