Beranda

Tim Bestari Semesta Unisba Blitar Dorong Kemandirian Pakan Ternak Berbasis Potensi Lokal di Desa Tegalrejo

Peternak Desa Tegalrejo, Kabupaten Blitar, bergotong royong mencampur pakan dalam kegiatan pengenalan teknologi tepat guna program Circular Farming Living Lab yang dikembangkan Tim Bestari Semesta Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. (uisba blitar)

INDONESIAONLINE – Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar melalui Tim Bestari Semesta mengembangkan inovasi pakan ternak mandiri berbasis limbah pertanian di Desa Tegalrejo, Kabupaten Blitar. Program bertajuk Circular Farming Living Lab ini dirancang untuk membantu peternak menekan biaya produksi sekaligus membangun sistem peternakan berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

Program yang didukung hibah Semesta Bestari Saintek melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut mengawali kegiatannya pada 26 Agustus 2026. Tahap pertama meliputi sosialisasi, transfer teknologi, identifikasi bahan pakan lokal, serta pengenalan mesin pengolahan pakan tepat guna.

Melalui pendekatan living lab atau laboratorium hidup, peternak tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan langsung dalam  pengembangan inovasi. Model ini diharapkan mampu menjawab persoalan tingginya biaya pakan dan keterbatasan hijauan ketika musim berganti.

Manfaatkan Limbah Pertanian untuk Pakan Mandiri

Ketua Tim Bestari Semesta Unisba Blitar, Alfan Setya Winurdana, menjelaskan bahwa program tersebut menempatkan peternak sebagai mitra utama dalam pengembangan teknologi. Pendekatan partisipatif menjadi landasan agar inovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.

“Tahap awal ini adalah fondasi sosial dan teknis. Kami tidak ingin memaksakan teknologi dari atas. Dengan living lab, peternak dilibatkan sejak awal sebagai mitra belajar,” ujar Alfan.

Menurut dia, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi kunci pengembangan kemandirian pakan. Tim bersama peternak mengidentifikasi berbagai bahan yang tersedia di lingkungan desa, terutama hijauan dan jerami padi.

“Identifikasi bahan pakan lokal memastikan inovasi ini benar-benar bertumpu pada sumber daya desa, bukan bahan impor yang mahal,” katanya.

Konsep circular farming mengintegrasikan kegiatan pertanian dan peternakan dalam satu siklus produksi. Limbah pertanian diolah menjadi pakanaa. Sedangkan kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan kembali lahan hijauan.

Dalam sosialisasi, peternak juga memperoleh kalender bank pakan sebagai panduan merencanakan cadangan pakan menghadapi perubahan musim.

Teknologi Tepat Guna Perkuat Efisiensi Peternakan

Selain memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, Tim Bestari Semesta Unisba Blitar menghadirkan teknologi pengolahan pakan berupa mesin pencacah hijauan dan mesin pencampur pakan berbahan baja tahan karat (stainless steel).

Kehadiran peralatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Peternak bahkan bergotong royong menurunkan mesin pencampur pakan ketika peralatan tiba di lokasi kegiatan.

Alfan berharap pemanfaatan mesin secara berkelompok dapat meningkatkan efisiensi pengolahan bahan pakan. “Alat ini nantinya jadi penghubung antara bahan lokal dan produk pakan. Kami berharap penggunaan bersama dalam kelompok bisa menekan biaya dan waktu kerja dibandingkan pengolahan manual,” ujarnya.

Anggota Tim Bestari Semesta Unisba Blitar bidang peternakan, Resty Yuliana, menjelaskan bahwa teknologi tersebut penting untuk menghasilkan campuran ransum yang lebih merata, terutama dalam pembuatan total mixed ration (TMR).

“Mesin pencacah dan pencampur ini akan sangat membantu homogenitas ransum, terutama untuk TMR,” kata Resty.

Menurut dia, pengenalan peralatan menjadi tahap awal sebelum peternak mengikuti praktik produksi pakan secara langsung.

Bangun Ekonomi Sirkular dan Peternakan Berkelanjutan

Dari perspektif ekonomi, inovasi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan dari luar desa.

Anggota Tim Bestari Semesta Unisba Blitar bidang ekonomi, Aris Sunandes, menilai pemanfaatan limbah pertanian dapat menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang efisiensi usaha peternakan.

“Dari sisi ekonomi, circular farming punya potensi besar untuk menekan biaya produksi. Limbah yang selama ini dibuang bisa menjadi nilai tambah,” ujar Aris.

Meski demikian, manfaat ekonomi program masih memerlukan pengukuran lebih lanjut. Tim berencana melakukan evaluasi kuantitatif untuk mengetahui dampaknya terhadap biaya produksi dan usaha peternak.

“Ke depan, kami akan melakukan evaluasi kuantitatif untuk mengukur seberapa besar manfaat ekonomi bagi peternak,” katanya.

Sementara itu, Resty menyampaikan bahwa tahapan berikutnya mencakup praktik pembuatan silase, pengolahan jerami, konsentrat, TMR, pupuk organik cair (POC), serta pengembangan bank pakan.

“Tahap berikutnya adalah praktik pembuatan silase, pengolahan jerami, konsentrat, POC, dan bank pakan. Kami optimistis peternak siap karena mereka sudah memahami alurnya,” jelasnya.

Melalui program ini, Unisba Blitar berupaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat, penerapan ilmu pengetahuan, dan pembangunan ekonomi pedesaan berbasis potensi lokal.

Program Circular Farming Living Lab didanai melalui hibah Semesta Bestari Saintek LPDP. Tim pelaksana juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Tegalrejo, Indonesia Online, serta kelompok peternak yang telah berpartisipasi dan mendukung pelaksanaan kegiatan.

“Kami berharap program ini tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi mampu mendorong kemandirian peternak, meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal, dan menjadi model peternakan berkelanjutan yang dapat dikembangkan di desa-desa lain,” ujar Ketua Tim Bestari Semesta Unisba Blitar, Alfan Setya Winurdana. (anr/hel)

Exit mobile version