Tidur Tanggal 4, Bangun 15 Oktober: Kisah Nyata Tahun Terpendek di Dunia

Tidur Tanggal 4, Bangun 15 Oktober: Kisah Nyata Tahun Terpendek di Dunia
Ilustrasi perputaran Bumi. (istock)

INDONESIAONLINE – Tahukah Anda bahwa durasi satu tahun tidak selalu berjumlah 365 atau 366 hari? Dalam catatan sejarah peradaban manusia, Bumi pernah melewati satu tahun yang hanya berlangsung selama 355 hari. Fenomena unik itu terjadi pada tahun 1582, yang hingga kini dinobatkan sebagai tahun tersingkat sepanjang masa.

​Berdasarkan data dari Swinburne University of Technology, pemangkasan 10 hari tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini dilakukan demi menyinkronkan Kalender Julian yang sudah lama digunakan dengan Kalender Gregorian yang lebih akurat secara astronomis.

​Otoritas pada masa itu memutuskan untuk menghapus tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 dari penanggalan. Akibatnya, masyarakat kala itu tidur di malam tanggal 4 Oktober dan terbangun keesokan harinya di tanggal 15 Oktober.

​Evolusi 12 Bulan: Dari 10 Menjadi Belasan

​Selain perubahan jumlah hari, struktur bulan dalam setahun juga mengalami transformasi besar. Dahulu, kalender Romawi hanya mengenal 10 bulan dalam satu siklus tahunan. Namun, pengamatan astronom menunjukkan bahwa ada lebih dari 12 siklus bulan dalam satu tahun matahari.

​Tokoh besar seperti Julius Caesar kemudian memprakarsai standardisasi 12 bulan dan memperkenalkan konsep tahun kabisat agar penanggalan tetap sejalan dengan perubahan musim.

​Dalam proses ini, dua bulan baru ditambahkan, yakni Januari dan Februari. Selain itu, bulan kelima dan keenam pada sistem lama diubah namanya menjadi Juli (untuk menghormati Julius Caesar) dan Agustus (untuk menghormati Kaisar Augustus). Kedua bulan ini diberi jatah 31 hari sebagai simbol kemuliaan kedua pemimpin besar tersebut.

​Mengapa Seminggu Terdiri dari Tujuh Hari?

​Jika tahun dan bulan didasarkan pada rotasi serta revolusi benda langit, penentuan tujuh hari dalam satu pekan lebih kental dengan unsur budaya dan kepercayaan kuno. Praktik ini diyakini berasal dari peradaban Babilonia di bawah perintah Raja Sargon I sekitar tahun 2300 SM.

​Angka tujuh dipilih karena bangsa Babilonia menganggapnya sebagai angka suci, yang mewakili tujuh benda langit utama yang terlihat oleh mata telanjang, yakni Matahari, bulan, serta ​lima planet yang terdeteksi saat itu (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus).

​Meskipun durasi satu minggu hanya mewakili sekitar 23% dari siklus bulan, sistem ini terbukti sangat kokoh dan bertahan selama ribuan tahun. Tradisi ini kemudian menyebar luas dan diadopsi oleh berbagai peradaban besar, mulai dari Timur Tengah, India, Tiongkok, hingga seluruh penjuru Eropa. (rds/hel)